Wanita Senja

Suara hak sepatu tinggi yang beradu dengan lantai cafe ini sungguh kukenali. Wanita yang selalu datang tiap hari, sendirian, dua jam sebelum senja dihapus malam lah orangnya. Dia yang selalu memilih meja luar, tepat menghadap langit. Sepertinya ia tak pernah mau meninggalkan suasana kala senja. Baginya –mungkin– senja adalah pertunjukkan maha dahsyat yang rugi jika ditinggalkan. Sejak aku bekerja di cafe lantai lima ini –dua bulan lalu– aku selalu melihatnya. Bahkan, aku tahu pasti apa yang selalu ia pesan sebelum ia mengatakannya. Seperti halnya tempat duduk, minuman pesanannya tak pernah berubah.

Tak ada yang aneh dari wanita –yang kutafsirkan berumur 28 tahun– itu. Ia cantik, bahkan jika bibirnya tak diberi sapuan lipstik merah darah atau kelopak matanya tak disapu warna gelap pekat yang menambah kesan dramatis itu. Ia cantik alami. Hanya, mungkin jika aku punya kesempatan melihatnya lebih lama di sela-sela pekerjaanku, sering kutemukan sebingkai kesedihan yang sebenarnya bergelayut di parasnya yang sengaja ‘dicetak’ kuat itu. Satu-satunya yang mengganggu pikiranku adalah tas tangan yang dipakainya. Tak seperti sepatu dan –tentu saja– baju yang dikenakannya yang selalu tampak baru; tas tangan yang dikenakannya tak pernah ganti. Tas warna hitam mengkilap dengan aksen keemasan di bagian atasnya itu memang tampak mahal, tapi aku tidak melihat itu sebagai satu-satunya alasannya untuk terus memakainya tiap hari. Setidaknya dua bulan ini. Ah, kenapa aku jadi mengurusi sesuatu yang bukan kapasitasku. Mau dia ngga ganti baju –asal tetap bayar pesanan– juga sebenarnya bukan masalahku.

Wanita itu melambaikan tangan ke arahku. Lamunanku langsung buyar persis balon yang tetiba ditusuk jarum. Bergegas kuhampiri mejanya yang berjarak belasan langkah dari tempatku semula berdiri.

“Ada yang bisa saya bantu lagi?”

“Pesan yang seperti ini lagi, dan tolong asbak ini dibersihkan dulu”

Saat mengambil asbak yang penuh puntung rokoknya, kaki kananku tak sengaja menyenggol kursi di sampingnya, yang ia gunakan untuk tempat tas. Mengikuti reflek, mataku langsung mengarah ke tas tangan di kursi itu yang dibiarkan (atau mungkin tak sengaja) terbuka di bagian atasnya. Tanganku melayang hendak menyelamatkan isi tas dari kemungkinan berhamburan di lantai tapi tiba-tiba tangannya dengan gesit menepis tanganku. Rahangnya kaku, matanya tajam menatapku seolah-olah mengatakan, “Pergi! Lakukan saja tugasmu. Jangan sentuh barang mahalku!”

Bergegas aku meninggalkan wanita itu menuju dapur. Tapi pikiranku tak pernah tenang setelah kejadian itu. Jantungku bahkan berdetak lebih cepat, lebih keras dari yang kutahu. Dan demi Tuhan Yang Maha Segala, dari dalam tas hitam mengkilat yang tak pernah digantinya itu kulihat sepasang mata sembab mengedip kepadaku. Dua kali.

PIKNIK

: Fa dan Mu

Berkunjunglah sesekali
rumahku dibangun di dekat sawah di depannya ada pohon mangga tua di mana batangnya sudah banyak berbuah

Mari kita urai banyak percakapan sambil bersantap rujak bersama.

Dan bila langit beranjak merah, tunggulah di sini, di beranda mungilku berbatang-batang kangkung tumbuh di dekat sungai sudah siap aku petik seikat —Sementara aku memasak dapatkah kaucium harumnya : teracik wangi di wajan hitam?

Berkunjunglah sesekali,
sekadar bertemu habiskan hari di sini, aku punya banyak resep dan kau, pasti menyukainya.

ps : sajak dari Raf ( @opiloph ) untuk Mu ( @PramoeAga )  dan Fa ( @falafu )

Rahasia

Malam baru saja melaksanakan tugasnya saat aku melewati empat orang ibu muda duduk di beranda rumah nomer 4. Mereka terlihat asyik berbisik–kadang tergelak sambil menatap ke satu titik.

