Search

Pramoe Aga

every step has its own story

Mengubah Pola

Sulit untuk mengubah sebuah kebiasaan menjadi ketiadaan. Seperti halnya sapaan pagi dan obrolan tak penting di sepanjang waktu senggang. Sulit, bukan berarti tak bisa. Hanya belum terbiasa.

formation_of_emptiness_by_lora_zombie-d9xa7w2
Enthttp://lora-zombie.deviantart.com/art/Formation-of-emptiness-600099698er a caption

Memang perlu waktu untuk mengubah pola, menghampakan waktu dan meniadakan dirimu. Melepas kebiasaan menatap layar ponsel sambil tersenyum dan bertukar cerita. Merelakan banyak waktu menjadi lapang karena tak perlu lagi menunggumu memoles gincu, meratakan bedak dan mengenakan baju terbaikmu untuk kuajak melewati malam. Mengikhlaskan genggaman tangan yang tak lagi rapat, karena hanya ada udara.

Semua akan baik-baik saja, hanya belum terbiasa. Kau akan segera kembali tersenyum di sana, dan aku akan menutup buku dengan kita sebagai pemeran utama.

Perihal Maaf dan Memaafkan


Masih di bulan Syawal, ucapan maaf dan memaafkan masih sering kita terima. Tampak mudah ya, tinggal, “maafin gue ya..” atau “sori ya bro, kalo ada salah-salah kemarin”. Meminta maaf –walaupun untuk sebagian orang menjadi hal yang susah– mungkin lebih mudah daripada memaafkan. Kenapa? Mungkin kita masih harus lebih banyak belajar ilmu ikhlas untuk bisa menjawab. 

Memaafkan diri sendiri, termasuk dalam hal yang disadari atau tidak,  terkadang susah dilakukan. Dampaknya juga tak pernah disadari. Susah move on, salah satunya. Kenapa susah untuk memaafkan diri sendiri? Karena kita selalu ‘menyepelekan’ diri sendiri. Alih-alih membuat janji atau wacana sendiri, tapi dipatahkan hanya karena “alahh gampang lah besok aja gapapa”. Kita lebih merasa tak enak jika hal-hal yang direncanakan –dan batal– berkaitan dengan orang lain. Takut si teman marah lah, takut ini dan takut itu. Sedangkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan diri sendiri, kita dengan mudahnya melanggar. Mungkin kita hanya perlu membiasakan bahwa diri kita juga butuh apresiasi. Memberikan hadiah kecil untuk pencapaian tertentu, misalnya. Atau yang masih hangat; memaafkan diri sendiri atas khilaf atau target yang tak tercapai. Atas tindakan di luar kontrol yang menyebabkan orang lain kecewa, atau atas hal-hal kecil yang membuat diri sendiri merasa gagal. 
Kalau bisa memaafkan kesalahan orang lain, harusnya kita bisa memaafkan diri sendiri. Karena sesuatu harusnya berawal dari kita, kan?

Perayaan Tahunan

Jika kau merasa ada sedikit semilir kesedihan di hari ulang tahunmu, mungkin bisa dikatakan bahwa kau sudah menginjak dewasa. Atau lewat dewasa.
Kesedihan yang terselip di antara bahagia dan syukur karena masih diberi kesempatan di dunia, tentu bukan rasa tak menyukai, atau benci. Di usiamu yang makin matang, pertambahan usia lebih banyak tentang bertambahnya tanggung jawab. Otakmu akan serta merta –mau tak mau– memutarkan slideshow di kepalamu. Tentang apa saja yang telah kau perbuat selama ini, tentang pencapaian apa saja dan hal-hal lain yang membuatmu merasa masih ‘kosong’. Isi kepala tak lagi tentang kado apa yang akan diterima, tema perayaan apa tahun ini atau siapa saja yang diundang. Semuanya menguar begitu saja.

Tapi, tentu saja. Di sela-sela kesedihan yang terselip, tetap rayakan kebahagiaanmu. Jangan lupa undang dirimu sendiri untuk berpesta. Rayakan dengan rasa syukur dan semangat muda. Kenapa? Karena semangat muda membuatmu lebih bertenaga untuk mencapai sisa wacana. 

Selamat berusia baru

23 April

Cinta tanpa pengorbanan adalah mustahil.

img_6085
Enter a caption

Termasuk, mengorbankan senyum ketika ada jeda. Saat di mana  hanya ada angin dingin semilir di sela-sela rongga dada yang membuatnya sesak. Saat dingin udara selepas hujan menjadi berkali lipat karena tak adanya pelukan.

Aku percaya cinta yang kita bangun tak biasa-biasa saja. Cinta yang tak melulu melahirkan bahagia dan tawa, tapi juga mengenalkan kita pada rasa sakit, kecewa, marah dan takut kehilangan.

 

Semua rasa yang saling melengkapi membuat cinta semakin dewasa. Cinta yang menguatkan

Jadi, jangan salahkan apapun jika kita sedang melewati rasa sakit. Untuk menjadi kuat, ujian harus dilalui. Kau tak pernah tahu seberapa kekuatanmu jika tak ma(mp)u meghadapi rintangan, bukan? Air mata, sesak dada dan nyeri sakit adalah pasangan dari rasa sayang, senyuman dan bahagia. Kita tak bisa melewatkan salah satunya hanya dengan memilih yang kita suka.

Cinta juga lah yang akan menemukan jalan kembali. Ia akan menuntunmu pada setapak menuju kebaikan, menujuku atau bahkan menuju seseorang yang digariskan Tuhan untukmu. Untuk hal ini, kita hanya bisa berpasrah.

Dear A, kita akan bertemu kembali nanti. Sebelumnya, sementara lengan tak mampu merangkul luka, biar doa-doa kita yang bicara.

