38880+

Selama kulihat engkau senang, yang lainnya kusimpan sendiri

…,

#DearA
Ditemani senandung milik Tulus,  aku duduk di tempat kita terakhir kali bertemu, 38880 menit yang lalu. Memesan menu yang sama, di meja yang juga dulu menjadi teman bisu malam itu. Lima menit setelah makanan datang, aku memutar ulang bagian-bagian perjumpaan yang menyenangkan di kepala, sembari membaca skenario percakapan yang serta-merta melahirkan senyum. Aku merogoh tas, mengeluarkan makanan favoritmu. Sebuah cokelat Belgia dengan kacang almon. Kamu suka?
Tunggu.
Jangan tersenyum dulu. Aku tahu itu reaksi pertamamu –disembunyikan atau terang-terangan, tapi izinkan aku dulu untuk membanyangkan reaksi setelahnya. Kau penyuka segala jenis cokelat, dan aku penggemarmu-saat-kau-makan-cokelat. Pipimu yang ranum akan bergerak simetris, dengan pola yang tak teratur. Kadang aku membayangkan jika kau ada di Negeri Dongeng, bisa dipastikan kau adalah seekor kelinci paling diminati buaya-buaya pemakan pipi. Khayalanku absurd memang, tapi itu membahagiakan. Hmm, tidak termasuk bagian saat buaya menerkam pipimu, tentu saja.
Dear A, 

Aku akan terus mengunjungi tempat bersama secara berkala. Menjumput sisa-sisa cerita di sana yang cukup tak cukup dipaksa untuk menambal renjana. 

Pertemuan-pertemuan yang tak kunjung tiba, dan ingatan yang meminta kenangan memang serta merta melahirkan mendung di dada. Tapi bukan juga harus memaksa jika memang belum waktunya. Di sini, dengan sisa kenangan yang masih bisa diputar, dengan segala jenis cokelat yang kubawa, aku akan terus melihatmu tersenyum. Senyum yang melahirkan bahagia; bukan hanya untukmu sendiri, tapi juga bagi yang melihatnya.

Mengenalmu, Mengenali Diriku

  
Dear A,

Aku mengenalmu sebagai pribadi yang menyenangkan, sebagai seseorang yang mampu membangunkan senyum di saat suram. Seseorang yang bisa mengubah ladang kering di hati menjadi kebun bunga cantik penuh kupu-kupu yang beterbangan hingga rongga perut. Aku mengenalmu lebih dari cukup. Sejak pertama menatap, mengikuti cerita seru langsung dari mulutmu hingga apa saja yang ada di media sosialmu. Dari apa yang kau sadari hingga sesuatu yang tak mau kauakui.
Aku menyukaimu, mengagumi kepribadianmu. Sesuatu yang nantinya — kutahu– bisa berubah jadi cinta. Kau boleh menyebutku orang paling kepo. Kau boleh melabeliku pria paling ingin tahu. Begitu lah, aku adalah orang yang mengangumimu, yang selalu lapar akanmu. Dan, A, andai kau tahu. Semakin mengenalmu, aku semakin menyayangimu. Tanpa tapi, tanpa barangkali. Terlebih, aku semakin mengenali seorang pria yang rela melebarkan batas sabar. Ia yang mau membuka hatinya lebar untukmu. Ia yang ikhlas menyelipkan namamu di antara nama ibu dan keluarganya dalam tengadah tangan selepas lima sujud. 
Karena A, semakin mengenalmu, aku semakin mengenali diriku.

Lentera Hidup Warung Kopi

flashfiction
Matanya melotot sesaat sebelum nyawanya meregang. Oh, maafkan. Hanya sekelebat aku melihat ratapan mengiba, minta tolong. Tapi sepenuhnya, yang kulihat adalah tiga senyum mengembang.

**
Matahari pukul dua siang masih menyengat, membuat banyak orang enggan beraktivitas di luar rumah. Mereka lebih nyaman menghadap kipas angin sembari menonton film India di tv swasta. Lain halnya dengan bocah enam tahun itu. Namanya Seno. Rumahnya hanya berjarak seratus meter dari tempat tinggalku. Ia terlihat mondar-mandir di depan warung kopi milikku. Tangan kanannya menyeret truk mainan yang diikat tali. Mulutnya tak henti menirukan suara deru kendaraan. Breeemm..bremmm…ngguuuiingg. Diiinnnn…diiiinnnnn. Dia menatapku. Mulutnya bergerak dengan suara yang tak jelas. Seno memang mengalami ketidaksempurnaan dalam berbicara. Sebagai tetangga yang mengetahui keadaannya sejak lama, tak susah memahami apa yang menjadi maksudnya. Kujawab dengan isyarat dua telapak tangan telungkup dan kepala dimiringkan. Dia mengangguk lalu berlalu sambil menyeret truknya. Aku melanjutkan merapikan baju-baju kering yang masih berantakan. Tiga anakku —Mita, Rama dan Juna— tampak pulas tidur siang. Satu jam lalu, mereka masih merengek minta ayam krispi. Pusing aku dibuatnya. Warung kopi milikku sedang sepi akhir-akhir ini. Sejak dibangun kedai kopi waralaba di sudut jalan, pemuda yang biasa menikmati kopi di sini pindah teratur. Mungkin karena di sana terlihat lebih gaya. Lebih mentereng. Jelas saja, harga segelas kopi di sana kan tiga kali lipat kopiku. 

