Kulingkari angka duapuluh di kalender mejaku. Tanggal itu–delapan hari lagi bakal jadi hari yang spesial untukku. Hari itu, aku akan bertemu dengan Adisti, teman lamaku sewaktu SMA dulu. Bukan sekedar teman sebenarnya. Dia adalah wanita pertama yang berhasil membuatku meriang rindu selama tiga minggu.

Selepas SMA empat tahun lalu, aku kehilangan kontak dengannya. Nomer ponsel yang dipakainya dulu sudah tak bisa dihubungi lagi. Rumahnya pun bukan lagi di jalan Anggrek. Kata tukang sayur kompleks itu, dia pindah. Entah di mana.

Sampai suatu siang yang terik di hari Minggu–saat yang tepat untuk bermalas-malasan di kamar, aku mulai berselancar di dunia maya. Sekedar menyapa lewat Twitter, menambah tulisan di blog pribadi ataupun hanya melihat videoklip terbaru. Standar.

Eh, apa kabar Facebook ya?

Segera jemariku mengetik alamat jejaring sosial yang pernah menyita waktuku itu. Melihat ada keriaan apa di dalam sana setelah sekian lama tak tersentuh, itulah alasanku.

Tiga puluh empat friends request, beberapa pesan dan tulisan di dinding Facebook. Wah, ternyata aku melewatkan banyak hal. Aku terkikik. Kutelusuri nama demi nama akun yang menunggu kusetujui pertemanannya, sampai pada saat mataku berhenti di sebuah nama. Rahma Adisti. Kukucek mata, menyangsikan apa yang kulihat. Ah, Tuhan memang selalu punya cara untuk bercanda.

Siang itu sontak menjadi siang terindah selama tiga tahun terakhir ini.Hawa panas yang menyembul dari celah jendela seolah adalah hembusan surga. Sejuk nan harum. Pepatah lama ‘Orang sabar disayang Tuhan’ baru kusadari sekarang. Senyum tak pernah menyusut dari wajah. Komunikasi kami setelah siang itu kembali lancar, meskipun hanya lewat jejaring sosial.

****

Pipipipipit..

Ponselku berbunyi. Reminder,  tertulis: Sore ini, Cafe Latte. Don’t be late. Kulihat kalender, ternyata hari ini tanggal duapuluh. Itu artinya, tinggal enam jam lagi aku akan bertemu dengan Adisti. Seperti apa ya wajahnya sekarang? Apakah foto profil di Facebook itu foto terakhirnya? Ataukah ada perubahan lagi? Beragam pertanyaan muncul di kepalaku.

Aku bergegas mandi. Sepertinya ritual wajib ini akan berlangsung dua kali lebih lama dari biasanya. Aku tak mau kalah dengan perasaan tak pede karena bau tentunya.

****

Cafe Latte, pukul 5 sore masih tampak nyaman. Belum ramai dan berisik. Kulihat Adisti baru saja masuk. Cantik dengan dress ungu selutut. Langsung kupasang senyum termanisku sembari menyodorkan tangan.

Hai, Dis, masih inget gue kan? Jimo.”

“Hahahaha….mana mungkin aku lupa,” ia tertawa lepas sambil menggenggam erat tanganku. “Yuk, mau duduk di sebelah mana?’

Aku memilih meja di balkon luar. Selain lebih segar, pemandangan yang terlihat dari lantai 10 ini tentunya bisa sedikit mengalihkan mataku yang mungkin akan salah tingkah di depannya.

****

Tak terasa dua jam sudah kami di cafe itu. Orang-orang mulai berdatangan, pasangan mulai berkencan dan alunan musik dari grand piano mulai terdengar. Obrolan kami sungguh mengalir. Ia banyak bercerita tentang kuliahnya di London selepas SMA, tentang kepindahan keluarganya, tentang ini-tentang itu. Aku juga tak mau kalah. Kuceritakan band indie-ku yang minggu lalu lolos audisi untuk jingle iklan, lalu rencana bisnis sablon kaos bareng temen sekampung. Seru. Bisa kulihat ia menikmati sore ini. Sesekali pipinya bersemu merah, lalu–ini yang juga kurindukan, kau tertawa lepas. Memamerkan deretan gigi putih tanpa cela. Aku hanya bisa tersenyum memandangi pemandangan indah di depanku. Subhanallah.

Udah jam 7, aku harus jemput adik, nih.” katamu membuyarkan lamunanku. “Seneng deh, bisa ketemu kamu lagi

Iya, sama-sama.  Sebelum pulang ke London, kita ketemu lagi ya.” Kuberanikan diri menyampaikan keinginanku.

Semoga..

Sesempatmu aja. Kalau memang sibuk, nggak usah dipaksakan. Yuk, aku anter sampai depan..”

Kuiringi punggungnya berlalu. Tuhan Maha Tahu, hanya aku yang tak bisa memanfaatkan waktu. Dua jam berlalu hanya dengan obrolan semu. Andaikan kita tahu, blackberry-ku dan iphone-mu tak seharusnya menjembatani obrolan sore ini.

Advertisements