Hari ini, hari yang sangat spesial. Sebuah acara yang pasti dinantikan banyak orang. Bertemu teman lama, gebetan masa muda, bertukar cerita masa kini, mengolok-olok masa lalu. Bukankah itu sangat menyenangkan? Ahhh.. Tak sabar kunantikan jarum jam menunjuk angka 7 malam ini.

Baju yang kupegang tak bosannya kuamati di depan cermin. Ganteng. Pas. Aku tak akan terlihat cupu nanti. Kucoba mengulum senyum, mengerling mata, menaikkan alis, menoleh 45 derajat. Tetap ganteng.

Jarum panjang belum juga menyentuh angka 12 ketika jarum pendeknya bertemu angka 5 sore itu, tapi aku sudah tampak rapi dan bersiap berangkat ke acara temu kangen bersama teman-teman SMA. Kupercepat laju mobilku. Tak sabar rasanya melihat sosok-sosok dewasa dari wajah remaja yang dulu akrab kulihat selama 3 tahun. Ah, apa kabar gadis berambut panjang itu ya? Senyumku mengembang.

Setengah jam sebelum jam tujuh, aku telah tiba di ballroom yang ditunjuk. Nuansa biru dan perak tampak mendominasi. Balon-balon dibiarkan mengambang di kolam renang, sementara meja-meja bundar berlomba memamerkan sajian yang tertata di punggung mereka di ruang tengah. Aihh, tampaknya malam ini semua harus melupakan diet. Aku terkekeh. Membunuh sepi, kucoba mengelilingi ruangan. Konsep acara dan dekorasi bertemakan pop art yang sungguh kental. Memudakan kami yang hampir berkepala tiga. Tak apalah, toh jiwa muda masih kental merasuk raga. Tiba-tiba mataku tertuju pada TV yang dipasang di kanan-kiri ruangan utama. Mengapit tulisan besar : “Selamat Datang Saudara Lama : Temu Kangen SMA Budi Perkasa”. Slide berisi kegiatan semasa SMA, foto-foto bukti kenarsisan juga dipamerkan. Tawaku lagi-lagi pecah.

Satu persatu muka-muka yang kukenal tiba. Mataku berbinar terang. Ada Dedi, si tengil yang sekarang jadi alim. Ada Putri dan Rahma yang jadi kembang sekolah dulu. Ah, begitu banyak kenangan yang muncul seiring datangnya teman-teman lama.

Kuhampiri Eric, teman sebangku dulu. Kutepuk pundaknya, kukembangkan senyum. Dia acuh, bahkan tak menoleh. Ada apa ini? Sudahkah kau lupa, Ric? Tiba-tiba Tyas datang menghampiriku–tepatnya berjalan ke arahku. Kusodorkan tangan, kusapa ia lebih dulu, “Hai Tyas..” Dia tersenyum, tapi tangannya menyambut tangan Eric yang berdiri di sampingku. Aneh. Kenapa tak ada yang mengenaliku? Apakah aku terlihat berbeda dibanding masa SMA dulu?

Perasaan sedih dan penasaran bercampur kuat. Kenapa mereka tak mengenaliku? Berat badanku hanya berkurang 3 kilogram dibandingkan dulu dan aku rasa ini bukan alasan wajahku jadi beda. Atau mungkinkah teman-temanku membenciku? Apa salahku? Sibuk menerka-nerka, pikiranku pecah oleh suara Bayu, ketua OSIS SMA dulu.

Teman-teman SMA Budi Perkasa, terutama kelas 3 IPA 2, mohon perhatiannya sebentar. Baru saja ada kabar duka. Aryo, salah satu teman kita mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju ke sini. Ia meninggal seketika. Mari teman-teman, kita berdoa agar Aryo diterima disisi-Nya. Amin.”

Hening beberapa saat, lalu terdengar kasak-kusuk di mana-mana. Seolah-olah tak percaya apa yang terjadi.

Aryo….
Hmm, Aryo.

Heyy!! Itu kan aku! Bagaimana bisa Bayu memberitakan aku telah meninggal sedangkan aku ada disini? Lancang sekali dia! Kuhampiri Bayu yang sedang sibuk dengan beberapa panitia. Aku akan protes. Apa-apaan ini? Lelucon yang sama sekali basi!

Belum juga sampai di tempat Bayu berdiri, sebuah cermin menyadarkanku. Tubuhku tak memantul. Kulihat sekali lagi, tetap hampa. Kuraba tubuhku, kudapati darah segar mengalir dari beberapa bagian tubuh. Pekat dan hangat. Tak kuasa menolak kematian, berangsur-angsur ragaku memudar lalu menghilang

Advertisements