“Ntar malem mau ke mana, Jo? Gabung yuk, mau ke Plaza nih..”

Aku menggeleng. “Aku ada kencan.” jawabku singkat.

“Kau punya pacar, Jo?” Mata Andre melotot penuh seperti biji jengkol. Baginya–mungkin, seorang Joni punya pacar adalah sama seperti alien bermata satu turun ke bumi. Mustahil.

“Kau tak perlu tahu semuanya, Kawan. Sori, nggak bisa gabung”

Aku tersenyum. Lalu meninggalkan Andre yang menatapku seolah-olah baru saja melihat Brad Pitt naik ojek. Nggak mungkin, Jek.

***

Adalah Rindu, cewek yang mengalihkan dunia sosialku. Rambut panjang dan tubuh sintalnya mampu membuat dadaku seakan mau meledak. Terlebih kalau dia mulai menyanyikan sebuah lagu untukku. Ya, Rindu. Dialah yang rajin kuapeli setiap Sabtu malam. Tak ada temanku yang tahu, karena mereka tak berhak tahu bahagiaku. Aku terkekeh.

Menjelang jam tujuh, aku sudah selesai mandi. Wangi shampoo dan sabun masih kutambahi lagi dengan bebauan dari parfum merk Prancis KW 2 yang kubeli di pasar malam. Soal baju, kali ini aku ingin tampil agak rapi. Kemeja flanel kotak-kotak merah kumasukkan ke dalam celana jins hitam pekat. Aha! Tampannya diriku, begitu kira-kira kalimat yang seharusnya kuucapkan saat melihat bayangan di cermin.

Teng..teng..teng
Jam dinding kuno di ruang tengah berdentang tujuh kali. Ini tandanya aku harus bergegas. Sekarang! Kunyalakan televisi tepat saat lagu itu berkumandang. Lagu pengantar kencan malam mingguku.

“Menuju puncak..!! Gemilang cahaya, mengukir cita seindah asa…”

Neng Rindu, Abang datang..

Advertisements