Jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi saat aku menginjakkan kaki di rumah. Akis, anak semata wayangku pasti sudah terlelap di kamarnya. Pintu tua itu berderit saat kubuka, lalu perlahan kakiku melangkah masuk. Tubuh kecil anak duabelas tahun itu tampak nyenyak dengan selimut garis-garisnya. Wajah teduhnya mampu sedikit mengobati lelah setelah semalaman bekerja.

Sudah lebih dari seminggu Akis tak mau menyapaku. Aku rasa gadis kecil itu marah dengan keputusanku. Mungkin juga malu. Entah. Dia pernah mengigau, bahwa ia rindu papa-mamanya. Aku langsung menangis saat itu. Bagaimanapun juga, hatiku terasa perih tak dianggap sebagai salah satu sosok orangtuanya. Terlebih saat kutemukan bungkusan berisi kerudung bertuliskan ‘Untuk Papa yang menjadi Mama Akis. Sadarlah‘.

Advertisements