Kukunyah sisa permen karet yang sudah tak berasa. Kubuang sembarangan, seraya mataku menatap jauh ke depan, menembus tembok rumah susun di depanku. Sore-sore begini memang lebih enak dinikmati sendirian. Memperhatikan tingkah anak-anak bermain bola, pikiranku melayang ke dalam labirin waktu kira-kira 4 bulan lalu.

 

“Den, masa masih mainan facebook? Udah gak jaman tuhhh…” Mili, teman kecilku tiba-tiba duduk disampingku ketika aku sedang online di warnet dekat rumah.

“Terus?”  tanyaku basa-basi. Mataku tak beranjak dari layar mnitor, sibuk membalas komentar yang masuk di dinding akunku.

“Twitter doooonggg.. Lebih asik. Artis-artis juga banyak yang pake”

“Terus apa gunanya?” tanyaku lagi.

“Ah, yang penting punya dulu lahhhh…” jawab Mili sekenanya.

 

Aku tersenyum mengingat hal itu. Sebuah tuntutan sosialkah yang membuatku harus mengikuti apa kata Mili? Seperti halnya beberapa hari setelah kejadian itu, sebuah alasan lainnya datang menghampiri. Kali ini bernama Blackberry. Dan setan yang mencoba mempengaruhiku bernama Arjo.

 

SMS-an, lo?” ,Arjo menghampiriku tiba-tiba selepas kami latihan futsal.

“Hmm”

“Masih jaman, gitu?”

“Maksudnya?” .Agak risih dengan ucapannya, kupalingkan wajahku ke arahnya. Alis kanan kunaikkan, tanda tak mengerti maksud kata-katanya.

“Blackberry, Den. Sekarang semua pake BB”

“Se-mu-a?? Yakin?” Kuulangi jawabannya dengan mengeja. Sengaja agar dia tahu letak kejanggalan dari ucapannya.

“Yaaaa..gak semuanya sih.. Tp mayoritas” Tampak jelas Arjo mencari pembenaran atas ucapannya.

“Gimana dengan si minoritas? Apa masih bisa diterima?”

Arjo diam. Perlahan ia beranjak pergi. Mukanya masam.

 

Alasanku belum menggunakan gadget itu memang klasik : keuangan. Mana bisa aku membeli barang sekunder kalau primer pun aku masih kewalahan? Aku tergelak getir. Ah, tak menggunakan BB juga aku masih bisa bernafas, bukan? Sebuah pembelaan diri, kupikir. Andai saja keadaan sedikit lebih baik, mungkin aku bisa membeli kemewahan kecil itu. Aku menghela nafas.

 

Tiba-tiba… DUUKK!!
Sebuah bola kaki tepat mengenai punggungku. Sukses membuyarkan lamunan yang terangkai.

“Hei, hati-hati dong..” ujarku seraya menengok arah datangnya bola. Tampak Rudy datang menghampiri, tangan kanannya membawa es krim batang.

“Makanya, sore-sore gini jangan ngelamun. Kayak gak ada kerjaan aja lo..”

Ia cengengesan, mulutnya terus menikmati es krim batang itu. Sesekali lidahnya turut serta.

“Apa tuh?” tanyaku “Maksudku, es krim apaan?”

“Magnum, boy. Belgian Chocolat. Lo belum pernah coba?”  Aku menggeleng.

“Ahhh… Udik lo ah. Lagi jadi obrolan nih. Kemana aja lo?”

 

Lagi-lagi aku dihadapkan dengan ‘tuntutan sosial’. Haruskah aku mengikuti apa yang mereka sebut-sebut sebagai ‘tiket pergaulan’ itu? Twitter, Blackberry, lalu Magnum. Besok apa lagi ya? Namanya juga manusia, pikirku. Tak pernah puas dan akan selalu penasaran dengan hal baru. Tak salah juga, asal bijak menyikapinya. Aku terkekeh, lalu pergi meninggalkan Rudi sendirian.

Advertisements