Menjadi beda, buatku, adalah belajar untuk menjadi sabar yang luar biasa. Sabar atas apa yang telah, sedang dan akan kuterima. Harus nrimo, harus legowo. Apalagi di kampung tempatku tinggal. Mereka lebih mengakui persamaan yang majemuk daripada menghargai adanya perbedaan.

Aku divonis mengidap schizoprenia oleh dokter. Bukan penyakit yang sangat mengganggu, memang. Tapi menurut sebagian orang-mungkin, mayoritas warga di kampung ini-itu adalah penyakit aneh. Hanya karena aku lebih suka jongkok di tempat duduk ketimbang duduk dianggap aneh? Itu, kan, anggapan mereka. Toh, aku merasa normal meski ada embel-embel vonis dokter itu.

**

Pagi ini, seperti biasa, aku awali dengan berjalan-jalan di sekitar halaman depan rumahku. Udara yang masih murni sangat menyegarkan, memanjakan paru-paru akan konsumsi udara bersih. Tukang sayur, anak-anak muda yang berolah raga dan ibu-ibu yang sedang membersihkan halaman. Mereka tampak sibuk dengan kegiatan rutin masing-masing. Sesekali, kusapa mereka dengan senyum atau lambaian tangan. Menyenangkan bila mereka membalas sapaanku. Tapi,  sayangnya lebih banyak yang menatapku dengan pandangan aneh. Lagi-lagi, aku tak tahu maksud tatapan mereka.

“Keliiikkk….”

Suara Ibu terdengar memanggil namaku. Bergegas kupercepat langkah mendekat.

“Iya, Bu. Ada apa?” tanyaku seraya menyeka keringat yang hampir jatuh.

“Ayo sarapan dulu. Ibu buatkan nasi goreng sosis untukmu. Bapak sudah menunggu, tuh..” ajak Ibu lembut.

Ku ikuti langkah Ibu masuk ke rumah. Namun, sudut mataku sempat melihat tatapan tetangga-tetanggaku yang masih saja aneh. Sementara, kulihat ibu membalasnya dengan anggukan kecil dan senyuman tulus.

“Lik, kamu masih nyaman tinggal di daerah sini?” tanya Bapak tiba-tiba seusai sarapan.

“Masih, Pak. Memangnya kenapa?’

“Bapak cuma bertanya.  Barangkali saja kau tak nyaman dengan keadaan sekeliling”

Aku tak mengerti kemana arah pembicaraan ini. Menyangkut penyakit scizoprenia-ku kah? Atau sikap tetangga yang tak begitu bersahabat denganku-kalau tak mau dikatakan dingin.

“Lik, bapak tak pernah menganggapmu beda dengan anak yang lain. Kamu malah spesial” Bapak melanjutkan obrolan. Ibu terlihat mengangguk meyakinkanku.

“Dengan penyakit ini, Pak?” tanyaku.

“Asal kau tak menganggu, buat apa kau cemaskan?” dihembuskan asap dari rokok kretek yang diisapnya.  “Lagipula, kau masih punya satu kelebihan lain”

Kalimat terakhir Bapak membuatku penasaran. Kelebihan lain? Apa itu? Tak mungkin kelebihan itu ada pada otak. Atau mungkin aku adalah titisan dewa yang mempunyai kekuatan tertentu yangbelum aku sadari? Ak tergelak getir membayangkan imajinasi bodoh yang terlintas.

“Kelebihan apa, Pak?” akhirnya kutanyakan juga.

“Asal kamu tahu, Lik. kamu punya kemampuan indera keenam. Kau diberi kemampuan melihat sesuatu yang belum tentu orang lain bisa”

“Lalu, kenapa selama ini aku tak tahu?”

“Kau hanya belum menyadarinya, Nak”

Bapak tersenyum, lalu menepuk pundakku sambil beranjak ke kamar.

“Malam ini, Bapak dan Ibu harus ke Jakarta. Ada undangan pernikahan anak sahabat. Kamu jaga baik-baik ya..”

“Pergi lagi, Pak? tanyaku keberatan, “Baru juga kemarin pulang dari Malang” protesku.

“Kelik, ini undangan teman kecil bapak. Tak sopan menolaknya. Toh lusa kami sudah pulang” Bapak meyakinkanku.

“Kamu sudah 15 tahun, sudah Ibu anggap dewasa. Ibu yakin kamu bisa jaga diri baik-baik. Ya, kan?”

“Iya, Bu..”

 

***

 

Petang ini, kuantar Bapak-Ibu ke halaman depan. Kubawakan koper mereka sampai mendekati taksi pesanan yang akan mengantar, lalu mencium tangan mereka.

Have a nice trip, Mom-Dad

“Pasti, Dear. Berangkat dulu ya, nanti Ibu telpon sesampainya di Jakarta”

Aku mengangguk. Jempolku teracung keatas tanda setuju.

Taksi perlahan menjauhi halaman diiringi lambaian tangan. Kulihat beberapa tetangga memandang dingin ke arahku. Tatapan mereka sebenarnya susah kuekspresikan. Apakah itu iba, kasihan, tak suka atau jijik? Yang jelas tertangkap adalah ekspresi datar. Dingin. Secepatnya aku masuk rumah. Ingatanku akan penjelasan Bapak tentang ‘kelebihan’ku kembali mengusik. Jangan-jangan, mereka-tetanggaku itu…. Ah! Tak berani aku membayangkan sosok seperti apa mereka kalau ini benar terjadi. Muka ratakah? Atau muka penuh sayatan layaknya monster? Aahhh… cukup jelas tatapan dingin itu mengartikan siapa sosok mereka sebenarnya. Aku menggigil ketakutan. Tiba-tiba aku merasakan takut yang selama ini sering terabaikan. Pagi, cepatlah datang..

 

***

 

Sementara itu di rumah Pak Broto, 5 meter dari rumah kelik.

“Pak, aku kasihan sama anak pak Haris itu. Siapa tuh namanya?” tanya Bu Broto memecahkan hening malam.

“Emmm, Kelik maksudnya?” jawab pak Broto tanpa melepaskan pandangan dari TV.

“Iya, si Kelik. Anak itu sejak 2 hari lalu keadaannya semakin memprihatinkan. Sering tertawa atau bahkan bicara sendiri”

“Mungkin dia masih syok, Bu.” dialihkannya pandangan dari TV, diraihnya kopi tubruk lalu diminumnya seteguk. “Tak mudah lho, kehilangan orang terdekat di usia semuda dia. Sekarang dia kan yatim piatu”

Bu Broto menghela nafas panjang-seperti merasakan beban berat yang sebenarnya bukan kapasitasnya. “Benar, Pak. Berita kecelakaan mobil yang menewaskan orangtuanya di Malang 2 hari yang lalu mungkin masih membuatnya sangat terpukul”

Lagi-lagi terdengar hembusan nafas berat bu Broto. Matanya nanar melirik ke luar jendela, rumah Kelik. Ada rona prihatin mengarah ke sana.

 

fin

 

note :

Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra) ( wikipedia )

Advertisements