Namaku Wening. Aku tinggal di rumah keluarga Handoyo sudah cukup lama. Seingatku sudah lebih dari 10 tahun. Dan selama itu pula, ada banyak cerita yang aku terjadi, dan aku menyaksikan semuanya. Pertengkaran, romansa, kelahiran anggota keluarga baru, kematian, atau hal-hal sepele seperti bertambahnya koleksi kucing Persia mereka. Termasuk, melihat sendiri perkembangan dari keluarga itu.

 

Dari semua anggota keluarga Handoyo, hanya Dino yang menarik perhatianku. Si bungsu itu telah menjelma menjadi lelaki tampan. Aku mengenalnya sejak dia masih berseragam putih biru,hingga kini dia telah berumur 22 tahun. Semakin matang, dan garis2 kelaki-lakiannya semakin tegas. Ah ! Sepertinya aku telah jatuh cinta padanya. Hmm, sebenarnya aku tak tahu apa itu jatuh cinta. Tapi kata orang-orang, perasaan mengagumi ini salah satu tanda jatuh cinta. Benarkah ? Pasti pipiku merona memikirkan hal itu. Tapi, kisah cinta memang tak selalu indah, bukan ? Dino tak tahu perasaanku ini. Atau dia sebenarnya tahu tapi hanya pura-pura tak tahu ? Aku kan selalu memandanginya tiap hari, apa dia tak merasa ? Juga mengawasi semua kegiatannya di rumah ini, selalu tersenyum ketika dia henak keluar rumah, dan menunggunya pulang selarut apapun. Kurang pekakah dia ?

 

Seperti keadaan sore itu, Dino datang kerumah dengan seorang gadis. Mereka duduk di ruang tengah, tepat di depanku. Siapakah gadis itu ? Umm… cantik. Terlihat modern jika dibandingkan aku. Rambutnya bergelombang indah, gaunnya berwarna tosca dan sangat pas dengan tubuhnya yg ramping. Sedangkan aku ? Mendadak ku amati diriku sendiri. Rambutku panjang lurus sepinggang, terlihat membosankan tanpa ada layer. Bajuku hanya terusan bunga-bunga yang kalau diamati lebih cocok dipakai wanita yang hidup di tahun 70-an. Kuno. Aku pernah dengar kalau model seperti ini dinamakan vintage. Tapi sepertinya Dino lebih tertarik dengan gadis bergaya modern ketimbang vintage.

 

Aku masih memandangi mereka. Menyaksikan pemandangan yang seharusnya tak kulihat. Dino mengatakan hal-hal yang membahagiakan sehingga gadis itu tertawa kecil, merona dan tertunduk malu. Tangan mereka erat tak terlepas, sesekali jemari Dino mengusap pipi gadis itu.. Ohh Tuhan, kuatkan aku. Dadaku tak pernah sesakit ini. Rasanya persendianku melunak dan aku bisa merasakan semuanya meleleh seperti lilin. Dino memang tak pernah menganggap keberadaanku. Memandangiku saja tak pernah, apalagi menyapa. Rutinitasnya kalau pulang kerumah adalah langsung masuk dan naik ke lantai atas-ke kamarnya, atau ke dapur kalau sedang lapar. Padahal, aku selalu berdiri disini, di dekat tangga. Menungguinya. Menyakitkan sekali, bukan ? Dan itu terjadi selama ini. Sepuluh tahun.

 

Lamunanku mendadak dibuyarkan dengan kedatangan Bu Handoyo bersama 2 pria asing. Mereka membawa sesuatu berbentuk persegi panjang yang tertutup kain putih. Bu Handoyo memandangiku dari tempatnya berdiri, lalu berbicara pada salah satu dari pria itu. Aku tak tahu apa yng mereka bicarakan. Aku hanya tahu, 2 pria itu tiba-tiba meraihku, menggendongku dan membawaku dengan paksa. Aku meronta. Berteriak sekuat aku bisa. Menangis meski tak ada air mata lagi. Apapun aku lakukan untuk menghentikan perlakuan kasar mereka. Apapun. Termasuk, menjerit-jerit memanggil Dino yang masih asyik dengan gadisnya. Dino tolong akuuuuuuu… Tapi Dino tak bereaksi. Kurang kuatkah teriakanku ? Pria-pria itu terus berjalan tanpa menghiraukan teriakanku. Mereka menuju sebuah ruang di belakang rumah. Apa itu ? Oh, gudang ! Kenapa aku harus dibawa ke gudang ? Aku takut kalau harus di gudang. Pasti gelap dan pengap. Banyak tikus dan kecoa. Dino berbuatlah sesuatu. Apa sih salahku ? Apakah mencintai Dino, anak si pemilik rumah itu salah ? Tolong beritahu salahku, siapapun. Aku terus meronta dalam isakku. Sampai lemas tubuhku meronta dan kering kerongkonganku karena terus-menerus berteriak. Lelah. Aku pasrah diletakkan di sisi mesin jahit kuno, di dalam gudang.

 

Tolong ditutup dengan kain itu, Mas. Lukisan itu peninggalan Ibu saya, jadi jangan sampai tambah rusak. Nanti, selesai beresin ini tolong lukisan yang baru itu dipasang di tempat yang sama ya.” kata bu Handoyo seraya menunjuk kain putih untuk menutupiku.

 

Ah, Dino… meski hatiku hancur. Meski aku tak bisa memandangimu lagi, tapi aku tetap mencintaimu.

Advertisements