Berawal dari akun di Twitter bernama @fiksimini yang menyihir ribuan pecinta sastra, terbentuklah sebuah komunitas kecil-kecilan di tiap kota. Fiksiminier–begitu sapaannya, berusaha menjalin persaudaraan dengan mengumpulkan orang-orang kreatif itu dalam bentuk gathering. Digagas oleh para fiksiminier Bandung; tapi pada prakteknya, kami fiksiminier Jogja yang berkesempatan lebih dulu mengadakan gathering.

Saat itu, bukan perkara mudah mengumpulkan teman-teman dari dunia maya untuk diajak bertemu. Sampai seminggu awal pemberitaan, hanya terkumpul lima orang termasuk saya. Akhirnya setelah berjuang menembus kabut (halah) gathering pertama fiksimini fix diadakan pada hari Sabtu, 17 Juli 2010 jam 3 sore, di Own Cafe. Dan inilah mereka yang sempat datang di gathering:

@pramoeaga @asakecil @driveAnji @effendiharyo @juris_the_great @elnasinaga @angtekkhun @mikdad @ALDrahman @onyagrian @felixkriz @ekastri @rizkinasution @anginbiru

Bukan hanya dari Jogja saja, tapi fiksiminier yang berdomisili di luar kota juga menyempatkan untuk datang. Sebut aja @elnasinaga yang bekerja di Gresik, @rizkinasution, seorang dokter muda yang sedang bertugas di Pacitan, ada pula @asakecil yang langsung ke Own begitu mendarat di Jogja. Fyi, Asa tinggal di Kalimantan dan berencana mendaftar kuliah di Jogja. Tak ketinggalan juga ada mbak @ekastri berserta suami yang langsung datang dari Semarang hanya untuk sekedar ikut gathering. “Saya penasaran dengan orang-orang yang selama ini hanya saya kenal tulisannya di timeline” katanya. Thanks to all.. 🙂

Keberuntungan juga sedang berpihak pada kami, fiksiminier Jogja. Setelah Anji Drive yang menyempatkan diri bergabung sebelum konser (dia sempat berbagi cerita tentang fiksimini, tip menulis, dunia entertainment, dan musik) ada mas @agus_noor selaku salah seorang founder dari @fiksimini yang juga menyempatkan datang setelah menjadi pembicara di sebuah workshop menulis di Magelang. Beliau sempat memberikan petuah-petuah,yang kami sebut sebagai Kuliah Sastra Kilat. Berikut catatan dari Mas Agus yang saya rangkum:

1. Jangan pernah menyalahkan moderator kalau karya tidak di RT. Bocoran, moderator ternyata sering jadi sampah cacian.

2. Karya bagus »» Situasi marah. Tidak ada satu pun kata marah dalam karya tetapi pembaca tahu ada amarah di situ.

3. Karya bagus »» tidak mudah dilupakan begitu saja, membekas dan terus membayang. Kesannya kuat.

4. Sealma 4 jam ada 1000-an karya yang masuk. Jika merasa karya Anda bagus jangan ragu posting 2x (problem teknis moderator)

5. Moderator sering mengalami problem teknis dan waktu. Jadi tidak di RT bukan berarti jelek.

6. Kebahagiaan sejati seorang penulis adalah ketika ia berhasil menuliskan apa yang ingin ia tulis.

7. Kebanggaan menjadi fiksiminier adalah ketika dia menulis apa yang ingin dia tulis. Bukan apa yang orang lain ingin baca.

8. Istilah –>Fiksimini sekali duduk adalah fiksimini yang dibaca –> tertawa –> lupa. Tidak berkesan.

9. Menulis hanya untuk diRT, tidak akan membuat bahagia si penulis

10. Retweet hanya bonus!

Selama lebih kurang 4,5 jam banyak sekali pelajaran, khususnya pengetahuan tentang sastra yang didapat dari gathering fiksimini. Selain itu juga bisa berkenalan dengan fiksiminier yang selama ini hanya kenal dan ngobrol di timeline. Persahabatan (nyata) baru!

Ada satu hal lagi, kami tak hanya membawa ilmu tapi juga souvenir dari Penerbit Gradien yang dibawa Pak @angtekkhun : sebuah buku berjudul “Makan Tuh Cinta”  Great! 🙂

Bukan tanpa maksud Pak Khun memberikan buku itu. Saya pernah menanyakan alasannya lewat Twitter, dan beliau memberikan jawaban seperti ini:

“Gift untuk setiap peserta gatheringJogja kemarin bukanlah tanpa maksud. Itu hasil karya komunitas blogger saat blog lagi booming”

“Kini komunitas blogger tak terdengar gregetnya lagi. Tapi buku itu menjadi saksi bisu. Apakah Twitter & (menulis) fiksimini juga hanya tren sesaat?”

 

 

Sebuah PR besar untuk kita, fiksiminier !!

Advertisements