Bukan karena aku anak durhaka yang tak tahu diuntung. Bukan pula bermaksud kurang ajar kalau setahun lalu kuputuskan untuk meninggalkan rumah. Itu artinya, aku yang masih sembilan belas tahun ini harus bisa bertahan di luar rumah yang hangat. Terpaksa meninggalkan Ayah bersama Marlis, adik perempuanku sendirian di rumah. Memang hanya tinggal mereka berdua keluargaku. Ibu meninggal saat melahirkan Marlis, delapan tahun lalu.

Keputusanku telah bulat untuk meninggalkan rumah saat itu. Entah kenapa aku punya pikiran seperti itu. Kubobol celengan untuk bertahan hidup beberapa hari sebelum aku mendapatkan tempat berteduh. Sebenarnya pergiku tak jauh, hanya sekitar 30 km dari tempat tinggalku. Selama ini, aku menumpang di rumah kontrakan Randu, salah seorang temanku di pesisir pantai. Sesekali aku membantunya mengumpulkan kerang untuk dijual, lain waktu jadi buruh pemetik kelapa. Kegiatan yang menyenangkan, meskipun kulitku berubah drastis tingkat kelegamannya.

****

Dua hari lagi ulangtahun Ayah. Entah kenapa, ada rasa rindu yang menyelinap masuk di sela-sela ego yang membatu. Ada perasaan ingin sedikit membuatnya tersenyum di usianya yang berangsur senja. Belum begitu tua sebenarnya. Tahun ini, Ayah baru berumur 43 tahun. Sisa-sisa kegantengannya masih terlihat. Juga otot bisepnya yang masih menonjol. Aku rasa, Ayah tampak lima tahun lebih muda.

Aku harus pulang tahun ini, Ndu. Aku kangen Marlis. Ia pasti tambah cantik sekarang.

Pulanglah. Tak baik lama-lama tak memberi kabar pada keluargamu.”

“Iya. Besok pagi aku berangkat.”

****

Ayah, Abang pulang.…!” teriakan Marlis menyambut kedatanganku sore itu. Tubuh kecilnya menghambur memelukku. Air matanya mengalir deras.

Abang kemana aja? Marlis kangen…” isaknya.

Iya, Abang nyari uang. Ini, buat Marlis.” Aku memberikan boneka padanya. Marlis tersenyum lebar sekali, lalu berlari ke arah rumah.

Ayah menghampiriku. Ada rasa bahagia bercampur haru yang samar kulihat di matanya. Aku berjalan mendekat.

Akhirnya kau kembali juga..” tangan kekarnya memeluk tubuh kurusku. Ah, perasaan ini masih sama. Ingatanku melayang pada tahun lalu, dua bulan sebelum kuputuskan meninggalkan rumah. Saat itu, awal kulayani desir yang kurasakan.

Based on Fiksimini:

@fiksimini: RT @sihirhujan: PERTEMUAN. Joni peluk ayahnya, tapi masih sama seperti dulu, ada birahi yang berdesir.

Advertisements