Pikiranku melayang tiga tahun silam, sesaat sebelum kuputuskan membangun warung kopi seadanya di teras rumah. Suamiku meninggal saat ia bekerja. Kata orang angin duduk, tapi kata dokter sakit jantung. Aku tak begitu peduli apa nama penyakit yang merenggut nyawanya. Yang ada di pikiranku saat itu adalah bagaimana aku menghidupi ketiga anakku yang masih kecil-kecil? Mita, si sulung saat itu baru berusia tiga tahun. Rama masih satu setengah tahun dan Juna baru empat bulan. Bermodalkan tabungan seadanya dan pinjaman sana-sini maka kubuat warung kopi di rumahku. Ba’da magrib sampai pukul sebelas warungku melayani mereka yang ingin menyeruput kopi hitam, mengudap pisang goreng atau menyantap mi instan pedas. Tangan terampilku siap untuk meracik dengan segera. Semua demi menghidupi anak-anakku. Bantuan dari saudara tak selamanya bisa kuandalkan. 

Aku menghela nafas. Betapa sekarang pengunjung warung kopi ini menurun drastis. Hanya tersisa beberapa orang tua yang masih setia berkunjung. Tak ada lagi pemuda-pemuda pembawa cerita humor tentang pejabat korup, berita artis selingkuh atau kisah cinta mereka sendiri. Orang-orang tua yang tersisa hanya membawa keluhan mengenai istrinya yang cerewet, anak gadisnya yang berubah jadi pemberontak atau keluhan hutang yang tak kunjung lunas. Cerita-cerita semacam itu hanya membuat kepalaku pening. Sama sekali tak menghiburku. 

Pakaian kering selesai kulipat. Suara Seno masih terdengar. Breemmm…breemmmm. Nguing..nguinggg. Sejenak hatiku gundah. Aku berkali-kali menatap wajah ketiga bocah polos di kasur. Sudah hampir dua bulan ini warung kopi sepi, sementara kebutuhan mereka tak bisa lagi ditunda.

Ambillah barang segayung kelapa dari yang segar. Kau tahu kan, ukuran segar? Sebelum lepas suci!

Kalimat yang menyembur dari Ki Setyo masih terngiang di kepala. Berputar-putar, meneriakkan kata ‘jangan’ dan ‘lakukan’ bergantian. Seolah ada yang sedang bertengkar dan menjadikan kepalaku ini ring tinjunya. Demi apapun yang memudahkan jalanku, tolonglah! Mataku sekali lagi menatap wajah polos berjejer di depanku. “Demi kalian..” rintihku sambil meraih sebilah pisau. Tanganku berguncang hebat.

**

Tanganku terampil melayani pembeli. Sejak dua hari lalu, aku terpaksa mengajak Lani —tetanggaku, untuk membantuku berjualan. Walaupun di sudut jalan masih bertengger gagah kedai kopi waralaba itu, tapi warung kopi milikku tak pernah surut pengunjung. Lani dengan sigap mencatat pesanan pemuda yang baru datang, sementara aku sibuk menyeduh beberapa cangkir kopi kental sekaligus. 

“Jadi belum ada berita tentang hilangnya Seno, Kang? Sudah lenyap dua hari dan masih nihil..” Seorang bapak berpeci berbicara dengan kawannya. 

“Tak ada tanda-tanda, Wak. Misterius sekali..” Si Kawan menanggapi sembari menyeruput.

Percakapan yang terdengar membuatku terkesiap. Kuatur nafas yang sempat berantakan. Setetes peluh dingin dengan sigap kuhentikan lajunya. Aku mengatur senyum wajar. Yahh, setidaknya Seno telah membantu menghidupkan warungku lagi. 

Based on fiksimini @zupermac :
http://zupermac.tumblr.com/post/70178599183/warung-kopi-cangkir-kopi-ini-sudah-ku-cuci-bersih

Sesuatu Untuk Dikenang, Bukan Dilupakan

 Dear A,

 
Sebenarnya hari ini aku tak berniat menulis surat untukmu. Suhu badanku meninggi dari semalam, disusul nyeri di kepala yang rasa-rasanya seperti rasa rindu. Datang dan pergi, sesuka hati. 

