Namanya Lastri. Terbaca dari namanya, pasti wanita itu cantik. Memang, kuakui. Usianya masih muda, baru awal duapuluhan. Terakhir bertemu dengannya, tiga bulan lalu. Saat bulan tepat di atas kepala, dalam bentuk paling sempurna. Tak pernah ku lupakan hal itu.

Malam ini, tepat seperti saat malam terakhir aku bertemu dengannya, kuputuskan untuk menemuinya. Ada rasa rindu yang mendalam, juga rasa yang tak terdefinisikan yang harus aku sampaikan padanya.

***

Berbekal alamat dari dukun kampung sebelah, aku memantapkan hati menemuinya.

Tok..tok…

Pintu rumah bernomor 23 kuketuk. Lima menit berselang, terdengar suara langkah mendekat, lalu pintu terbuka.

“AAAAHHHHHHHHHHH……”

Histeris.
Lastri gemetar, wajahnya pucat melihatku. Ah, mungkin salahku juga, mendatanginya malam-malam masih dalam wujud orok 3 bulan.

Advertisements