Kumasukkan baju-baju bersih ke koper dengan tergesa. Hari ini aku harus pulang ke Blitar. Ada kabar kurang bagus dari rumah. Kabar sedih, lebih tepatnya. Kata Mbak Menuk, Ibu terus-terusan menangis karena kabar itu.

Lebih dari delapan jam perjalanan membuat perasaanku semakin tak menentu. Kabar dari Mbak Menuk yang disampaikan pimpinan Pondok tadi terus membayangi pikiranku. Ada rasa penasaran mengapa hal itu bisa terjadi. Pantas saja Ibu terus-terusan menangis. Beliau pasti belum ikhlas atas kejadian ini.

Menjelang maghrib, aku tiba di Desa Karangsari, Blitar. Desa yang terkenal dengan belimbingnya ini adalah tempatku menghabiskan masa kecil, sebelum akhirnya aku masuk Pondok Pesantren Ali Maksum di daerah Krapyak, Jogja. Agak tergesa aku menyeret tubuhku pulang. Bayangan wajah sedih Ibu dan Mbak Menuk terus memenuhi pikiran, membuatku ingin sesegera mungkin menemui mereka, lalu memeluk satu per satu. Sejak Bapak meninggal, memang akulah satu-satunya laki-laki di rumah. Dan karena aku tinggal di Pondok, Mbak Menuk lah yang menjaga Ibu.

Sesampainya di depan rumah, langkahku terhenti. Ragu-ragu kakiku melanjutkan perjalanan yang tinggal enam petak itu. Bulu kudukku meregang, keringat dingin membasahi kemeja putihku. Aku ketakutan. Tiba-tiba kabar dari Mbak Menuk terngiang lagi. Kabar yang mengatakan bahwa tadi pagi aku ditemukan tak bernyawa, tergantung di dalam kamar.

 

***

 

Based on Fiksimini:
@AulSoemitro: ANGKER | Aku tak berani masuk rumah. Kabarnya aku bunuh diri di dalam sana

Advertisements