Untitled

Dear A,

Kali ini, kau akan kuajak berhitung sebentar. Sebuah mata pelajaran yang tak asing untuk kita berdua. Ada seribu empat ratus empat puluh menit dalam sehari. Kau bisa kalikan dengan apapun –bisa jumlah bintang di langit yang bergantung setiap malam menjalang tidur, atau jumlah detakan jantung setiap detik. Kau bisa lakukan semuanya untuk mendapatkan hasil sejumlah angka yang berderet panjang untuk sekadar menemukan jawaban sederhana : aku merindukanmu sebanyak itu dalam satu tarikan nafas. 

Beberapa kali aku terlalu lemah untuk menahan untuk tidak mengatakannya. Sejumlah yang sampai padamu, belum ada lima persen dari keseluruhan. Dan, sejumlah itu pula lah yang telah membuatmu jengah. 

Sudah rindu lagi?” Katamu suatu waktu.

Iya.

 Akulah lelaki yang lemah oleh rindu. Lelaki yang selalu merindumu, bahkan saat punggungmu belum lepas dari mataku.

humsafar

Dear A,

 

 

Sejak semakin mengenalmu, aku makin memantapkan diri untuk mengajakmu berpetualang. Mengajakmu menjelajah jalan-jalan asing maupun gang-gang yang tak terbaca di peta. Jalan yang tak akan selamanya lurus dan mulus. Ada lubang, persimpangan, tanjakan, dan terpaan cuaca selama perjalanan.

Genggam tanganku, tak perlu terlalu erat. Kita bisa saling melepaskan jika memang waktunya istirahat. Sesekali jalan bersimpangan, agar tahu merdunya teriakan panggilan, agar paham indahnya kebersamaan, dan agar sadar nyerinya rindu yang menggelegar.

tumblr_nbyotto2ro1qhttpto5_500

http://theartofanimation.tumblr.com

 

Jeda, tetap dibutuhkan untuk semua pasangan. Kau tentu ingin berkembang, dan aku tak berhak mengekang. Jika nanti di jalan kau ingin memetik bunga atau membeli buah, silakan –sejauh itu tak merugikan.

Aku tak bisa menjanjikan peluk untuk selalu ada, juga bahuku tak selamanya tersedia. Bukan, bukan karena berkurangnya rasa sayang; tapi justru untuk lebih menguatkan. Kau tak perlu risau. Sejauh masih satu tujuan, doa kita pasti akan saling menguatkan.

 

 

 

salam.

 

*humsafar

Kepada Diam

Bukan kata-katamu yang menyakitkan, tapi justru diammu yang membunuhku perlahan.

Saat surat ini sampai di tanganmu, mungkin aku sudah sekarat. Terbunuh olah ketiadaan kabarmu, kehampaan malam yang semakin panjang tanpa senyum yang biasa mengantarku tidur, tanpa ucapan selamat pagi serupa sarapan penambah energi.

Jarak sesungguhnya dari sebuah hubungan adalah diam; bukan benua, bukan semesta. Kita adalah dua manusia yang diciptakan untuk menguatkan, bukan melemahkan dengan mendiamkan.fullsizerender

Kemarilah. Kita bicara seperti biasa, lipat jarak yang ada dan semua akan baik-baik saja.

Dua Cangkir Kopi Dingin

Hati-hati berurusan dengan api. Biarpun sepercik, ia bisa membakar habis. Tak terkecuali. Seperti rencana pernikahanku yang hangus tak bersisa. Semuanya bermula dari malam itu.

Autosave-File vom d-lab2/3 der AgfaPhoto GmbH
image from google

***

 

Sore baru saja menggantikan tugas siang saat aku tiba di rumah Hera, calon istriku. Meskipun begitu, udara yang terasa masih sangat kering. Hera beberapa kali mengipaskan majalah ke arah wajahnya. Meskipun penyejuk udara telah diset pada posisi dingin, tapi tetap saja udara masih terasa panas. Hari ini kami berencara memastikan berapa banyak undangan yang harus disebar sebelum nanti dicetak. Aku mengecek lagi nama-nama orang yang ada di daftar. Memastikan bahwa kolega Papa sudah ada di situ, juga rekan bisnis ayah Hera dan teman kegiatan sosial Mami tak juga tertinggal. Sementara itu Hera sibuk mengingat-ingat siapa saja teman sekolahnya yang masih belum dimasukkan ke dalam daftar.

“Cukup segini, jangan ditambah lagi,” Aku membujuknya untuk lebih selektif lagi memilih calon undangan. Bukan apa-apa, tapi aku memang ingin hanya teman-teman yang benar-benar dekat dan keluarga saja yang hadir.

“Tapi Mas, aku nggak enak kalau nggak undang teman SMP. Nambah lima, boleh?” Ia mulai merajuk.

“Lima? Sebelumnya kamu meminta tambahan empat untuk teman SMA, Sayang,” aku menoleh ke arahnya. Hera meringis. “Cukup ya. Kita masih perlu menyortir nama-nama yang ada di daftar ini. Jangan tambah lagi. Please..,” Hera manyun. Bibir mungilnya mengatup dan memebentuk moncong kecil. Aku tergelak. Rambut lurusnya kuacak gemas.

Sore itu aku mampir ke rumah Hera setelah setengah hari tadi berburu souvenir. Hera menginginkan sesuatu yang unik dan tradisional. Lima toko souvenir kami sambangi tapi ia belum memutuskan di mana akan membeli. Bingung. Lucu semua. Begitu alasannya.

“Pengennya seperti apa?” Aku mulai bingung.