Aku memutuskan menuliskan sesuatu untukmu ketika aku sadar bahwa aku butuh kenangan. Dikenang dan mengenang. Jika suatu saat –misalnya– aku hilang ingatan, akan ada tulisan yang setidaknya bisa kubaca mengenai kita. Atau jika aku pergi lebih dulu, kau bisa mengenangku –selain dalam doa– juga lewat rangkaian kata. Mereka, orang-orang yang kaupercaya, juga bisa menjadi pembaca kisah kita. Kalau kau tak keberatan, mereka akan tahu betapa ada seorang pria yang rela mengambil bulan untuk seseorang yang dicintainya. Atau, saat pipimu merona ketika menatapku pertama kali setelah sekian lama tak jumpa. Kau selalu menyangkalnya, A. Tapi mataku, adalah alat perekam handal yang akan mengirimkan hasil rekam ke ruang dalam pikiran untuk disimpan. Olehku, akan kutulis sebaik mungkin agar kita tetap terkenang.
Dear A, jika kau sedang membaca surat ini, mungkin aku sudah tak bersamamu. Bisa jadi kau sedang bersama pria beruntung yang lebih bisa meyakinkanmu. Seseorang yang membuatmu percaya siang malammu akan berpasrah. Tapi bisa juga, aku adalah orang yang sedang kau tunggu di beranda rumah mungil dengan secangkir teh hangat pukul enam petang. Kau sudah memakai bedak dan wewangian, sementara anak kita berlarian riang. Semuanya serba mungkin bukan?
A, aku akan terus menuliskanmu. Menulis tentang kita. Kau tahu, kenangan tentangmu adalah harta. Aku tak rela jika kehilangannya. Tidak sama sekali. Aku ingin kau, kita, abadi bukan hanya dalam hal-hal yang bisa hilang dari pikiran, tapi juga bakal selamanya selayak doa.

Salam rindu,

P

Perihal Musuh di Kepala yang Tak Seharusnya Ada

Dalam situasi lengah, musuh di kepala akan mengarang cerita yang membuat kita lemah. 

 

Dear A,
Akhirnya kita bertemu. Setelah sekian lama mengingkari rindu, kali ini kita harus tunduk pada mau. 




Cafe, 18:09


Kau datang dengan sedikit terburu. Mengenakan sweater tipis    berkerah lebar yang menonjolkan tulang bahu dan celana jins yang kau gulung hingga mata kaki. Aku tersenyum sebagai ganti ‘hai’. Kalimat kedua yang isinya menanyakan perjalananmu ke kafe ini kau balas dengan, “Aku sedang malas bicara. Kita hanya butuh bertemu, kan?”

Tapi A, temu tanpa menyampaikan isi kepala, tanpa mengutarakan sesak di dada itu seperti masak sayur asam tanpa belimbing wuluh. Kurang lengkap, kurang lezat.

“Oke, kau sebaiknya pesan makanan dulu. Setelahnya, aku akan menemanimu.” Kusodorkan buku menu dan tanpa menunggu waktu, kau memesan cappucinno latte kesukaanmu. 

Kau meraih tasmu, merogoh isinya dan mengambil iPod. Sedetik kemudian kau hanyut dalam musik klasik yang kutebak pasti alunan Wolfgang Amadeus Mozart Eine Kleine Nachusik, favoritmu. Lagu klasik energik yang bisa membawa ketenangan luar biasa. Aku jadi ingat, kita pernah berdiskusi lama tentang lagu instrumental. Mana yang lebih menenangkan, antara Matsuri dari Kitaro atau Johann Sebastian Bach dengan Air (on the G string). Sebuah obrolan panjang yang tak pernah menemukan titik tengah karena kita tahu, tak bijak menggunakan selera sebagai pembanding.
Aku rindu obrolan panjang kita, A.
Kau sering bertanya; lebih enak mana antara oatmeal atau moesli, lebih ganteng siapa antara Reza Rahardian atau Chicco Jericho, pilih warna tosca atau fuschia untuk pesta dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tak bisa kutemukan jawabnya.

Kau tahu A, aku suka mengamati gerak tanganmu yang memilin anak rambut saat ceritamu mengudara. Juga ekspresi bibirmu yang memble saat kujawab ‘aku tak tahu’ untuk sebagian pertanyaanmu. Aku menyukai segala hal yang bahkan kau sadar tak menyukainya.
Tapi kini hanya ada percakapan masa lalu di pikiranku, alunan lagu di kepalamu, dan hening di antara kita.
Hening.
Biiipppp!!

