Wanita di depanku itu bernama Maya, umurnya masih 20 tahun. Berparas eksotik dengan kulit tanned yang terawat. Tubuhnya padat dengan sepasang kaki panjang bak kaki belalang. Dari semua deskripsi yang kujabarkan tadi, ada satu yang menjadi daya tarik utama buatku. Setidaknya, jadi fokus pertama saat bertemu dengannya. Yap, payudara. Maya memiliki buah surga dunia itu dengan ukuran yang wah! Kalau aku kira-kira, mungkin dia menggunakan kutang berukuran 36B. Yang lebih spesial lagi, aku yakin payudaranya asli. Bukan karena tambahan silikon atau hanya karena kutangnya di beri sumpal busa tebal di bawahnya. Bukan! Aku bersumpah untuk itu.

Mataku tak berkedip melihat kemolekan tubuh Maya. Bagian dada yang membusung tinggi itu sengaja tak di beri penutup yang memadai. Tak ada setengah dari dadanya tertutupi membuat pikiranku tak bisa diam tenang. Nafasku mulai memburu saat ku lihat matanya mengerling genit ke arahku. Senyum di bibir tipis dengan sapuan lipstik warna merah jambu itu seolah-olah menyapa hangat, “Hai, mau duduk di sebelahku?” Aku kliyengan. Susah sekali untuk menjadi alim di saat seperti ini. Kakiku maju dua langkah. Hampir dekat. Senyumnya masih terus di arahkan padaku. Tanganku mulai gelisah. Rasanya ingin meremas payudara itu dan menyakinkan dugaan bahwa itu asli. Maya mengerling nakal. Sepertinya ia tak keberatan dengan apa yang aku pikirkan. Tuhan….

Satu langkah ke depan lagi. Tanganku berjarak 10 cm dari payudaranya. Tuhan, izinkan aku berdosa kali ini. Aku mengiba. Gemetaran hebat melanda saat tanganku tinggal beberapa senti saja dari surga dunia itu.

Tiga..

Dua..

Satu..

Aaaahhhhhhhhh…..!!!!
Kuremas poster wanita dari kalender bekas di dinding kamar.

Sial!

Advertisements