“Yang lucu pokoknya,” Hera menjawab tanpa mendeskripsikan kata lucu. Apa yang dimaksud lucu? Yang bisa membuat tertawa? Aku menggaruk kepala yang tak gatal.

“Ini?” Aku menyodorkan sebuah gantungan kunci berbentuk gajah dari tempurung kelapa.

“Ah, bukan. Pasaran. Kurang lucu,” Lagi-lagi ia menggunakan kata yang aku tak mengerti deskripsinya. “Aku ingin, emmm…., sendok teh yang ada ukirannya gitu. Unik, kan?”

“Dari tembaga? Atau perak? Kalau iya, kita pindah tempat saja. Di sini tak menjual kerajinan seperti itu,”

“Kita cari di sini dulu lah. Siapa tahu ada yang bahannya kayu atau apa kek gitu. Yang penting lucu,

Lucu, lagi. Bleh.

Hampir dua tahun ini aku mengenal dekat Hera. Bermula dari sebuah acara peluncuran buku seorang teman, dari situ aku mengenalnya. Dia adalah gadis yang mudah sekali diingat. Pembawaannya yang riang dan parasnya yang manis menjadi nilai lebih. Tak susah untuk akrab dengannya. Buatku, lebih susah mengontrol rasa cemburu. Sejak kami belum memutuskan untuk menjalin hubungan, cemburu sudah beberapa kali hinggap di dadaku. Keramahannya dan pembawaannya yang supel membuatku harus lebih mengandalkan akal sehat. Kalau tidak, rasa-rasanya aku bisa mati kaku sambil melotot.

Kusodorkan daftar calon undangan ke arah Hera. “Aku sudah mencoret enam nama. Kita masih butuh empat lagi yang dihapus,”

Wajah Hera tampak keberatan. Aku bergeming. Hera mengambil kertas daftar dari tanganku, matanya pasrah memilah dan memilih.

BIPP!!

Ponselku berbunyi. Satu pesan whatsapp kubuka. Dari Choky, sahabatku saat kuliah dulu.

Bay, jangan lupa ntar malem ketemuan di Cozy Coffee. Jansen udah bilang kan sama lo? Gue Cuma ngingetin aja.

Kami bertiga memang bersahabat sejak awal kuliah. Kalau dihitung-hitung, mungkin tahun ini masuk tahun kedelapan persahabatan kami. Lumayan lama. Meskipun sudah jarang bertemu dan menghabiskan waktu bersama, kami selalu menyempatkan diri ngopi malam hari dua-tiga kali sebulan. Tergantung waktu dan kondisi bertiga.

 

***

 

Remote TV kubuang ke samping tubuhku. Acara siang ini tak ada yang menarik perhatianku. Berita tentang korupsi masih menjadi topik utama, sejajar dengan berita artis selingkuh dan narkoba. Nggak ada berita yang lebih bagus, apa? Hidup udah terlalu ruwet untuk mendengar keruwetan. Aku menggerutu. Rambut sebahu kuangkat ke atas, kuikat sekenanya dengan karet. Kuraih ponsel di atas meja rias, kubaca pesan-pesan yang masuk. Aku ingin memastikan kalau malam ini bebas janji dengan siapapun. Malam ini aku ingin ke kafe, menghabiskan waktu mendengarkan alunan musik jazz. Selasa malam saatnya The Maliq, band beraliran jazz kesukaanku manggung di sana.

Tit…tit..

Ponselku berbunyi. Kulihat nama yang muncul di layar; Malinka. Ah, ada apa lagi nih. Jangan-jangan aku diminta masuk kerja malam ini. Malinka adalah teman kerjaku. Ia jarang menelpon untuk urusan pribadi. Biasanya tentang kerjaan. Setengah hati kupencet tombol kuning di ponselku.

“Ya?”

Aku malas berbasa-basi dengan kata ‘halo’.

“Say, Sabtu depan lo free kan?” Suara Malinka langsung menyesak masuk telinga.

“Belum tahu sih, ada apa?”

“Ada bachelor party. Lo yang maju aja ya. Gue ada kencan. Lisa lagi dapet,”

“Yang lain?” Aku mencoba memberinya alternatif dengan menyebutkan nama-nama teman lainnya. Percuma, Malinka menolak. Ia beralasan bahwa yang akan menyewa mereka maunya penari senior. Senior? Aku? Jelas ini hanya alasan Malinka saja untuk memberiku pekerjaan tambahan. Aku belum bisa dikatakan senior bekerja di Seven Sins, sebuah klab malam di daerah kota.

Baru tujuh bulan aku bergabung menjadi striper di klab malam itu. dengan modal bakat menari sejak kecil membuatku semakin luwes melenggokkan tubuh. Mungkin itu juga yang membuatku langsung diterima sebagai striper. Kata Malinka, aku punya bakat alam. Sesuatu yang tak perlu susah payah dilatih. Tubuhku dan elemen di dalamnya seolah sudah bisa meliuk-liuk mengikuti tempo tiap kali merasakan musik mengalun. Entah itu tradisional ataupun modern.

 

***

 

“Jadi, lo beneran mau nikah?” Pertanyaan tanpa basa-basi langsung dilontarkan Jensen sesaat setelah kami mendaratkan pantat di kursi kafe.

“Kampret. Apa-apaan pertanyaan lo,” Aku tergelak. Korek api di atas meja berpindah cepat ke wajah Jensen.

“Bokin lo nggak hamil, kan?” Choky menambahkan. Matanya penuh selidik.

“Waahh, jadi gue diajak ketemuan cuma mau diinterograsi, nih?”

