“Mbak, nanti aku dibeliin harum manis, ya..”
“Tenang aja, pasti itu”

Aku dan Laras memutuskan berjalan-jalan ke pasar malam, selepas kerja. Sekedar menepati janjiku untuk mengajak salah satu pengamen cilik bersuara merdu yang kukenal setahun lalu itu menikmati harum manis kesukaannya.

“Berapa, Mas?”
“Lima ribu, mbak. Mau berapa banyak?”
“Dua..”
Kuberikan gulungan permen awan berwarna merah muda itu pada Laras. Ia tampak senang. Matanya berbinar terang. Tawa polosnya selalu membuat lelahku menguap tanpa sisa. Aku senang membuat Laras tersenyum. Ia gadis lucu yang kurang beruntung.

Ccciiiiiitttttt!!!!!!
Derit ban truk yang berhenti mendadak mengagetkanku. Lamunanku buyar, kutoleh ke arah suara. Sesosok gadis mungil yang menggenggam harum manis tergeletak di depannya. Tak bernyawa.

Advertisements