Sebenarnya, aku tak tahu apa yang ada di benak orang-orang di luar sana, yang gemar sekali menghakimi orang lain. Ini salah lah, itu keliru lah. Seolah-olah, mereka adalah Sang Maha Tahu. Manusia paling benar. Padahal, jika mungkin ditimbang amal kebaikan antara mereka, belum tentu si hakim dadakan itu menang.

Dinda, tetangga sebelahku–yang sedang diperhatikan mereka, sejak pindah ke kompleks ini sudah jadi bahan gunjingan siang-malam. Lagi-lagi aku tak mengerti mengapa ibu-ibu itu kerap kali menyimpulkan sesuatu dari sekedar kasak-kusuk yang mereka terima.

“Dia pasti bukan wanita baik-baik. Perhatikan saja, pulangnya selalu larut malam.” kata ibu berbaju biru sambil memilin acak rambutnya.

“Pasti dia simpanan bos-bos.” Seorang ibu berwajah bulat menimpali. Matanya jelalatan layaknya bola bekel melihat Dinda sedang entah apa di beranda.

Sebenarnya bukan hanya Dinda yang jadi korban gunjingan mereka. Salah seorang anak Pak Dasim, Dargo, tak luput dari mulut pedas mereka. Gara-garanya sepele, karena Dargo lebih sering mengajak teman prianya ke rumah ketimbang teman lawan jenisnya.

“Dia pasti homo. Lha itu, temennya cowok semua. Ndak pernah kelihatan temen ceweknya.”

Dan korban lain lagi..

“Sudah tahu kabar Rina, janda ujung jalan? Kabarnya dia hamil!”

“Dasar wanita murahan. Sudah ndak jelas kerjanya, eh ndak jelas juga bapak jabang bayinya..”

Korban selanjutnya..

“Pak Deny itu ternyata bapak kandungnya Sita, tukang cuci di rumahnya. Ckckck, dunia apa ini!”

Dan kabar-kabar antah-berantah lainnya. Aku tak pernah ambil pusing dengan semua ini sebenarnya. Hanya tak habis pikir dengan mereka. Apakah mereka mendapatkan gaji dari hasil menggunjing dan menghakimi sehingga mereka rajin melakukannya? Entahlah. Mungkin iya.

“Malam, ibu-ibu…” Basa-basi. Aku sebenarnya tak suka, tapi memang harus aku lakukan di lingkungan ini. Sekedar bersosialisasi kata, gumamku.

“Eh, Nak Erry. Baru pulang jam segini?” Ibu berdaster batik yang kukenali bernama Bu Helen itu menyambut sapaanku. Aku hanya tersenyum. Sekedar formalitas.

“Lembur terus pasti capek ya. Makanya, Nak, cepat cari istri. Biar ada yang ngurus” Ibu berbaju biru menimpali.

Cih! Tahu apa dia tentang hidupku?

Kupercepat langkah. Risih rasanya melihat tingkah mereka. Pintu depan kubuka dengan segera, lalu bergegas menguncinya dari dalam.

“Aku pulang..” kataku setengah berteriak.

Tak ada jawaban.

Kakiku mengarah ke ruang tengah. Ah, ia di sana ternyata. Aku tersenyum. Ia masih setia menungguku selarut ini. Sungguh setia.        Senyumku kembali tersungging. Sambil membelai pipinya, aku membayangkan apa yang ibu-ibu itu katakan kalau tahu aku serumah dengan Sita. Mungkin mereka akan menyemburkan kata-kata serapah. Atau, mengabsen dosa apa saja yang ada. Entahlah. Yang penting aku bahagia dan tidak merugikan orang lain. Aku tidak selingkuh, aku juga bukan pria seperti pria-pria yang sering mereka gunjingkan.

Ya, aku bahagia. Kebahagiaan yang selalu datang sesaat setelah tatapan kami melebur. Tatapan teduhnya mampu menghilangkan penat. Kuhela nafas panjang. Lalu, perlahan kudekatkan bibirku ke arah bibirnya. Kukulum pelan. Sita mengikuti ritmeku di dalam dunia yang mereka sebut cermin.