Jensen dan Choky terbahak. Mereka terlihat puas menggodaku. Jensen menyodorkan buku menu ke arahku. “Udah, milih dulu gih. Keburu laper,”

“Jensen punya kejutan buat lo..,” Choky berkomentar sambil terus memilih menu. Sesekali tangannya menulis sesuatu di kertas yang disodorkan waitress.

Apa-apaan ini? Kejutan di hari biasa lebih mencurigakan dibandingkan saat ada momen. Aku melirik Jansen, berharap ia bisa menjelaskan kalimat Choky tadi.

“Iya, gue punya kejutan. Dua,” Jansen menyerahkan kertas ke waitress. Menunggu sejenak setelah waitress itu meninggalkan mereka lalu melanjutkan, “Pertama. Dua minggu lagi gue harus ke Jerman. Ada riset yang harus dikerjakan,” Jensen berhenti sejenak karena aku menyelanya untuk mengucapkan selamat.

“Masih ada satu lagi. Gue nggak janji bisa datang ke pernikahan lo besok. So sorry. Tapi, sebagai gantinya Sabtu depan gue mau kita have fun sebelum lo jadi pengantin!”

‘Pesta bujang yipiiii..,” Choky mengepalkan tangannya. Semangat sekali dia.

Ada perasaan kecewa mendengar alasan kedua Jansen, tapi kebingungan lebih mendominasi. Choky yang tampaknya sudah mengetahui kabar ini lalu menjelaskan padaku. Jansen telah merencanakan bachelor party buatku. Ia akan undang tiga teman kuliah kami lainnya dan  apa yang diperlukan sudah dipesannya. Ruang private di klab malam dan seorang stripper.

“Gila lo. Serius ini?” Susah memercayai rencana yang disusun Jansen. Seumur-umur aku belum pernah melihat tarian striptis, apalagi diadakan secara tertutup. Bakal menjadi pengalaman yang penuh adrenalin.

Kafe ini tak begitu ramai. Mungkin karena bukan akhir pekan. Suasananya yang menyenangkan membuat kami sering menjadikan tempat ini sebagai meeting point. Ditambah alunan musik jazz dari band yang tampil di sini menambah nyaman suasana. Satu per satu pengunjung silih berganti datang. Beberapa pasangan memilih tempat duduk di pojok, atau di lantai dua yang lebih romantis. Anak-anak muda penikmat jazz bergerombol di meja paling besar. Mereka memang sering terlihat jika band ini manggung di sini —juga tempat lain. Kurasa mereka fans sejati. Seorang wanita muda melintas di samping mejaku. Sosoknya biasa saja sebetulnya, tak juga menyolok dibandingkan pengunjung kafe lainnya. Rambut panjangnya diurai menyamping, menyembulkan sesuatu di tengkuknya. Sebuah tatto bergambar peri dengan pisau besar menusuk dada bertengger di sana. Pilihan gambar yang unik untuk sebuah tatto. Wanita itu memilih duduk di pojok, sendirian. Mungkin teman atau kekasihnya akan menyusul nanti. Mungkin. Rambutnya yang semula tergerai diikatnya ke atas. Sepertinya ia ingin memperlihatkan keberadaan si peri.

 

***

 

Cozy Coffee, Menjelang Malam.

 

Aku menyukai Selasa malam di sini. Tenang dan tak banyak pengunjung —selain fans setia band jazz itu. Bandingkan dengan Sabtu atau Minggu malam. Pengunjung yang datang bisa tiga kali lipat. Apalagi kalau ada nonton bareng pertandingan bola. Jangan ditanya, suasana dua pasar yang digabung bisa pindah di sini.

Aku melewati beberapa meja dengan kelompok orang. Meskipun tampak ramai tapi suasananya tetap tenang. Aku percaya, penyuka jenis musik ini lebih kalem meikmati suasana dibandingkan dengan penyuka sepakbola yang sengaja menonton pertandingan di sini, misalnya. Aku memilih meja di sebelah pojok. Nyaman untukku yang tak mengajak siapapun ke sini. Posisi meja ini tak terlalu menonjol seperti kalau kupilih meja di tengah yang langsung menghadap panggung. Aku masih bisa menikmati musik dan sesekali mengamati pengunjung jika mau. Aman.

Secangkir kopi kental pesananku telah datang. Warnanya yang kelam dan rasanya yang pahit mempu membuat pikiranku rileks. Kutambahkan satu sendok gula dan mulai mengaduknya. Pusaran air berwarna pekat itu terus berputar. Seperti mesin waktu yang membawa ke dimensi entah, lambat laun pikiranku tenggelam. Makin lama makin dalam. Dan aku tak melihat ada dasar di ujung manapun.

Tiba-tiba aku teringat kejadian sebelas bulan lalu. Sebuah kenangan yang sungguh mengubah hidupku. Rolan, kekasihku kala itu — kusebut ia Bajingan sekarang— raib setelah apa yang telah kami persiapkan bersama. Pernikahan. Satu setengah tahun kami menjadi kekasih. Dan pernikahan yang direncanakan adalah muara perjalanan ini. Tentu, itu bukan akhir perjalanan. Pernikahan adalah awal kami melakukan perjalanan lain, sebagai satu jiwa dalam dua raga. Gedung telah disiapkan. Katering dan baju pengantin sudah dipesan. Kabar, —walaupun belum resmi—sudah didengar sebagian orang. “Eh, denger-denger lo mau nikah?”, “Beneran nih kabar yang beredar?” adalah beberapa celetukan ringan dari teman-teman saat mereka bertemu denganku. Rencana yang telah siap delapan puluh persen itu terpaksa bubar karena ia, bajingan itu, hilang. Tiba-tiba ponselnya tak bisa dihubungi. Rumah kontrakan yang selama ini ditinggali sepi. Aku yang tak memiliki kunci cadangan berusaha mencari kabar dari tetangga di depan kontrakannya. Jawabannya bisa diprediksi. Ia –tetangga itu, melalui pembantunya—tak juga bisa memberikan informasi apapun. “Setahu saya rumah itu selalu sepi sih, Mbak. Jadi kalau ternyata kosong ya saya ndak gitu tahu,”

