Surat ini kubuat saat hujan mulai brutal membasahi kota ini. Sesaat udara dingin ini menuntun jemariku untuk menuliskan sedikit perasaanku yang masih saja merindu.

Untukmu, yang pernah kuminta jadi kekasihku; dengan sangat menyesal aku akan mengatakan jujur padamu, bahwa aku masih sangat menyayangimu. Pun, ketika kau mulai meragu. Entah, aku tak bisa pergi dari tempatku berdiri saat ini. Perasaan yang begitu kuat, tertanam jauh ke dalam tempatku berpijak.

Kemarin, saat jarak harapanku tinggal seperempat jengkal darimu; tiba-tiba kau bangun tembok kokoh di balik pintumu. Memang, kau tak mengusirku keluar–karena aku tak pernah kau persilahkan masuk–tapi kata-katamu, seolah belati tajam yang kau sematkan perlahan. Pelan.

Aku senang membuka pintu dan bermain bersama kamu..tapi aku sadar, itu bermain di luar, di pekarangan hati.. Bukan mengajak kamu bermain di dalam..”

Kau ingat itu, Sayang? Kau katakan sehari setelah kita sangat dekat. Setelah berminggu-minggu merajut romansa. Beberapa hari setelah kau izinkan aku menyematkan bibirku di pipimu. Membuatmu merona dan merajuk manja padaku. Dan kau katakan pipimu akan merona hanya untuk orang-orang tertentu. Itu aku? Hanya kamu yang tahu.

Manisku, kalau kau mengira aku menulis surat ini dengan tetesan air mata; maaf sekali, kamu salah kali ini. Walaupun aku tidak baik-baik saja; tapi sejak mengenalmu, aku sadar betul arti keikhlasan. Belajar mengartikan kesabaran–yang selama ini kurang kumiliki. Luka ini, kuanggap sebagai resiko karena berani mencintaimu.

Hujan masih lebat, dan aku ingin sekali keluar menikmatinya. Merasakan guyuran air langit yang selalu mengingatkan tawaranmu dulu,

“Mau hot spicy noodle or a warm kiss?”

Kau tersenyum saat itu, lalu kita tertawa. Alunan suara Buble mengalun menemani percakapan kala hujan, saat itu.

Kamu, yang pernah kuinginkan jadi kekasihku; terima kasih telah membuat hari-hariku jadi sangat manis kemarin. Dan sejujurnya, aku masih merasakan sampai sekarang. Karena senyummu, pipi merah mudamu, dan perhatianmu masih kau suguhkan untukku. Manis, selayak arumanis yang kau sukai. Tapi aku juga harus tahu diri. Bahwa manis yang kau suguhkan, tak seperti manis yang kuharapkan.

Manisku, boleh aku menitipkan kekata untukmu? Pesanku, siapapun nanti yang berhasil merebut hatimu; dia harus orang yang benar-benar membuatmu bahagia. Orang yang mencintai kekuranganmu, sama seperti kelebihanmu. Dan dia harus bisa membuat pipimu, merona kemerahan.

Ohya, satu lagi. Tolong katakan padanya, betapa beruntungnya ia. Sangat.

Dari aku, yang masih menyayangimu,
P

Advertisements