Angin malam mengusik rambutku. Mengacak-acak layer hingga sedikit menutupi muka. Tatapanku menerawang jauh menembus bangunan di depanku. Kopi yang kuaduk telah dingin. Kepulannya menguap mubazir bersama menit yang berlalu. Aku masih terpaku disini, di balkon sebuah apartemen mewah. Seorang laki-laki dewasa tertidur pulas di ranjang, tak terusik oleh keberadaanku. Terlalu lelah mungkin. Dengarkan dengkurannya yang beradius 2 meter, itu tanda ia sangat kelelahan atas aktivitasnya seharian ini. Mungkin juga 2 jam terakhir. Kutatap lagi laki-laki itu, apakah aku mencintainya ? Pertanyaan besar untuk diriku sendiri. Jawabannya, aku pun masih perlu bantuan orang lain untuk menemukannya. Yang kutahu, sejak mengenalnya aku tak pernah mengerti apa itu cinta. Definisi paling sederhana pun tak mampu kujelaskan. Sungguh sebuah kata yang kini menjadi asing bagiku. Kuhela nafas, kuseruput kopi dingin di tanganku. Mataku beralih ke laptop di pangkuan. Ada sesuatu yang mengusik perasaanku.
Surat elektronik itu kubaca ulang. Ada perasaan bersalah ketika kulumat lagi kata demi kata yang tertulis. Tapi sudahlah. Aku sudah memilih untuk begini, Gus. Demi keluargaku, adik-adikku. Maafkan aku. Setidaknya kau tahu sekarang.

***

From : Bagus Reynaldi <gusbagus@yahoo.com>
To : Martha “M” Savitri <marth585@gmail.com>

Dear you,
Aku hubungi ponselmu, tak ada yang aktif. Maka kuputuskan utuk mengirimu e-mail saja.

Aku selalu mencintaimu, Martha. Tetap akan selalu mencintaimu walaupun teman-temanku terus membodohiku. Mereka bilang ini-itu tentangmu. Terakhir bilang, kau punya pacar lain. Laki-laki lain ynag lebih menjaminmu dari segi materi, bisa memberimu apapun yang kau minta. Membelikanmu mimpi yang bahkan kau belum pernah sekalipun memimpikannya. Dan-ini mungkin penting-ia tak cacat sepertiku. Itukah inginmu ? Sejak kapan, M ?

Aku mengenalmu cukup lama. Hampir dua setengah tahun kita bersama dan sejauh itu aku tak pernah melihatmu ‘gila harta’ atau ‘gila fisik’. Kau wanita sederhana. Kini semuanya seolah-olah serba materi dan kepuasan mata bagimu. Aku yang tak pernah tahu, atau kamu yang selama ini berpura-pura ?

Mungkin kau telah berubah, M. Atau keadaan yang membuatmu berubah. Bisa juga aku yang terlalu bodoh untuk tahu kalau materi ternyata memang telah manjadi bagian dari cinta. Juga fisik yang sempurna. Oh, stupid me ! Lebih menyedihkan lagi karena selalu ada kata maaf untukmu. Aku bahkan masih menerimamu dan berusaha tak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini aku selalu menganggap semua berita teman-temanku hanya omong kosong. Serangkaian becandaan mereka yang bukan untuk ditanggapi serius. Yah, setidaknya sebelum aku melihatnya sendiri. Kemarin lusa di La Piazza, aku melihatmu disana bersama laki-laki yang gambaran fisiknya mirip dengan dugaan beberapa temanku. M, benar kan itu kamu ?

Kalau benar pria itu bisa lebih membahagiakanmu, aku akan berusaha ikhlas. Tak perlulah kau menghindariku seperti ini. Cukup kita bicara, apa maumu. Selesai.

Sudahlah, M. Cinta dan idiot memang beda tipis. Tapi tak apalah. Akulah si idiot yang selalu ingin melihatmu bahagia, meski setiap jengkal kebahagiaanmu, berarti bertambah juga kadar idiotku.
***

Kuhela nafas. Air mata meleleh di pipi. Itukah yang disebut-sebut sebagai cinta ?

Advertisements