Seminggu penuh aku mencari kabarnya. Dibantu adik sepupu dan kakak laki-lakiku, kami melacak rumah saudara yang pernah kutahu. Bukan alamat lengkap memang, hanya semacam penggalan-penggalan cerita bahwa ia punya saudara di sana, paman di sini, bla-bla-bla. Berbekal dari sesuatu yang tak pasti itu bisa dipastikan bahwa hasil yang didapat pun nihil. Aku pasrah. Jangan kau tanya bagaimana perasaanku saat itu. Jika kau bisa membayangkan sebuah sumur dengan kedalaman tak terhingga lalu kau meloncat ke dalamnya. Rasakan saat udara di dasar sumur itu mengisapmu erat. Seluruh kebahagiaan, bahkan sampai ke anak-pinaknya tak dibiarkannya tersisa. Jantungmu terasa melorot jauh dari tempatnya berada. Hatimu? Kau bahkan tak mengira bahwa pernah memilikinya. Semuanya itu kurasakan dalam satu waktu.

Menyepi. Menyendiri. Itulah yang kulakukan kemudian. Aku mengemasi barang-barangku dari rumah di Solo, untuk liburan ke Sabang. Kebetulan ada kerabat jauhku yang memiliki bisnis resort di sana. Dua bulan penuh aku meninggalkan ingar bingar kota. Menikmati kota kecil di sebuah pulau yang tentram. Sesekali membantu kerabat menjalankan bisnisnya. Menikmati pantai yang kuanggap sebagai pecahan surga. Iboih, Sumur Tiga, Gapang sudah menjadi tempat wajib pelarianku. Sekarang, aku sudah siap kembali lagi. Kali ini Jakarta yang menjadi pilihanku. Pekerjaan di Solo sebagai marketing di klinik kecantikan kutinggalkan. Di sini, aku siap menjadi seseorang yang baru. Aku yang dulu, yang terkhianati cinta, tak akan kau temukan lagi. Kubawa segenggam dendam masa lalu untuk mengubahku bangkit menjadi aku yang sekarang. Baru seminggu di sini —berkat seorang kenalan di cafe yang merekomendasikan klab itu, akupun resmi bergabung.

Selalu ada kekhawatiran dan keragu-raguan di setiap langkah pertama yang diambil. Begitu pun denganku. Malam pertamaku menjadi seorang striper kulalui dengan dada yang bergemuruh. Seolah ada ombak yang bergulung-gulung lalu pecah dihantam karang. Begitu berulang-ulang. Malinka, seniorku itu, berkali-kali meyakinkan aku kalau semuanya akan baik-baik saja. Tugasku hanya menari. Tak perlu telanjang kalau memang belum berani. Ia juga memberikan tips jika nanti, selepas pertunjukkan, ada om-om genit yang mencoba mendekati.

“Kalau kau masih enggan, lebih baik jangan mencuri pandang saat mereka menatap,” Malinka memulai memberi wejangan. “Melirik, artinya kau mau. Dan menolak, adalah malapetaka. Kau tahu kan, sikap orang-orang mabuk yang sedang horni?”

 

***

 

“Are you guys ready for next Saturday?” Tiba-tiba Jansen menyenggol bahuku. Aku yang sedang menikmati aksi di atas panggung menoleh. Kudekatkan gelasku ke gelasnya yang tersodor di udara hingga berbunyi ‘ting’. Choky juga melakukan hal yang sama.

 

***

 

Aku ingat betul bagaimana rasanya saat mata-mata jalang itu memandangiku tanpa kedip. Mulut-mulut bau alkohol itu tak bisa berhenti meracau. Meneriakkan rayuan dan kata-kata yang bahkan aku tak ingin mengingatnya. Beberapa dari mereka —biasanya berperut buncit dan berkepala botak—menyelipkan lembaran dolar atau rupiah berwarna merah di sela stocking jala yang kupakai. Satu-dua orang berusaha memanfaatkan momen ini dengan menyentuh kulit paha bagian dalam. Dengan gerakan sigap dan anggun, aku menepisnya. Tubuhku terus meliuk. Hentakan musik membuat adrenalinku memuncak. Aku melampiaskan amarah  masa laluku di panggung kecil berbentuk lingkaran itu. Tiang yang berdiri tegak menjadi sasaran emosiku. Kusilangkan kaki kanan sementara punggung kulempar ke arah belakang. Dengan gerakan memutar, aku menggeliat. Emosi yang terluap malah menjadikan gerakanku bertenaga. Malinka memberitahuku setelah show itu, kalau aku terlihat sangat, sangat erotis. Katanya karakterku liar, seksi namun tak terjamah. Sambil menyeka keringat di ruang ganti, aku menganggap pujian itu sebagai pintu masuk kesuksesanku. Dan benar, sejak itu aku menjadi salah satu primadona di Seven Sins. Satu-satunya anak ingusan yang langsung mencuat dan menjadi favorit.

