Sore ini, mendung kembali mendominasi langit. Warna biru yang semula tampak cerah, perlahan menjadi keruh. Semilir angin yang membawa bulir air mengacak rambutku. Tak ingin basah sebelum sampai rumah, kupercepat langkahku sementara tangan kiri dan kananku penuh dengan belanjaan bulanan dan tugas kuliah. “Ayo Rama, kau masih 20 tahun. Kau pasti bisa. Tinggal 10 meter lagi!” Aku menyemangati diriku sendiri.

 

Sesampainya di rumah, hujan lebat mulai turun. Untung sudah sampai, batinku. Kakiku melangkah ke dapur. Dingin-dingin begini memang paling enak menikmati minuman coklat hangat. Hmmmm, aroma wangi coklat segera memenangkanku dari petir yang baru saja mengagetkan. Ya. Tinggal sendirian di rumah sewaan memang kadang memunculkan ketakutan yang tak lebih dari ‘kebodohan’. Sambil menjinjing makalah dan ipod, aku beranjak menuju tempat favoritku : meja kopi di sudut, tepat di bawah jendela. Bagiku, duduk disini sambil melihat pemandangan diluar itu adalah hal terbaik dari rumah ini. Mayoritas pekerjaan favoritku juga kulakukan disini, mulai dari mengerjakan tugas, membaca, bercakap lewat telpon, atau sekedar memperhatikan burung-burung liar bermain di dahan.

 

Ada satu ‘pemandangan’ yang sudah 3 minggu ini sering kulihat. Terutama saat hujan deras seperti ini. Ya, hujan deras. Bukan gerimis atau cuaca panas. Aku sering melihat lelaki tua kira-kira 60 tahun, berjubah dan payung hitam berdiri dalam hujan. Jarak 100 meter membuatku tak yakin apakah ia sedang melihat ke arahku atau tidak. Tapi dari gesture yang terbaca, sepertinya iya. Yang jadi pikiranku sekarang adalah siapakah dia? Kenapa ia selalu muncul saat hujan deras? Adakah suatu alasan? Kuperhatikan dengan seksama, sesekali pura-pura membaca. Ekor mataku mencuri pandang kearahnya, tapi ia juga tak beranjak dari tempatnya berdiri. Ini sudah menit ke-70 dan sudah kali ke-7 kulihat hal ini. Aneh. Benar-benar aneh..

 

***

 

Sementara itu,
Rama, ini aku” lelaki tua yang disebut-sebut tadi bergumam lirih. “Kau memang tak pernah tahu siapakah aku, karena aku adalah masa tuamu“. Dipandanginya rumah bercat peach itu, di jendela sebelah kiri seorang pemuda yang disebutnya Rama tengah membaca majalah. Sesekali tampak kikuk sendiri. Mungkin ia tahu kalau diperhatikan.

 

Lelaki tua itu kembali bergumam, “Aku akan terus memantaumu, masa mudaku. Aku tak akan pergi sebelum hujan menyelesaikan tugasnya. Ya. Hujan seperti inilah yang kubenci. Aku kehilangan nyawa saat hujan seperti ini. Sendirian di rumah, dan tak ada yang mendengarkanku berteriak karena isakku tenggelam dalam deras hujan. Aku disini akan menyelamatkan masa mudamu. Aku ingin tahu siapa bajingan tengik yang membunuhku dalam hujan” gumamnya seraya mengelus dada. Sebuah luka besar tersayat disana. Luka yang mengantarkannya abadi, tiga puluh tahun lalu.

Advertisements