Duduk bersama kekasih tercinta di pinggir laut sambil mengagumi senja sungguh rutinitas yang sayang terlewatkan. Kepalanya direbahkan di pundakku. Sementara jemari kami saling menggenggam, seolah enggan terpisahkan. Entah sudah berapa lama kami duduk di sini. Yang jelas, berapapun banyak waktu yang kuhabiskan bersamanya, tak akan pernah cukup.

“Mama tak mencarimu?” Kucoba menanyakan kalimat yang mungkin mengganggunya.

“Kenapa, Kal? Kamu nggak suka ya, lama-lama sama aku?” Wajahnya cemberut. Benar dugaanku, dia salah mengerti. Harus segera diralat pertanyaanku tadi.

“Bukan begitu, siapa tahu Mamamu sedang mencarimu” Kuusap rambutnya, ia mulai melunak. “Bukankah sudah dua hari kau tak memberi kabar?”

“Tapi aku masih ingin bersamamu, Kal..” Ia merajuk. Kulepas senyum.

“Aku tak ke mana-mana, Sinta. Kita akan selalu bertemu..”

“Benarkah? Di mana?”

Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.

“Kita telah melewati senja. Yuk, kuantar kau pulang”

“Tapi..”

Kuletakkan telunjuk kananku di ujung bibirnya. “Jangan biarkan orangtuamu menunggu terlalu lama, Sinta..”

Kami beranjak dari bibir pantai, meninggalkan ombak yang masih meraung-raung.

****

Alhamdulillah… Akhirnya, Sinta…”

Kalimat syukur terdengar bersahutan saat kubuka mata. Kulihat Mama dan Papa di sampingku, dan anggota keluarga lainnya di sisi lain.

“Aku..di mana, Ma?”

Mataku menjelajah ruangan. Kamar serba putih dan alat infus. Kucoba mengingat, tapi hasilnya nihil.

“Kamu tak sadarkan diri, Sayang. Sudah dua hari sejak kecelakaan itu..” Mama mengusap keningku.

“Kecelakaan, Ma? Ikal? Di mana dia?”

Tiba-tiba aku ingat Ikal. Bukankah aku baru saja bersamanya di pantai?

Semua terdiam. Aku semakin kebingungan.

“Ma, please…”

“Maaf, Sayang. Ikal…” Mama tampak berat menyampaikan. Bulir-bulir bening mulai menggantung di pelupuk mataku.

“Ikal tak tertolong..”

Kalimat terakhir Mama akhirnya mengantarkan airmataku tumpah.

Advertisements