“Orang yang merokok karena pengen dianggap keren itu sesungguhnya adalah tidak keren”

Hari ini (31 Mei) diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Internasional atau World No Tabacco Day . Sepenting itukah bahaya dari tembakau (baca : rokok) hingga perlu satu hari untuk memperingati dan mengkampayekan ke seluruh dunia agar sadar bahayanya? Saya pernah membaca di sebuah blog, bahwa tembakau telah membunuh 100 juta orang pada abad ke-20 dan pada abad ke-21 naik menjadi 1 milyard orang. Malah, tahun ini 600 orang di seluruh dunia  meninggal karena berprofesi sebagai perokok pasif.

Semakin banyak perokok disebabkan gaya hidup yang semakin absurd. Ga merokok, ga keren. Entah dari mana muncul tagline seperti itu. Yang jelas, di kalangan ABG bau kencur muda, ucapan itu acap kali terlontar ketika salah satu teman mereka tak mau menghisap rokok yang ditawarkan. Alih-alih merasa tak enak hati dengan teman, alasan setia kawan dan sebagainya, akhirnya membuat mereka–yang tadinya menolak, menghabiskan berbatang-batang rokok juga. itulah awal. dan dari awal itu, saya yakin, akan tumbuh berpuluh-puluh bahkan ratusan perokok baru.

Semasa SMP dulu, saya juga pernah ada di posisi seperti itu. Ditawari rokok oleh teman sekelas, dan untungnya saya menolak. Kalimat “Ga keren, lo” atau “Banci ah, ga ngerokok” biasanya mengiringi penolakan. Dan saya sama sekali tak tertarik menyentuhnya. Jadi, lo ga pernah ngerokok, Mu? Pernah, sih..waktu SMA. Bukan karena diajak, ditawari atau dibujuk. Murni inisiatif sendiri. Ya. Akibat jiwa galau dan blo’on masih kental (emang sekarang udah cair? :P) maka ketika saya merasakan putus cinta dan merasa sangat stres (hah!!) akhirnya saya memutuskan membeli sebungkus rokok menthol di supermarket. Ga tanggung-tanggung kan, sebungkus lho, bukan ngecer. Hehe… lalu, kenapa sekarang saya bukan perokok? Karena saya tidak menikmatinya. Entah apa yang ada di benak saya ketika asap rokok itu keluar dari hidung dan mulut, tapi rasanya saya sungguh tidak menikmati. Plus, mulut yang pahit dan bau mulut yang tidak enak. Ya, alasan-alasan itu sudah cukup untuk membuat saya tidak menjadi sahabat baik rokok–selain alasan kesehatan, tentu saja.

Lalu, apa yang terjadi pada pergaulan saya? Tidak bermasalah sama sekali. Menurut saya, selama kita punya prinsip kuat, teman-teman di sekeliling juga pasti akan menghormati. Semakin dewasa pertemanan, kalimat-kalimat yang menganggap tidak merokok itu tidak keren lambat laun menguap. Keren atau tidak itu bukan karena merokok. Bukankah lebih keren jika badan sehat?

Sehat itu anugerah.  Dan saya merasa sehat dengan tidak merokok, walaupun saya berteman dengan mereka yang aktif merokok. Terganggu? Tergantung. Kalau kita berada di mayoritas perokok, cari bangku yang agak jauh. Atau minimal asap rokok tidak mengarah langsung ke hidung. Kalau hanya 1 atau 2 saja teman yang merokok, saya akan minta mereka agak menjauh dengan perokok pasif. Sebenarnya lebih pada saling menghormati saja. Sama-sama enak.

Jadi, apapun keputusan kalian untuk merokok atau tidak, itu kembali pada masing-masing. Yang penting sih, tahu apa yang dilakukan. Urusan keren, yakinlah itu bukan urusan merokok atau tidak 🙂

Advertisements