 

***

 

Selepas siang di hari Jum’at, Hera menelponku berkali-kali. Ia memastikan bahwa aku sedang menuju rumahnya untuk mengantarnya belanja keperluan entah. Bulan-bulan terakhir menjelang pernikahan membuatnya semakin posesif. Jadwal menelpon dan mengirim pesan lebih sering dari biasanya. Ia juga lebih cepat cemburu. Beberapa kali kudapati ia sedang mengecek ponselku. Menanyakan siapa itu di galeri fotoku, siapa dia yang mengirim whatsapp dan segala jenis pertanyaan menyelidik lainnya. Dia tahu aku tak menyukai hal ini. Tapi Hera punya alasan lain. “Kita kan bentar lagi nikah, tak ada yang perlu disembunyikan lagi, kan?” Tapi bukan begitu caranya. Dalam hal menjalin hubungan, privasi juga harus dijaga. Aku hanya menggeruti dalam hati sebentar. Biarlah dia terpuaskan dengan hal itu. Toh, tak ada rahasia di kotak pintar berukuran lima inci itu.

Pernah di suatu sore beberapa hari yang lalu, kami bertengkar. Penyebabnya sepele. Hera mempersoalkan emoticon yang dikirimkan teman wanitaku di whatsapp. Menurutnya, terlalu genit.

“Siapa sih dia, kegatelan. Nggak ngerti ya, kalau kamu mau jadi suamiku?” Hera langsung menyemprotku seketika. Di tangannya tergenggam ponselku yang terbuka room chat-nya.

“Astaga. Perlu ya kamu mengecek sampai begitu?” Tanganku mengulur ke arahnya, mengisyaratkan untuk meminta ponselku kembali. “Lagian dia cuma Shella, teman lamaku,”

“Siapa Shella? Mantanmu ya?” tuduhnya. Badannya berputar balik. Tangannya meraih daftar undangan.

“Nah kan. Ada namanya di sini. Pasti dia spesial. Aku nggak mau dia datang. Nggak usah diundang!” Hera terus meracau. Ketegangan dan stres menjelang pernikahan ternyata tak hanya menjadikannya mudah cemburu, tapi juga mengubahnya menjadi wanita dewasa berpikiran ABG.

Aku melemparkan tangan yang sedari terulur, berusaha tak terpancing emosi.

Baby, please. Bukan hal seperti itu yang perlu diperdebatkan saat ini,” Aku berusaha tenang. Kudekati Hera tapi ia menghindar.

“Aku tak mau namanya ada di daftar kita. Titik.” Hera tajam menatapku.

“Nggak bisa, Sayang. Dia itu anak teman baik Papa. Aku nggak bisa kalau nggak undang dia. Kami juga berteman sejak lama,” Aku berusaha menjelaskan padanya. Sepertinya percuma. Hera yang sumbu hatinya kadung terpercik cemburu, kini telah membara. Ia bersikeras dengan sikapnya, dan aku masih berdiri dengan alasanku. Sore itu, tak ada mufakat dari kami. Aku pulang dengan kesal dan Hera menghabiskan malam ditemani isak tangisnya.

 

Ponselku berbunyi lagi. Nama yang muncul di layar masih sama. Hera.

“Ya, Beb?” Kuangkat ponsel yang sedari tadi berdering. Agar tak terpecah konsentrasi, laju mobil kuperlambat.

“Aku baru saja dihubungi Mas Handi, penjahit baju pengantin itu. Besok sore kita diminta ke studionya,” Hera berjeda sejenak. Mungkin menunggu tanggapanku. “Dia minta dijelaskan detil baju yang aku pengenin.”

“Besok? Sabtu?” Aku menanyakan ulang hari yang tadi disebutnya. Sekadar memastikan.

“Iya. Kenapa?” Hera mencium bau tak beres.

“Aku belum ngabarin kamu ya? Sabtu besok ada acara perpisahannya Jensen, aku sudah janji datang,” Aku menunggu reaksinya. Hera diam, mungkin kepalanya sudah mulai panas. “Gimana kalau kita bikin janji untuk hari Minggu aja? Minta nomernya Mas Handi dong, nanti aku yang telpon..”

Hera masih diam. Hanya suara nafas yang tak teratur yang kudengar.

“Beb….,” Aku memanggilnya. Sedikit manis agar dia tak meledak dahsyat.

Gagal. Hera tetap meledak. Bicaranya tak berjeda. Ia menuduhku lebih mementingkan teman-temannya dibandingkan calon istri. Ia memberiku stempel ‘pria egois’ untuk kesekian kali dalam seminggu ini. Apa lagi? Ah, aku bahkan lupa apa saja yang diucapkannya. Lima menit melampiaskan marah, telpon terputus. Lebih tepatnya diputus oleh Hera. Aku menghela nafas. Mencoba mengurai batu-batu tak terlihat yang membebani dada dan pikiran.  Mendadak waktu beberapa menit yang tersisa menuju rumahnya jadi terasa sangat lama. Dan membosankan.

 

***

 

Rolan menggandeng tanganku. Kami baru saja sampai di sebuah bukit yang mulai dipenuhi oleh bunga. Ia sesekali menyelipkan anak-anak rambut yang menutupi wajahku. Senyumnya manis saat menatapku, membuat rona kemerahan di pipiku semakin tampak. Ia masih menggenggam tanganku, dan menuntunku ke arah tanaman dengan bunga berwarna semburat ungu. Tubuhnya dirapatkan ke arah tubuhku. Hanya sebentar karena kemudian tangannya kuat mendorongku jauh. Entah dari mana jurang di belakangku ini sebelumnya, tapi aku telah mendapati tubuhku bergerak cepat mengikuti gravitasi. Jurang ini begitu kelam. Seolah-olah diciptakan untuk menampung segala keburukan. Semakin dalam tubuhku mendekati dasar, udara pengap terasa semakin tajam. Tiba-tiba tubuhku berhenti dengan kasar. lunglai, melayang-layang di dalam kegelapan. Dinding jurang di sekitarku mulai bergerak-gerak. Ada sesuatu dari dalam yang ingin menembus keluar. Bunyi retakan bersahutan disusul munculnya tangan-tangan legam yang menggapai tubuhku yang melayang. Aku berontak. Kaki dan tanganku berontak. Kulihat di atas sana, jauh di bibir jurang, Rolan masih tersenyum manis. Ia tampak tenang menatapku.

