Aku masih duduk di Lust Cafe sejak 2 jam lalu. Mataku tak lepas dari langit hitam yang menelan semburat jingga. Di meja, sebuah cangkir dengan noda lipstik berwarna merah terukir indah. “Ah, Dira…” desahku, mengingat seorang wanita yang menemaniku 1 jam terakhir.

***

Kita tak selamanya bisa begini, Jo” desak Dira.
Tapi aku tak mau kehilanganmu. Aku…aku ss-sayang kamu. Kau tahu itu” cecarku.
Aku tahu. Tapi Margie-istrimu, itu temanku. Bayangkan kalau dia tahu
Ah! Kenapa aku selalu kalah oleh Marcus, suamimu itu?!”
Bukan begitu, Jo. Oke, make a deal. Kita akan tetap begini. Temui aku disini setiap jam 5 sore. Deal?”

Itulah mengapa aku selalu mencintai senja. Karena di setiap senja, selalu kutemukan Dira.

Advertisements