PLAKK!!

Sebuah pukulan benda keras menghentikan langkahku. Tubuhku roboh seketika. Cairan kental keluar dari perutku yang terkoyak. Kuraba bagian atas tubuhku. Kurasakan kepalaku bergesar beberapa senti dari tempatnya semula. Gelap, sedikit terang, gelap lagi. Apakah ini rasanya sekarat ?

***

Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya kuhabiskan dengan berkeliling halaman depan rumahku. Saat seperti ini sangat tepat untuk memantau Sisil, gadis manis yang tinggal di kontrakan seberang jalan. Biasanya, selepas isya’ ia akan mencari udara segar di teras. Sekedar menghindari pengapnya suasana di dalam rumah atau alasan lain, yang pasti aku merasa terhibur dengan melihat pemandangan dari jarakku ini. Tapi malam ini ada yang berbeda. Seorang pria tampan datang menemaninya di ruang tamu. Ah..dia lagi, umpatku. Pria yang baru lima kali kulihat ini, akhir-akhir ini rajin berkunjung.

Perlahan, kudekati mereka. Bak seorang mata-mata, kuperlahan langkahku. Berusaha tak sedikitpun menimbulkan suara. Kuamati, tangan pria itu meremas jemari Sisil. Kurang ajar! Berani-beraninya dia mendahuluiku. Tangannya perlahan merambat naik, berhenti sejenak di tengkuk kemudian mulai membelai rambut Sisil. Mereka bertatapan, lalu saling merapat. Bibir pria itu maju lima senti mendekati bibir Sisil. Tuhan, beri aku kekuatan. Aku tak kuasa melihat adegan selanjutnya. Dadaku naik-turun, nafasku memburu. Harus kucegah! Aku tak mau Sisil tersakiti. Pria itu pasti hanya menginginkan tubuhnya saja. Hey, tunggu! Kupercepat langkahku mendekati mereka. “Sisil, jangan lakukan itu! teriakku sambil membentangkan tangan berusaha melindunginya. Tiba-tiba…

“Kyaaaaaaaa…..cacinnggggggg!!!” Sisil berteriak histeris. Bukannya melepaskan, tangannya semakin erat memeluk pinggang si pria. Selayaknya pangeran yang ingin menjadi pahlawan di depan puterinya, dengan sekuat tenaga pria itu melemparkan sandal ke arahku.

PLAKK!!!

Advertisements