Sebuah pesan masuk di ponselku. Namamu tertulis di sana. 

Aku masih di jalan, sepertinya agak terlambat. Semoga tak begitu lama dari waktu janjian.

Reply.

Tak apa, aku tunggu kok. Kau punya sekeranjang cerita buatku, kan?

Send.

A thousand. See you soon, P! 

Senyumku mengembang seketika. Aku siap memberimu pelukan, A. Sesiap tiap jengkal kata yang mengalir deras dari bibirmu. Di antara ribuan nanti, semoga  terselip tiga kata; aku rindu kamu. 


Salam hangat,

P

Selama Kau Terlelap

  
Dear A, 

Aku ingin menjadi apapun saat kau terlelap. Mungkin baju tidurmu yang longgar dengan warna pudar, yang membuatmu leluasa bergerak. Aku ingat, kau punya satu baju tidur favorit. Bergambar bayi beruang yang kuyakin tak lagi sama warnanya saat kau beli dulu. Ini nyaman, alasanmu saat kutanyakan kenapa masih saja kau kenakan. 

Atau mungkin aku menjadi selimutmu, yang senantiasa setia memeluk dan menghangatkan tubuhmu dari udara lembab karena hujan semalaman. Yang menyamankanmu saat suhu tubuhmu gigil dan butuh meringkuk dalam pelukan kehangatan. 

Tapi saat ini, mungkin kau sedang tak nyaman dengan selimut. Suhu udara sedang panas-panasnya. Kau lebih suka terlelap dengan pendingin udara. Ah, mungkin aku bisa menjadi sejuk yang senantiasa mengantarkanmu memasuki alam tidur. Sejuk yang membuatmu tak berkali-kali bangun untuk menyeka keringat atau meneguk air putih karena dehidrasi. Aku ingin menjadi sejuk yang menyamankanmu.

Dan ya, 

Aku ingin menjadi nyaman yang melahirkan senyuman paling kuingini. 

Secangkir Hangat Pelukan

#4

  

“Aku sakit.”


Sebuah pesan singkat darimu mampu membuatku melesat jauh ke selatan, pukul sebelas malam lebih dua puluh menit. Hujan sejak siang tak menyurutkan niatku untuk melihat keadaanmu. Mungkin ini berlebihan, tapi jujur, aku memang khawatir. Setelah puasa temu dua minggu, mendengar kabar sakitmu adalah petir di siang bolongku.

Aku melintasi jalanan yang lenggang. Tak banyak pengendara yang lewat. Malam dingin dan hujan yang stabil membuat orang-orang tak menemukan pilihan selain mendekam di balik selimut hangat. Seperti aku yang tak punya pilihan selain menemuimu.
Setibanya di rumahmu, kudapati kau tengah meringkuk lemah di dalam selimut Teddy Bear kesukaanmu. Tisu bekas berserakan di sekitarmu. Kamu flu juga? Kumatikan televisi yang sejak tadi menyiarkan sesuatu yang tak membuat wajahmu berpaling melihatnya. Kau hanya butuh teman, aku tahu itu.
“Hei..” katamu lirih. Kau menyadari keberadaanku. Senyumku mengembang seadanya. Susah sekali melempar senyum dalam keadaan seperti ini. Kusodorkan segelas air putih. Kau tak punya kopi atau coklat kemasan untuk dibuat minuman hangat. Dan rencanaku keluar ke minimarket terdekat, kau cegah. Kamu di sini saja, aku lebih butuh kamu. 


Kuatur posisi dudukku agar kepalamu yang bersandar di perutku lebih nyaman. Tak sampai lima menit, kau sudah terlelap. Jangan bermimpi, sayang. Mimpi hanya mengurangi kualitas tidurmu
Pukul setengah dua pagi. Kau masih tak mengubah posisi tidurmu sementara kakiku mulai kesemutan. Lagu I Don’t Wanna Miss a Thing kuputar terus di kepalaku. Sesekali bergumam bagian lirik favorit untuk mengusir kantuk. Selimut yang tersibak di kakimu, hati-hati kuletakkan kembali ke tempatnya. Sementara tangan kananku tak henti mengusap pundak, sesekali rambutmu. Semoga apa yang kulakukan bisa membuatmu nyaman, A. Kau tersenyum samar, seolah mendengar kalimat yang bahkan tak kulisankan. Aku memang tak punya minuman hangat untukmu, tapi aku selalu punya secangkir pelukan nyaman tiap kali kau butuhkan.

ps :

Sudah hampir subuh, A. Ia datang membawa bahagia. Kau semakin pulas dan keadaanmu semakin membaik. Lekas sehat ya.

every step has its own story

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 136 other followers