Namanya Gendis

Gadis itu masih kecil, usianya kira-kira baru tujuh tahun. Rambutnya ikal panjang kecoklatan yang diikat seadanya. Sudah beberapa kali dalam seminggu ini aku sering melihatnya di sekitar kompleks tempatku tinggal. Lebih tepatnya lagi, aku sering melihatnya tak jauh dari tempat penampungan sampah kompleks kami. Awalnya, kukira ia adalah anak pencari botol-botol plastik untuk dikumpulkan lalu dijual di pasar. Tapi aku ragu, ia tak pernah membawa karung seperti halnya pemulung lainnya. Tangan kanannya malah menggenggam boneka kelinci yang entah berwarna apa sebelumnya.

Alih-alih membuang sampah, kudekati gadis itu. Ia tampak sedikit ketakutan. Kakinya mundur dua langkah. Boneka kelinci digenggamnya lebih erat. Aku menatapnya, mencoba memberikan wajah ramah agar ia merasa nyaman. Tas kresek hitam berisi sampah kuletakkan di mulut bak penampungan sampah. Lalu, aku berjalan ke arahnya.

“Namamu  siapa, Nduk?” tanyaku pelan.

Gadis itu menunduk. Matanya lebih memilih menatap jari-jari kakinya yang terbungkus sandal jepit berukuran dua kali lebih besar dari kakinya. “Gendis..” jawabnya lirih, nyaris tak terdengar.

“Gendis? Nama yang bagus. Manis seperti artinya, gula.”

Gadis itu masih tertunduk. Tangannya sibuk meremas-remas perut boneka kelincinya, sementara kaki kecilnya bergerak naik-turun. Entah apa artinya.

“Kamu mencari siapa?” Aku kembali bertanya. Mencoba membuat suasana cair, kurogoh saku celanaku. Aku ingat masih menyimpan satu permen coklat di sana. Kusodorkan ke arah Gendis. Awalnya ia terlihat ragu-ragu menerima. Sesaat mata kecilnya melirik ke arahku. Anggukanku meyakinkannya bahwa permen itu memang untuk dia. Gendis mengusap-usap telapak tangannya ke baju kumal yang dipakainya sebelum mengambil permen coklat dari tanganku.

“Jadi, kamu di sini mencari siapa?” Kuulangi lagi pertanyaanku.

“Aku mau ketemu ibu..” jawabnya polos. Mulutnya masih penuh permen coklat.

“Ibumu tinggal di sini?”

Gendis menggeleng. “Aku ndak tahu, Mas. Aku Cuma disuruh ke sini kalau mau ketemu ibu.”

Dahiku berkerut. Bingung.

“Lalu, siapa yang menyuruhmu ke sini?”

“Kata orang-orang, aku bukan anaknya Mbok Darmi. Dia cuma merawat aja.” Tangan mungil itu mengusap mulut dengan punggung tangannya sebelum melanjutkan cerita. “Mbok Darmi mimpi dapat ular. Paginya dia nemu aku di situ.”

“Di situ? Di mana maksudnya?” Aku semakin penasaran dengan penjelasan Gendis. Selama tiga tahun tinggal di kompleks ini, belum pernah sekalipun aku mendengar berita aneh tentang daerahku.

“Di situ. Di dekat bak yang besar itu.” Telunjuk kanan Gendis mengarah ke bak penampungan sampah berukuran satu kali dua meter  di belakangku. “Kata orang-orang itu, ibuku orang sibuk. Dia ninggalin aku di situ karena banyak kerjaan. Untung ada Mbok Darmi.”

Aku menatap Gendis lekat. Wajah polos itu mungkin belum sepenuhnya mengerti apa yang diucapkannya. Sementara aku yang mendengarnya, hanya bisa diam. Terenyuh.

“Kata orang-orang, kalau aku pengen ketemu ibu, aku harus rajin ke sini. Siapa tahu ibu sudah ndak sibuk trus balik ke sini lagi,”

Hening.

Siang ini waktu terasa berjalan lambat. Selambat air yang perlahan mengalir dari ujung mataku.

