Harusnya ini menjadi suatu hal yang romantis, saat Carlo mengalungkan kalung berlian padaku. Tapi entah bagian mana dari ceritaku yang sontak membuatnya cemburu. Membabi buta ia menyerbuku dengan pertanyaan-pertanyaan menyudut, diselingi tuduhan tak beralasan. Tangan yang niatnya mengaitkan kalung beralih tujuan jadi menariknya kuat-kuat. Aku mencoba melepaskan, tapi tenaganya terlalu kuat. Meronta, akhirnya aku bisa terlepas dari cengkeramannya. Nafasku memburu, mataku basah. Tak kusangka Carlo sekejam ini. Kuraba bagian leherku, ada goresan bekas lilitan kalung tadi. Perih.

Aku menangis sejadi-jadinya. Setengah jam berlalu sangat cepat. Kulihat sekeliling, kamar ini setengahnya berantakan. Tapi kalung berlian itu terlihat bersinar di bawah potongan kaca yang berlumur darah. Ya, benda inilah yang membantuku menghentikan aksinya.

Advertisements