Tek tek tek..
Tek tek tek..

Suara mesin tik tua itu kembali meramaikan rumahku. Rumah mungil di pinggir danau, yang ku huni bersama Kakek. Ya, hanya berdua. Aku tak tahu kenapa hanya ada kami berdua. Kakek tak pernah cerita di mana keluarga kami yang lain. Hanya ada foto keluarga hitam putih di ruang tengah yang aku pun tak tahu siapakah mereka. Mungkin yang agak melegakan adalah, setidaknya aku pernah punya keluarga utuh. Meskipun itu hanya dalam sebuah lembar foto.

Kakek adalah penulis. Setidaknya aku menganggapnya begitu. Di samping meja makan, ada sebuah rak kecil yang menampung naskah tulisannya. Semuanya belum pernah terpublikasi. Mungkin, Kakek menulis hanya untuk dirinya sendiri.

Tek tek tek..
Tek tek tek..

Mesin tik tua itu kembali bersuara. Ku lihat jam, sudah hampir jam dua pagi, tapi Kakek masih setia di meja kerjanya. Harusnya untuk tubuh renta itu, ini sudah lewat waktu tidur. Kakek memang sering lupa waktu, apalagi menulis adalah hobinya sejak remaja.
“Kek, sudah larut. Waktunya beristirahat” kataku mengingatkan. Percuma. Ini sudah kali keenambelas sejak jam sepuluh malam tadi, dan Kakek masih terus mengetik.

Tek tek tek..
Tek tek tek..

Apa boleh buat, aku harus melakukan ini. Demi kebaikannya juga. Mungkin agak kurang sopan, tapi ‘mengusir’ secara halus jadi pilihanku setelah semua bujuk rayu untuk beristirahat tak digubrisnya.

Perlahan aku menuju dapur. Di dekat tungku kecil, aku duduk bersila. Ku bakar kemenyan sisa kemarin. Seiring asap lembut itu mulai naik, ku pejamkan mata. Doa-doa pengusir hantu ku rapal.

“Maaf, Kek. Aku letih, butuh tidur. Aku tahu kau pun juga ingin beristirahat dengan tenang”

Advertisements