Percakapan Dengan Cermin

(-)  Kamu mencintainya?
(+)  Sangat
(-)  Apa yang membuatmu mencintainya?
(+)  Dia yang menjadikanku lebih baik
(-)  Kau rela berkorban demi dia?
(+)  Aku hanya melakukan apa yang aku lakukan. Terserah orang memberi label apa.
(-)  Meskipun kau sering terluka?
(+)  Hubungan cinta tak selalu manis. Kita tahu itu. Luka, air mata dan kecewa akan membuatnya dewasa.
(+)  Cinta membuat kita berjalan dengan berbagai pengharapan, angan-angan indah. Itu yang sering mengecewakan.
(-)  Lalu?
(+)  Kita sering terlena dengan itu tanpa sadar bahwa cinta juga punya sisi lain.
(-)  Baiklah..
(-)  Apakah kau merindukannya sekarang?
(+)  Setiap saat
(-)  Sudahkah kau sampaikan?
(+)  Tentu
(-)  Apa tanggapannya?
(+)  Tak terlalu penting itu karena cinta hanya memberi. Kita tak perlu menerima balasan untuk apa yang kita beri.
(-)  Maksudnya?
(+)  Dia akan menyampaikan padaku apa yang ia rasa, bukan karena perlu membalasnya.
(-)  I see..
(-)  Kamu bahagia?
(+)  Tak ada yang lebih membahagiakan dari cinta yang menuju kebaikan.
(-) Sampaikan salamku untuknya. Dia beruntung mempunyaimu.
(+) Aku yang beruntung dipertemukan dengannya..
(-) *senyum* Kalian beruntung saling menemukan.
(+) Ya!

Sebuah Doa Pendek Dini Hari

Tuhan akan mengabulkan semua doamu. Itu yang sering kita dengar. Benarkah?

Di satu pagi, saat orang-orang terlelap di balik selimut hangatnya, saat ayam jago bahkan belum berniat berkokok; aku terjaga. Terhuyung pelan membuka blackberry yang berkedip –tampak menyolok di kamar yang gelap. Ternyata puluhan notifikasi menunggu dibaca. Setengah sadar, kucoba mengingat apa yang kulewatkan. Ah! Hari sudah bergeser ternyata. Usia bertambah setiap detik, dan aku baru sadar telah digenapi tepat tengah malam tadi.

Bahagia? Pasti. Tapi ada perasaan lain yang mendominasi. Berusaha menetralkan, kuambil air wudhu. Mengucap syukur dan berbincang dengan-Nya adalah pilihan pertama.

Ada doa pendek yang kusertakan dalam rangkaian doa-tak-tahu-diri-ku.

“Tuhan, kalau Engkau baik, aku ingin dia ada di sini menemaniku. Hari ini saja”

Aku tahu semesta mengamini. Tuhan tahu aku bersungguh-sungguh. Lalu, apakah doaku hari ini terkabul? Tidak. Jadi, apakah

Continue Reading

Sajak Merpati

image

seekor merpati terbang merendah
siapakah pita hitam di dadanya merah?
sementara sebingkis pelukan kian berati sayapnya patah

Nb : sebuah kolaborasi antara @PramoeAga (ilustrasi) dan @moehyie (sajak)

Peluk

Sudahkah pagi ini kau memberikan dirimu sebuah pelukan hangat seperti yang kau suguhkan untuk temanmu yang membutuhkan kenyamanan?
Berikan sesekali pada dirimu, Kawan. Biarkan ia merasa nyaman terbenam dalam bahu yang senyaman bantal.

Pelukan, bukan hanya sekedar menciptakan kehangatan. Ia juga melahirkan hal-hal bahagia lain yang mungkin belum bernama. Tutup matamu lalu rasakan. Kemudian aku akan memintamu ikut bermain denganku, memberi nama riak-riak bahagia yang tercipta.

Writers Block: Sebuah tip sederhana mengatasinya.

Mengingat-ingat “ngeblog sejak kapan” itu gak penting, yang penting adalah “kapan terakhir update”

~ @bloggerTPC

Sebuah twit men-jleb-kan pikiran saya pagi ini. Saya tersadar, sebagai penguna blog –masih malu disebut blogger– saya merasa ‘tersindir’. Diakui, saya belum rajin update blog. Seringkali saya menyalahkan aktivitas kantor sebagai penyebabnya. Kurang bijak memang, toh tulisan ini saya buat juga di sela-sela jam kantor. Jadi, kurang tepat kalau menyalahkan hal itu. Lalu, siapakah yang harus disalahkan kalau begitu? Sebelumnya, saya akan mengganti kata ‘menyalahkan’. Sepertinya kata itu terlalu menghakimi dan memojokkan. Saya pakai kata ‘mengubah’ saja. Memang beda artiannya, tapi untuk hal ini memang kita perlu mengubah mindset. Sebagai penulis blog part time, kita memang tidak bisa memaksakan diri untuk menulis di saat jam kerja. Yang jadi masalah adalah, jika kita juga tak punya waktu untuk update di luar jam kerja. Benar-benar tak sempat, atau hanya malas-karena-capek-habis-kerja saja? Yang sering terjadi dalam diri saya adalah poin kedua.

