Tirai lembut yang terbentang di jendela perlahan kubuka. Sengaja kulakukan, agar aku bisa melihat butir-butir air langit yang mengucur deras sejak dua jam yang lalu. Udara sore mendadak lebih dingin dari biasanya. Dengan secangkir cappucino hangat dan biskuit gandum, aku duduk di pinggir kusen untuk sekedar melihat pemandangan hambar di luar sana. Hambar, karena nyaris tak ada kegiatan berarti yang terlihat. Jalanan lengang, toko-toko sepi pengunjung. Agaknya, hujan lebat sore ini menyurutkan semangat orang untuk sekedar melakukan kegiatan diluar. Kalau bisa ditunda, pasti mereka memilih melakukannya besok, pikirku.

Kubuka ponsel. Jempolku lincah menjelajahi deretan pesan di kotak masuk, sampai akhirnya berhenti di sebuah pesan dari satu tahun lalu. Kubuka pelan, nafasku selalu terhenti membaca deretan kata-kata itu. Walaupun telah ratusan kali kubaca, rasanya tetap sama. Waktu itu, keadaannya hampir sama seperti sore ini. Hujan.

“Aku mau ke Jakarta pagi ini. Gak usah jemput aku, biar aku naik taxi dari bandara ke tempatmu. Siapkan semangkuk hot spicy noodle yahh”

Ada tangis tertahan yang kurasakan. Tidak! Aku tak boleh menangis lagi. Meskipun hujan dan pesan singkat ini akan terus mengingatkanku padamu, tapi ini pilihanku. Ini satu-satunya kenanganmu yang tersisa sebelum pesawat yang kau tumpangi dari Changi jatuh sebelum terbang. Bahkan burung besi itu belum lima menit mengangkat tubuhnya.

Samar, kucium bau bawang dari mie instant rebus kesukaanmu. Bau ini, selalu muncul bersamaan dengan kenanganku tentangmu. Kudukku merinding, aku tersenyum. Kau menemuiku, Sayang..

Advertisements