“Sendiri tidak selalu salah. Yang salah adalah menyalahkan diri sendiri..”

Malam ini saya memutuskan untuk menonton film di bioskop. Sendiri. Ya, sendiri. Ada yang aneh dengan menonton bioskop sendirian? Bagi sebagian orang mungkin jawabannya adalah “YA”. Tegas tanpa ragu-ragu. Apalagi kalau tahu film yang saya pilih adalah film drama romantis No String Attached. Silahkan menertawakan saya, tapi saya memang sudah merencanakan nonton film yang dibintangi Natalie Portman dan Asthon Kutcher itu beberapa hari lalu bersama pacar. So, kenapa malam ini saya nonton sendiri? Ada ceritanya. Yang jelas, siang tadi kami tertengkar hingga kami memutuskan untuk (..putus? –hey, damn you!!) stop komunikasi sampai waktu yang ditentukan. Kapan? Eiitss, wontunooo aja ๐Ÿ˜›

Jadilah malam ini saya mengarahkan Bella (Ya, itu nama motor saya. Ada masalah?) ke XXI. Tak perlu menimbang-nimbang lagi pilihan film saya, karena saya pikir film action sudah saya tonton kemarin bareng pacar, so it’s time to drama. Yeah!! Dengan percaya diri saya melangkah ke loket dan mantap menjawab “SATU” ketika ditanya oleh petugas tiket “Untuk berapa orang?” (mungkin saya terlihat aneh atau apalah, tapi yang jelas saya akan jambak rambuk mbak tiket itu kalau sampai tertawa). ‘Keganjilan’ tak sampai di sini saja, karena ternyata mental saya masih saja di uji hingga di dalam bioskop. Ya. Dalam studio 6 tempat film itu di putar, hanya ada saya yang menonton tanpa membawa pasangan! Hmm, baiklah. Detilnya seperti ini : ada 7 pasangan kekasih, dan 3 orang yang terdiri dari 2 laki-laki dan 1 perempuan. Saya tidak tahu apa keadaan saya yang sendiri ini lebih tampak menyedihkan atau malah menguntungkan dibanding dengan salah satu dari laki-laki yang entah sedang mengantar temannya pacaran di bioskop. Entah. Hanya Tuhan yang tahu (tiba-tiba mewek).

‘Penderitaan’ saya tak cukup sampai di situ. Jalan cerita film yang romantis seharusnya memang lebih manis jika ditonton bareng sang kekasih sembari menggenggam tangannya. Tapi saya? Alih-alih menggenggam tangan pacar, saya pun meremas blackberry. Dem! Sejalan dengan film yang terus berputar, pikiran saya terbagi antara memikirkan pacar (ya! adegan film drama selalu mengingatkan kita pada pacar, meskipun sedang bertengkar) dan mengikuti jalan cerita film.

Sembilan puluh menit kemudian, film usai. Film romantis yang manis dan happy ending itu–jujur–tidak bisa dinikmati dengan perasaan seperti ini, ternyata. Menyesal menontonย  film romantis sendirian? Saya berani jawab “tidak” dengan tegas. Kalau saya memaksakan menonton bareng pacar pun, film ini tak akan terasa romantisnya. Mungkin lebih buruk, karena kami sedang saling cemberut. Jadi saya pikir, di luar perasaan saya yang sedang gado-gado, menonton film ini sendiri adalah pilihan terbaik. Dan kalau ada pertanyaan ‘Apa saya terhibur dengan pilihan film itu?’ Saya bisa jawab ‘IYA’ karena film romantis tentunya bisa membuat kita bersemangat memperbaiki hubungan dengan pacar yang sedang tidak bagus (ya, saya juga tentunya pengen happy ending seperti film tadi, dong)

Yang jelas, tak ada yang salah dengan menonton film (apapun) sendirian. Tak perlu malu, karena dalam keadaan galau, kita yang paling tahu apa yang kita mau. Pun, obat manjur apa yang bisa cepat menyembuhkannya ๐Ÿ™‚ Asal jangan keseringan aja.. ๐Ÿ˜›

Advertisements