Senja baru saja pergi, kini giliran malam yang bertugas jaga. Bunyi jangkrik mulai terdengar dan aku, hanya melewati sore hingga saat ini dengan duduk di pinggir ranjang. Hanya sekali-dua kali mengganti posisi duduk. Sebuah kegiatan yang membosankan.

Aku rindu dia. Rindu kekasihku nun jauh di sana. Aku lupa tepatnya kapan kami terakhir bertemu, tapi perasaanku mengatakan sudah sangat lama. Seminggu? Dua bulan? Setahun? Entahlah. Bahkan mungkin baru satu jam, tapi rasanya tetap sama seperti satu abad.

Rindu karena sedang jatuh cinta, sebuah permasalahan klasik manusia. Mungkin ini yang sedang aku rasa. Cinta yang melahirkan ribuan kecebong bernama rindu, yang saat ini sedang menggelitik seluruh bagian tubuh mati rasaku.

Kutarik nafas, hembuskan perlahan.

Untuk pertama kalinya dalam tiga jam terakhir kuputuskan untuk melakukan tindakan. Tanganku sibuk mencari sesuatu di bawah kolong ranjang. Aku tak tahu apa yang kucari, tapi yang jelas harus keras. Kolong ranjang ini sepertinya menyimpan banyak barang–kalau tidak mau dibilang sampah. Tanganku terantuk sesuatu berwujud keras dan persegi. Aku tertegun sebentar. Batu bata? Entah kenapa benda semacam itu ada di kolong ranjangku, tapi secepatnya kubungkus batu bata itu dengan potongan kain.

Agak limbung, kuputuskan untuk berdiri. Tangan kanan membawa bungkusan batu bata. Rahangku mengeras, sekeras tekadku. Oke, sekarang! Aku maju lima langkah, tiga langkah ke kiri dan berhenti. Kuayun tanganku, lalu kulemparkan batu bata itu ke arah depan.

BUUGGH!!

Tepat di dada! Bayangan di cermin itu tersedak, lalu meringis menahan nyeri.

“Rasakan!” aku menyeringai, “Hanya ingin kau tahu, seperti itulah sakitnya menahan rindu..”

Advertisements