Sore itu, seperti biasa kusempatkan menatap Mela sejenak. Kupandangi dari ujung rambut hingga kaki. Cantik. Sepertinya ia memang telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk malam ini. Rambutnya bergelombang, wajahnya diberi sapuan make up yang pas. Coba lihat gaun yang memeluk tubuh rampingnya. Seksi! Kurang apalagi? Tak habis pikir atas alasan pria-pria yang menolaknya dengan alasan murahan. Terlalu dibuat-buat. Cih!

Suatu waktu, pernah suatu kali aku mendapatinya menangis. Mukanya merah memendam marah bercampur malu. Kudekati, kuusap pundaknya sekedar memberikan ketenangan.“Aku benci Andy! Aku benciiii!!” Hanya kalimat itu yang terucap. Selanjutnya cuma tangis yang terdengar. Belakangan baru kutahu, Andy hanya memanfaatkan tubuh dan kecantikannya. Alasan yg sama yang pernah terlontar dari pria sebelumnya. Biadab kalian! Wanita secantik, secerdas dan seanggun Mela tak pantas diperlakukan seperti itu. Dia layak mendapatkan lebih dari kalian, tunggu saja. Nafasku memburu mendengar ceritanya. Ada empati yg besar terhadapnya.

Kutatap lagi, kali ini dia menyadarinya. Senyumnya mengembang malu-malu ketika beradu pandang denganku. Ah, Mela. Andaikan aku belum beristri, gumamku. Hahh!! Apa-apaan ini? Nana, istriku tak kalah cantik. Dan ini bukan saatnya membandingkan. Aku hanya ingin menikmati pemandangan indah di depanku. Itu saja.

“Abang, sudah lama disitu ngliatin Mela?” tanyanya manja. Pipinya merah, seperti bibirnya.

Kujawab dengan anggukan kecil.“Mau kemana, Mel? Cantik banget..”

“Cuma makan malam kok, Bang”

“Sama pacar?”

Pertanyaan terakhir tak kau jawab. Hanya senyum getir yang kau tunjukkan.

Aku mengenal Mela sejak lama, ketika ia masih seorang gadis kecil. Dan setahuku, nyaris tak ada yang berubah darinya kecuali wajahnya yang semakin ayu. Tingkahnya masih malu-malu dengan nada suara yang lembut, terlebih jika berbicara denganku. Matanya melirik sekeliling sebelum menjawab pertanyaanku. Seperti takut kepergok orang lain. Seakan-akan obrolan kami tidak untuk diketahui orang lain. Entah kenapa. Tapi sekali lagi, itu tak jadi masalah buatku. Khayalanku mulai menjajah logika. Untung mulutku masih bersahabat dengan diam. Keadaan masih aman.

“Papaaaah…………………”

Terdengar teriakan dari luar kamarku. Suara Egi-anakku, membuyarkan balon-balon khayalan.

“Pah, ditungguin Mama di mobil tuh. Katanya mau makan malam di luar? Ayo Pah, buruan..”

Kuhela nafas. Kurapikan bajuku, sekilas mataku kembali melirik cermin. Tersenyum pasrah pada Mela.

“Kita ketemu secepatnya, Mel..” lirihku.

Advertisements