Tersentak. Tanganku mencengkeram seprei dengan kuat. Peluh membasahi bantal. Aku terengah-engah. Lekas kuambil gelas air minum di meja samping tempat tidur, lalu menegaknya habis. Mimpi itu lagi. Aku belum sepenuhnya melupakan sakit hati ini ternyata. Bayangan wajah Rolan berkelebat cepat. Kali ini ia tak sedang tersenyum manis melainkan tertawa lebar. Gigi-gigi taringnya tampak menonjol. Dasar iblis!

 

***

 

Malam yang direncanakan tiba. Choky yang datang bersama Jensen datang menjemputku. Teman-teman kami yang lain langsung menuju Seven Sins. Aku berusaha mengurai ketegangan. Dua temanku terkekeh konyol mendapati air mukaku tampak jauh dari kesan rileks.

“Tenang aja, Cui. Kayak ngga pernah baca Playboy aja lo,” Jansen tergelak.

“……………ini versi nyatanya,” Choky menambahkan.

Sialan. Kenapa aku malah tegang? Bukannya acara bujang seperti ini justru dipakai untuk merayakan kebebasan dan bersenang-senang sebelum terikat dalam sebuah tambang bernama pernikahan? Mungkin perasaan ini timbul karena aku mengaku kepada Hera bahwa malam ini adalah acara perpisahan Jansen sebelum ke Jerman. Ya mana mungkin aku mengaku kalau anak-anak ini membuat bachelor party? Bisa pecah perang dunia nanti.

Di depan pintu masuk, tiga orang teman kami langsung bergabung. Mereka tampak tak kalah semangatnya dengan Choky dan Jensen. Setelah membereskan sesuatu di meja resepsionis, jansen langsung memberikan kode kepada kami untuk masuk. Karena private, kami langsung naik ke lantai dua. Tangga melingkar berhias karpet merah ini mengantarkan kami ke dalam sebuah ruangan yang tak terlampau besar. Dindingnya bercat merah menyala dengan sofa hitam berbentuk setengah lingkaran menghadap tiang stainless di tengahnya. Choky berteriak ‘yeah’ berkali-kali. Teman-teman yang lain tampak tak sabar menunggu inti acaranya. Seseorang berpakaian mini meminta kami duduk sembari ia menyiapkan anggur dan es batu. Beberapa menit kemudian semuanya tertata rapi di meja.

“Keren nih, keren!” Teman kami yang bernama Andy tampak terkagum-kagum. Sepertinya ia — dan yang lainnya, termasuk aku— belum pernah menikmati acara private seperti ini.

“Tunggu sampai hidangan utamanya datang, bro,” Jensen mulai menuang anggur. “Ayo, bersulang dulu kita.”

Masing-masing membawa gelas berisi anggur merah, merapatkan hingga berdenting sambil berteriak. “Cheers!!”

“Ini untuk sahabat kita, Bayu Laksono, yang sebentar lagi statusnya sudah menjadi suami,” Serempak kami menegak sampai habis.

“Dan….,” Choky menambahkan, “untuk teman kita, Jensen Peter. Selamat untuk tiket ke Jerman-nya!”

Sorak-sorai kami mereda ketika lambat laun musik mulai mengalun. Dentumannya yang mampu mengajak tubuh bergoyang itu mengantarkan sesosok seksi berbalut kostum pelayan berenda. Mirip kostum di film dewasa. Langkahnya pelan dan menggemaskan. Wajahnya yang dipoles dramatis semakin membuat detak jantung terpacu. Ia mendekatiku, menggeliatkan tubuhnya di depanku sambil membuat semacam huruf S di udara. Damn! Seksi sekali.

Pertunjukan setelahnya membuat hawa di ruangan itu semakin panas. Apalagi saat striper itu memulai aksinya dengan bantuan tiang. Ia yang telah menanggalkan kostum pelayannya, kini hanya menyisakan bra dan hotpants penuh renda. Stoking jala selutut menambah kesan seksi.  Jansen sempat memberitahuku, bahwa penari yang disewa tak bisa untuk dijamah. Betapa pun tergodanya hasrat lelaki, menyelipkan uang di stoking jala adalah tindakan paling tinggi. Urusan nanti ada kelanjutan, itu diluar kontrak malam ini.

Musik masih mengalun kencang. Striper itu mulai tampak lebih bersemangat. Tubuh padatnya yang setengah telanjang kini berpeluh. Seperti terkena magnet, aku maju beberapa langkah. Ia yang menari sambil mengibaskan rambutkan menggodaku dengan mengusap dagu. Saat rambut panjangnya dikibaskan itulah aku sempat melihat sebuah tatto di tengkuknya. Seperti gambar wanita, tapi lebih mirip peri —atau bidadari, karena bersayap. Gambar dan letak tatto itu mengingatkanku pada seseorang, tapi aku lupa siapa. Sepertinya malas juga mengingat-ingat hal semacam itu di saat seperti ini. Rugi.

 

***

 

Matahari baru setinggi bahu saat sinarnya menyembul di balik tirai jendela yang sedikit terbuka. Dia menyeduh dua cangkir kopi panas. Bau harum kafein melayang-layang di udara lalu merayap menuju tempat tidur. Menggelitik hidungku. Aku membuka mata. Kurasakan sedikit berat pada kepala dan tengkuk. Wanita itu menghampiriku. Satu kecupan selamat pagi dihinggapkannya di bibirku.

