“Bulannya bagus ya, Bu” kata Ires, anak semata wayangku untuk kesekian kalinya.

Sengaja kubalas dengan senyuman. Aku tak pernah bisa jujur mengartikan perasaanku tiap kali bulan purnama.

“Masuk rumah yuk, di luar dingin..” bujukku mengalihkan perhatiannya. Tapi seperti purnama-purnama sebelumnya, Ires tetap enggan beranjak dari bangku teras, sebelum terlelap dalam kantuk.

“Ires mau di sini, Bu. Nungguin Ayah. Kata Kakek dulu, Ayah selalu ke rumah saat bulan purnama.” senyum kecilnya terlihat optimis saat mengucapkan kalimat itu. Di tangannya tergenggam amplop biru muda.

Sambil merapatkan kancing pada baju hangat, kuusap rambut panjangnya.

“Surat buat Ayah, biar Ibu yang bawa. Nanti Ibu sampaikan kalau Ayah mampir. Ires istirahat saja, ya?” Lagi-lagi aku berusaha membujuknya. Nihil. Anak itu tetap dengan pendiriannya, menanti ayahnya pulang.

“Ires mau ngasih surat ini sendiri. Ini surat pertama yang Ires tulis..”

Sepertinya memang sia-sia bujukanku. Segera kuambil selimut, lalu duduk di sampingnya.

***

Bulan membulat penuh. Kuputuskan menggendong Ires yang terlelap di bangku teras untuk pindah ke kamarnya. Dinginnya angin malam tentu tak bagus untuk kesehatannya. Tangan mungil yang sedari tadi menggenggam erat amplop biru untuk Ayahnya, perlahan mengendur. Amplop itu terjatuh dan terbawa angin hingga tersangkut tanaman di sudut teras. “Ah, besok saja kuambil..” kataku seraya menutup pintu.

***

Tidurku tak nyenyak. Bukan karena lapar atau dingin yang menyerang, melainkan suara lolongan serigala yang ramai bersahutan. Ini yang kubenci dari purnama. Gerombolan serigala muncul seolah-olah sedang merayakan pesta penyambutan Dewa. Mereka ramai melolong seperti sedang menyanyikan lagu kebangsaan, lalu berjoget liar di bawah sinar bulan.

Keringat dingin perlahan membasahi dahiku. Aku tak akan pernah lupa akan kejadian itu. Purnama empat tahun yang lalu, saat dua ekor serigala besar menyeret paksa suamiku yang sedang merapikan kayu bakar di samping rumah. Serigala itu menyeret dengan giginya yang besar dan tajam layaknya perangkap beruang. Suamiku meronta tapi sebuah gigitan tepat di tengkuk membuatnya tak sadarkan diri. Tangis dan jeritan Ires kecil tak juga membuat binatang itu melepaskan gigitannya. Terus, dan terus menyeret hingga jauh masuk ke hutan pinus.

Dadaku sesak mengingatnya. Tak terasa mataku telah basah.

***

Sosok dengan nafas berat dan terengah itu berjalan gontai mendekati rumah bercat kuning muda. Kakinya yang besar menimbulkan derit di lantai kayu yang diinjaknya. Teras yang semula bersih itu seketika penuh dengan jejak lumpur. Matanya liar melacak sekeliling. Lalu tiba-tiba ia melompat gesit ke bangku kayu, mengais langit-langit dan melompat turun saat tak menemukan apa-apa. Tiap sudat teras agaknya tak dibiarkannya lepas. Kali ini ia mulai mengendus kolong meja, lalu berjalan terburu ke arah sudut, Langkahnya terhenti saat melihat amplop biru muda milik Ires. Tangannya bergetar saat melihat tulisan anak tujuh tahun itu berjajar di sana. Dari mata merahnya, samar terbaca sesuatu yang dinamakan rindu. Nafasnya kembali memburu saat melihat selembar foto gadis kecil yang sedang memeluk boneka. Sebelum ia tuntas merasakan rindu, terdengar lolongan serigala dari balik kegelapan. Bergegas ia melompat ke luar teras, membalas lolongan, dan berlari ke arah hutan pinus. Dalam langkahnya, tergenggam amplop biru muda.

( ~ Dedicated to all fathers in the world. Happy Father’s Day.. )

Advertisements