Darbe

Ini sudah keempat kalinya aku bilang sama kamu, aku sayang kamu. Mau nggak jadi pacarku?”

“Jawaban keempat masih sama. Kita temenan aja, ya?”

Lagi-lagi.

Nggak apa-apa, kan?”

Pertanyaan bodoh. Jelas saja aku hancur. Harga diri sebagai cowok pas-pasan hancur sudah.

“Kamu masih bisa kok, nganterin aku les. Atau ke toko buku”

Ah, opportunis.

“Atau, main ke rumahku juga masih boleh..’

Baiklah, nanti di rumahmu aku akan bilang sama Papamu. Biar!

 

****

 

Dua bulan setelah penembakan keempat itu, kita masih jalan bareng. Aku masih mengantarmu pergi les, dan aku pun yang menemani ke toko buku yang membosankan itu. Ya, apapun kulakukan agar bisa tetap dekat denganmu, Alisha. Gadis pujaanku setahun belakangan ini.

 

Empat kali ditolak menjadi pacar, tapi kau tetap mengizinkanku menjadi cowok yang mengantar kemana-mana. Pernah suatu kali, saat menyeberang jalan menuju kedai es krim di seberang toko buku; aku menggandeng tanganmu. Reaksimu? Biasa saja. Tidak ada penolakan atau bahasa tubuh yang segan. Terus terang aku bingung denganmu. Haruskah aku menyatakan untuk kelima kalinya? Lalu kemudian aku mendapatkan angka yang sama untuk penolakanmu? Gila!

 

Sore itu, kita terpaksa berteduh di sebuah warung kaki lima yang belum buka. Hujan yang sebelumnya hanya rintik, seketika menjadi deras.

“Hujan-hujan begini enak ya, kalau makan mie kuah panas” ujarmu

Aku tersenyum, “Lebih enak lagi kalau mie kuah panasnya bikinan pacar” jawabku memancing reaksi.

Kamu tergelak. Aku manyun. Apanya yang lucu?

“Sha, kamu sudah punya pacar sekarang?” tanyaku hati-hati. Pertanyaan yang sebenarnya aku pun tak siap untuk mendengar jawabannya.

“Belum. Tapi aku lagi naksir cowok, nih”

Damn! Naksir cowok? Lalu kenapa aku yang kau ajak jalan? Kenapa bukan cowok itu?

“Kok diem? Kenapa?”

Aku mencoba tersenyum. Hambar.
“Iya, aku akhirnya aku naksir cowok itu. Dia baik. Tulus..” Matamu menerawang, pasti sedang membayangkan wajah si cowoh. Bah!

 

Entah kenapa, aku gusar mendengar ceritamu. Ada sesuatu yang tiba-tiba mendidih tanpa perlu lama dipanaskan. Aku merasakan dada, lalu muka dan disusul kepala terasa panas. Tiap deskripsimu tentang cowok itu membuat akal sehatku menguap tak bersisa. Tiba-tiba saja tanganku sudah mendarat di leher jenjangmu.Tanganmu berusaha melepas cengkeramanku tapi nihil. Emosi ini membuatnya lebih kuat. Maaf Sayang, kamu hanya boleh jadi milikku. Bukan orang lain.

 

Alisha

Seharusnya sore itu jadi sore yang spesial untuk kita, Darbe. Jika menyimak ceritaku, kamu pasti tahu siapa cowok itu. Kamu mengenalnya dengan baik. Dan aku rasa, kamu tak akan keberatan jika aku bersamanya.

Seharusnya sore itu, 4 Februari; jadi momentum kita. Aku memutuskan mengatakan ‘ya’ jika kamu menyatakan perasaanmu lagi. Tapi kamu lebih memilih menuruti nafsu setan yang mengatasnamakan cemburu. Sudahlah, mungkin juga kamu tak butuh tahu itu.

 

 

 

Based on Fiksimini:

@pramoeaga : I LOVE YOU. Belum sempat kuucapkan, kalimat itu macet di tenggorokan. Tanganmu kuat mencekik leherku.

Advertisements