Kejadian itu berlangsung amat cepat, seperti mimpi dalam tidur siang.

Berawal dari sebuah pertemuanku dengan Sheryl–kekasihku di Jaesaeng, sebuah cafe bernuansa Korea di pinggir kota. Sebuah rutinitas yang kami lakukan sekedar merayakan rindu dan melepas penat harian masing-masing.

Saat itu, tanganku masih menggenggam tangannya dan mataku tak lepas dari mata bulat indah milik wanita yang kukenal sejak sembilan bulan lalu itu. Tiba-tiba saja lelaki tak dikenal mendatangi meja kami. Aku didorongnya hingga terjungkal. Frappucinno latte dan Thai tea di atas meja tumpah mengguyur lantai. Kamu menjerit saat lelaki itu mendaratkan bogem mentahnya di rahang kiriku. Belum sempat aku mencoba berdiri, tubuhku kembali terkapar.

“Mau mati kau??!!” Lelaki itu menghardikku dengan penuh emosi. Beberapa pengunjung cafe menahannya untuk tidak melakukan tindakan kasar lagi. Seorang pelayan membantuku berdiri.
“A-apa ini?” Aku kebingungan.
“Tai! Masih saja pura-pura..!” Lelaki itu makin geram. Tubuhnya meronta, tangannya berusaha menujuku.
“Istri orang kau tiduri. Janjian rutin seperti ini. Mau apa lagi kalian??!”
“Mas..!!” Kamu berusaha menahan kata-kata lelaki itu.
“Diam kau wanita jalang! Kelakuanmu tak ubahnya bangsat itu!”
Kamu menangis. Entah malu padaku, pada orang-orang di sekitar, pada suamimu, atau pada kebohonganmu sendiri.
“Hei, anjing. Selesaikan masalah kita di luar!” Lelaki itu terus mengumpatku. “Hei anjing! Tai! Jangan diam saja kau. Sini kalau mau mati!!”

Aku terdiam. Ada perasaan tak menentu campur aduk di dada. Malu, mungkin. Tapi ada yang lebih dari itu. Sedih campur marah. Ya! Aku tak habis pikir, kenapa lelaki yang baru pertama kali melihatku; sudah berani-beraninya mengungkit masa laluku. Apa hak dia?

Dasar bangsat kau, manusia!

Note: Jaesaeng = Reinkarnasi (Korea -red)

Advertisements