“Sekali lagi yuk,” rayunya sambil menyibak selimut yang menutupi badanku. Kuraih badannya yang padat. Kami mengulangi kejadian semalam. Bercinta penuh gairah.

 

***

 

Malam itu, seusai pesta bujang, aku bersikeras untuk bertemu lagi dengan si striper. Jansen menghambatku, katanya tak usah macam-macam. Berurusan dengan striper bisa mendatangkan bahaya. Katanya, mereka punya penggemar fanatik. Aku tak peduli. Maka setelah mobil yang mereka tumpangi hilang di sudut jalan, aku memilih untuk menunggu wanita itu di gang dekat pintu belakang.

Dia kaget mendapatiku masih berdiri di situ tanpa teman-temanku. Aku tahu reaksinya akan seperti itu, maka kujelaskan maksud bahwa aku hanya ingin mengenalnya sebagai pribadi biasa. Bukan yang tadi kulihat. Ia paham. Maka kami memutuskan untuk mencari pengganjal perut. Tujuan satu-satunya adalah waralaba 24 jam.

Awalnya obrolan kami terasa canggung. Bayangan dia sebagai striper masih sesekali berkelebat. Tapi wanita di depanku ini lebih kalem dibandingkan sosok yang diperlihatkan di atas panggung tadi. Tanpa riasan wajah, memakai sweater dan celana jins cukup membantunya memudarkan citra penari erotis tadi.

“Aprodhita,” Dia menyebutkan nama setelah kujabat tangannya yang terulur. Nama yang misterius. Semisterius Dewi Cinta dalam mitologi Yunani. Aku membalas menyebut namaku. Kecanggungan kami berangsur-angsur mencair. Aku menanyakan apa arti tatto di tengkuknya. Tak ada jawaban, ia hanya tergelak sebagai gantinya. Lalu segalanya menjadi lancar saat kami bertukar cerita masalah cinta masing-masing. Pengaruh alkohol membuat ceritaku tak terbendung. Kesal, sakit hati dan penghianatan silih berganti menjadi bumbu cerita. Kecewa akhirnya menyatukan dan mengantarkan kami pada ranjang di sebuah hotel bintang tiga.

 

***

 

Aku tak mengenalnya. Sejauh obrolan tadi, kupikir dia lelaki yang baik. Jauh lebih baik dari lelaki yang pernah mengajak berkenalan dan berkencan denganku dulu. Bayu. Aku mencoba mengeja namanya. Kulirik tubuh telanjang yang tertidur pulas di sampingku. Aku tak menyesali hasratku tumpah bersamanya. Dia tampan. Itu sudah cukup untuk hubungan semalam ini. Bayu menggeliat pelan. Dia mengganti posisi tidurnya dari terlentang ke posisi menyamping. Memunggungiku. Seperti tersengat lebah beracun, aku terbelalak melihat sesuatu yang kubenci, sesuatu yang lekat dengan masa laluku, ada di tubuh Bayu. Sebuah tanda lahir di pinggang yang mengingatkanku pada Rolan. Api-api dendam yang tertidur langsung membakar dengan cepat. Menghanguskan akal sehat bahwa lelaki di sampingku adalah Bayu, bukan bajingan bernama Rolan. Tapi apa boleh buat, aku tak punya ruang untuk logika. Kurasakan pandanganku menggelap. Kepalaku berdenyut. Sesuatu entah dari mana asalnya terus menerus berbisik. Dia seperti membisikkan sesuatu yang aku tak paham. Seperti kalimat dalam bahasa iblis atau mungkin semacam mantra. Aku semakin gelap mata.

 

***

 

Dua cangkir kopi itu telah dingin tanpa pernah tersentuh bibir. Di sekelilingku, orang-orang berseragam coklat sibuk melakukan tugasnya masing-masing. Sementara aku, telanjang dan terbujur kaku dengan luka menganga penuh warna merah.

Thanks, 2016!

Setelah melalui tahun 2015 yang buruk, saya mengawali tahun ini dengan terseok-seok. Perlu empat bulan sebelum akhirnya saya bisa mengenali diri saya lagi. Sebelum itu, saya seolah menjadi bekicot dalam tempurung. Mau dibuka atau ditutup tempurungnya, lajunya tetap lambat karena tak ada semangat.

Jadi, apa yang bisa membuat saya bersemangat lagi? Jawabannya adalah olahraga. 

Saya bukan seseorang yang gemar berolahraga sebenarnya. Bahkan  sejak bangku sekolah dasar, pelajaran olahraga bukan favorit saya. Saya punya alasan kenapa saya berolahraga; karena saya bosan punya badan yang tidak menarik. Sebenarnya itu alasan kesekian sih. Alasan sebenarnya nanti lah ditulis di sini. Haha.

Olahraga menjadi penyelamat saya tahun ini. Bukan hanya sekadar mendapatkan kembali angka timbangan yang sebelumnya condong ke kanan, tapi juga punya banyak teman baru yang saling memotivasi. Selain teman dari komunitas lari dan freeletics, 2016 juga memberikan saya 6 orang karib yang akhirnya kami sepakat menyebut PSSS. 


Oh iya, tahun 2016 juga saya berhasil mengalahkan rasa penasaran akan kompetisi di bidang olahraga. Lari, pilihannya. Saya yang bukan penggemar olahraga akhirnya merasakan kentalnya rasa bersaing, walaupun di sini saya lebih merasakan bersaing dengan diri sendiri. 
Apapun yang saya lalui di 2016, saya merasa perlu menepuk bahu saya, memberikan pelukan pada diri sendiri dan berbisik, “Terima kasih untuk bangkit, Moe”



Blog at WordPress.com.

Up ↑