SEBAB MALAM TAK INGIN DISUDAHKAN
: Pramoe Aga

Seolah langit
membasuh semesta dalam sembab hujan
bintang kembali cerah.
Kita duduk berhimpitan di depan beranda
dan malam
demikian hening menyentuh benak
membuat kata-kata — lunglai tak berdaya.

“Kenangan ialah harta — dan aku tak ingin jatuh miskin
sebab melupakannya,” katamu
dan aku tersenyum
seketika mata kita — menjadi begitu dekat.
“Tahukah kau,” kau menatapku
“Cintaku diam-diam, tak bersuara.
Sesederhana isyarat mata
beradu pandang dalam diam.”

Di hati — kilau sajak tak lagi ditulis
Ia tumbuh dalam rasa
menetas nyata — dalam dekap mimpi.
Sebab malam tak ingin disudahkan
langit membentuk rindu
dengan kuasa mengelabui waktu
— pernahkah kau sadar, di sana seakan-akan
Tuhan mengembangkan sunyi
dan kita menamainya langit?

Kau berbisik
“Bukankah kita sama tahu
damai malam lahirkan kenyamanan?
Seperti senyumanmu
— ada surga dalam untaian bintang.”
Kau pun menyentuh rambutku
berharap Tuhan sudi mematahkan waktu
— dan semesta
membiarkan kita membeku di dalamnya.

Pada hijau kita mengenal kekal
serupa langit malam kala hati mulai bersentuhan.
Sekarang —
kota terlelap tanpa cahaya bulan
bintang tertumpah.
Aku pun tahu — Cinta pernah sederhana
Hingga pedih lelah bertualang
menyampaikan ketidakberdayaanku
: merindukanmu.

Aku menarik napas panjang
merapatkan kenangan.
Musim mulai berkabut
— di hatiku.

Rafael Yanuar ~ @opiloph (26 Agustus 2011 – 00.03)

Sajak panjang buat Kak Mumu (tersayang). Catatan — semua kalimat dalam tanda kutip diambil dari kata-kata Mumu di twitter, tentu dengan beberapa pengeditan supaya pas dimasukkan di sajak. Semoga beliau tak marah

Advertisements