“Suka Harum Manis juga?”

Seorang lelaki mengagetkanku ketika aku asyik menyobek paksa Harum Manis. Dengan terburu-buru segera kutelan potongan besar, lalu kikuk mengangguk.

“I-iya. Kamu juga?” Kulirik dengan ekor mataku. Sialan! Ganteng!

“Aku suka sesuatu yang manis” jawabnya sambil terus mengunyah pelan Harum Manis.

“Biasanya, laki-laki lebih suka gurih, kan..” tebakku.

Tawanya meledak. Aku tak tahu di bagian mana dari kalimatku yang lucu, tapi kulihat dia tertawa sangat lepas.

“Hahaha, memangnya ada ya rasa khusus perempuan atau rasa untuk laki-laki? Setahuku, rasa diciptakan untuk dinikmati bersama”

Tawanya kembali meledak, hanya ritmenya lebih pelan. Sejurus kemudian, aku merasa sangat bodoh dengan ucapanku lima menit yang lalu.

Suasana pasar malam semakin penuh. Belum juga aku bertanya lebih lanjut, desak-desakan orang membuat lebar jarak diantara kami. Alih-alih mencari, aku tak kunjung bisa menemukan wujudnya. Terlalu banyak manusia membuatku tak bisa mengenali dengan cepat. Sial. Bahkan kami belum berkenalan. Mana bisa aku meneriakkan namanya, memberitahu posisiku yang terpisah? Bodohnya aku, gerutuku.

*****

Seminggu setelah kejadian itu, aku masih rajin membeli Harum Manis di tempat yang sama. Berharap bisa menemui lelaki itu disana. Mengulang lagi obrolan yang nanggung waktu itu, dan tentunya menanyakan namanya. Inginku, sih, dia meminta nomer ponselku.

Harum Manisku hampir habis, dan sosok lelaki itu tak kunjung muncul. Berbanding terbalik dengan wajahnya yang rajin menghantuiku, tawa lepasnya yang masih bisa kudengar jelas, dan suara bass-nya yang terkesan misterius. Ah, sial. Apa-apaan ini? Apakah aku jatuh cinta dengan orang asing? Atau ini cinta sejati yang kucari, yang berawal dari cinta pada pandangan pertama?

Desir angin melayangkan pertanyaanku, sementara mulutku terus menikmati Harum Manis. Kali ini bukan manis yang ada, tapi rasa lain yang lebih kental : rindu.

Advertisements