Kertas putih dua lembar itu masih kupegang. Ada perasaan berkecamuk yang kurasakan. Berkali-kali kuseka air mataku yang mendadak deras mengaliri pipi.

Namaku Betty, panggil saja begitu. Teman-teman juga cukup mengenalku dengan rangkaian 5 huruf itu. Hari ini aku harus mengisi formulir untuk kelengkapan syarat-syarat bekerja. Birokrasi yang bertele-tele, gumamku. Kenapa juga harus mengisi tetek-bengek yang tak penting ini? Ah!

Air mataku kembali mengalir ketika kutuliskan nama WENING SUKMANINGRUM, nama ibuku. Betapa beliau begitu membenciku karena pilihanku. Tapi bagiku, namanya tetap kuletakkan di kolom ‘Nama Ibu Kandung’.

Tanganku bergerak ke kolom jenis kelamin. Lama aku terdiam. Harus kutulis apa disini? Ah, andai saja ada pilihan ketiga diantara dua jenis kelamin yang tertulis itu..

Advertisements