Ciuman pertama. Tiba-tiba terlintas kejadian tujuh tahun lalu, saat bibirku pertama kali bertemu dengan bibirnya, lelaki yang kini telah beranjak 21 tahun.

Saat itu ia masih berseragam putih biru. Kejadiaannya berlangsung singkat dan lucu. Miko–namanya, seringkali melirik nakal ke arahku. Entah apa yang dilihatnya dariku, tapi aku merasakan adanya tatapan pria dewasa di dalam matanya. Entah.

Kejadian itu memang berlangsung di kamarnya. Kamar kecil nan berantakan khas anak remaja laki-laki. Jangan tanya kenapa aku ada di dalam kamarnya. Dengar saja ceritaku dulu, nanti juga akan tahu. Selepas adzan ashar, alih-alih belajar matematika di kamar, ia malah hanya duduk di tepi ranjang. Menatapku. Sesekali matanya membaca deretan kalimat yang tertulis di lembaran kertas di tangannya, lalu tersenyum. Entah apa yang dibacanya.

Tiba-tiba ia berdiri. Tangannya langsung menggendongku, lalu merebahkan di pangkuannya. Meskipun tampak gugup, ia berusaha tenang. Matanya sayu lembut menatapku. Dua detik kemudian, matanya menutup. Bibirnya mendekat, dan–Ya Tuhan, aku hampir saja kehabisan nafas! Bibir kami bertemu. Ya, meski hanya lima detik tapi aku merasakan kakiku melayang entah setinggi apa.

“PRmu sudah kau kerjaan, Mik?” Wanita paruh baya yang dipanggilnya ‘ibu’ tiba-tiba membuka pintu kamar. Kaget, Miko menjatuhkanku. Suara benda pecah langsung memenuhi kamar.

“Adduuuuuhhhh…” Ibu berteriak. “Kenapa kau pecahkan piring Nike Ardilla Ibu…?”

Advertisements