Sebelas tahun, terpisah 5782.45 km, dan hari ini aku pulang ke Indonesia demi melihat keadaannya. Lelaki yang pernah menjadi bagian dari hidupku itu kulihat terkulai lemah di ranjang. Matanya masih bulat seperti dulu, hanya terlihat lebih sayu. Berita yang kudengar ia terkena kanker laring.

“Tante Alin?” seseorang terdengar ragu-ragu menegurku. Setelah kuanggukkan kepala, ia melanjutkan kalimatnya. “Bang Rako selalu mengingatkan saya untuk memberikan ini pada Tante.” Anak muda itu menyerahkan sebuah surat beramplop hitam-bertali perak yang sudah lusuh padaku.

“Terima kasih. Tapi, apa ini?” tanyaku heran.

“Tak ada yang pernah tahu apa isi di dalamnya. Sepertinya, Bang Rako hanya mempercayakan Tante untuk membukanya.”

Kubuka tali perak yang mengikat, lalu perlahan kubuka lipatan kertas di dalamnya. Dahiku mengernyit.

Kalimat-kalimat asing berhamburan memeluk mataku. Aku tak tahu apa arti semua kalimat yang tertulis, hanya menyadari bahwa satu paragraf ini terdiri dari berbagai bahasa.

i vos ictus,
Jeg savner deg,
ya skuchayu po tebe,
ya sumuyu za toboyu,
nhớ bạn,
Wǒ xiǎngniàn nǐ,
mawalan i,
chailleann tú i,
Watashi wa anata sabishii,

Kulihat lagi Rako, matanya masih lekat menatapku. Kali ini lebih dalam. Ada bulir bening di ujungnya.

Air mataku tak mampu kubendung lagi. Tangisku tumpah saat kusadari arti dari kalimat-kalimat yang tertulis di surat tadi, hanya dengan menatapnya.

Surat itu terjatuh. Di lipatan bagian belakang tertulis “…aku rindu kamu. Sangat.”

Advertisements