“Papa pulang telat. Dari kampus nanti, sekalian aja beli makan malam buat kalian berdua. Jangan lupa ajari Aga matematika, besok ada ulangan”

 

 

Kubaca ulang sms dari Papa siang tadi. Terlambat pulang memang bukan kali pertama buat Papa, tapi sampai jam sebelas dan tak ada kabar lagi, itu tidak pernah terjadi. Sedari petang tadi kucoba menelponnya, mengirimkan sms dan menghubungi kantornya, tapi hasilnya nihil. Ponselnya tak bisa dihubungi–itu artinya smsku pending. Telepon kantornya juga tak pernah ada yang menjawab.

 

Aga sudah terlelap selesai belajar tadi. Tubuh mungilnya melingkar di sofa. Kubiarkan saja, toh memang maunya begitu. Ikut nunggu Papa, katanya.

 

Sebenarnya aku tak perlu repot menunggu Papa pulang. Aku bisa saja langsung tidur, kalau memang capek. Atau menonton DVD bajakan yang belum sempat terjamah. Tapi ada hal lain yang memang harus kuceritakan padanya, yang membuatku tak bisa tenang. Aku dihantui rasa bersalah yang sangat.

 

Kejadiannya pagi tadi, di jalan ring road utara saat aku mau berangkat kuliah. Kecelakaan tragis yang berlalu sangat cepat dan tanpa sadar aku meninggalkan wanita penyeberang itu begitu saja. Aku bukan seorang pengecut, tapi pagi tadi aku berubah menjadi pecundang paling nista. Tak bernyali untuk sekedar memutar mobil, aku malah memilih tancap gas. Bayangan bakal diamuk massa membuatku takut.

 

****

 

Aku terjaga. Suara gerbang dibuka membangunkanku. Sambil berusaha melebarkan mata, kulihat kanan-kiri. Ah, aku tertidur di sofa–di sebelah Aga. Sudah jam 3 pagi rupanya. Kulihat dari balik gorden, mobil Papa masuk ke halaman. Larut sekali pulangnya, batinku. Sambil menggendong Aga untuk pindah ke kamarnya, aku mendengar suara langkah kaki masuk rumah.

 

“Pa, kok baru pu……..” kalimatku tercekat di batang leher. Kurasakan aliran darah berhenti seketika. Papa menatapku kosong. Ada darah mengalir dari pelipis kanannya. Di belakangnya, seseorang melayang rendah. Aku seperti pernah melihatnya. Ia seperti wanita yang tadi pagi terlindas mobilku. Ya, aku ingat mata itu. Sempat kulihat ia tersenyum menang sebelum kurasakan semuanya berubah dingin dan gelap.

 

 

Based on Fiksimini:

@AulSoemitro : SEPERTIGA MALAM. Ayah pulang bersama wanita yang tadi pagi terlindas mobilku. Senyumnya penuh arti

Advertisements