Bagaimana mengatasinya? Kembali ke diri masing-masing. Tapi kalau masalahnya adalah WRITER’S BLOCK, saya ingin berbagi tip.

Biasanya saat penyakit menulis itu menyerang, saya tidak akan memaksakan untuk menulis. Biarkan saja, tapi jangan terlena. Di saat kita istirahat untuk menulis, gunakan waktu untuk banyak membaca. Menjadi laparlah pada buku. Hal ini baik untuk mengembangkan ide, kreatifitas dan juga ‘isi’ tulisan kita nanti. Selain membaca, bisa juga menggunakan waktu untuk ngobrol. Bisa dengan siapa saja. Teman sosmed, teman kantor, orang yang duduk di samping kita saat di angkot, siapapun! Sebuah obrolan selalu melibatkan lebih dari satu orang. Hal ini selain membuka wawasan, juga bisa tahu sudut pandang orang lain terhadap suatu masalah.

Dan satu lagi. Saat si writer’s block itu sudah lenyap tapi kita masih belum punya waktu untuk menulis sedangkan ide sudah menari-nari di dalam benak? Segera tangkap

,

jangan ditunda. Tulis di memo, note atau apapun yang ada di ponsel. Bisa juga gunakan kertas. Yang penting adalah, jangan pernah membiarkan ide yang muncul menguap sia-sia.

Oke, temans. Writer’s block tidak bisa dihindari, tapi kita punya cara untuk menanggulangi. #tsah

Selamat menulis, semua!

:)

Kita, si Pemilik Dunia Imajinasi

image

Seorang anak lelaki kecil menggoreskan krayon biru, disusul merah lalu coklat. Di luar, anak-anak sebayanya bermain lari-larian.

Dear kalian, krayon dan kertas gambar. Lama tak menjumpai kalian bergabung di hari-hariku. Maafkan aku, sudah sangat lama tidak mengajak bermain–yang kuingat terakhir saat SMA, Ya Tuhan! Sudah lama juga tanganku tidak kotor karena warna krayon. Masa itu, sungguh menyenangkan. Di saat teman-teman sebayaku bermain sepeda, aku lebih memilih menggambar anjing astronot dan bermain bersamanya. Saat mereka beramai-ramai mengejar layang-layang putus, aku lebih memilih menciptakan Negeri Serangga di kertas gambarku dan terbang bersama Ksatria Kepik. Kasihan? Tidak juga. Aku masih bermain dengan teman-temanku sesekali. Menangkap ikan kecil di selokan, atau sekedar bermain kasti dan petak umpet. Tapi jujur, aku lebih menyukai menghabiskan waktu soreku bersama kalian. Bahkan, saat belajar pun aku masih sempat menemui kalian. Yah, sekedar menuangkan imajinasiku tentang Pegasus. Sssttttt, jangan bilang Bapak ya. Beliau bisa marah kalau tahu aku mencuri waktu belajar untuk menggambar. Janji?

Krayon dan kertas gambar yang kurindukan, sekali lagi aku minta maaf karena sekarang tak punya banyak waktu bermain dengan kalian. Salahku. Alih-alih mulai beranjak remaja dan mendapatkan petualangan seru ketimbang imajinasi Drumband Semut Dari Istana Tanah, aku mulai menghabiskan waktu bersama teman-teman ABGku. Bermain game dingdong, naik motor keliling ringroad, atau sekedar nongkrong di mal. Jujur kuakui, aku sejenak mengabaikan kalian.

Wahai kalian cinta pertamaku, terimakasih telah menjadi teman kecilku yang setia (bahkan sampai saat ini). Menjadi teman yang tak pernah meninggalkan meskipun aku sempat berpaling. Menjadi rekan yang paling tahu seperti apa wujud Alibaba di kepalaku. Menjadi warna yang tak sekedar tertuang di dalam kertas, tapi juga dalam petualangan masa kecil.

Dear kalian, akhir-akhir ini aku mulai menyempatkan bermain lagi bersama kalian. Bukan, bukan hanya rasa bersalah dan rindu yang membuncah; tapi juga karena aku rindu dunia imajinasi yang tertuang dalam gambar. Dunia yang hanya kita –aku, krayon dan kertas gambar– yang tahu.

Salam gores,
MUMU