“Piko, ayo gosok gigi dulu..”

Ini ketiga kalinya aku membujuk anak semata wayangku untuk rajin membersihkan gigi sebelum tidur. Sejak istriku meninggal karena sakit, aku menjadi single father untuk Piko yang baru berumur empat tahun.

“Tapi Piko masih mau main dulu, Pah..” Anak itu mulai merajuk. Aku tahu itu hanya akal-akalannya saja untuk menghindari rutinitas malam ini.

“Papa punya dongeng, kalau Piko mau nurut sama Papa..” bujukku.

“Dongeng Pangelan Gulali, Pah?”

Aku menggeleng.

“Naga Bilu dan Kulcaci ungu?” Suara cadelnya terdengar bersemangat saat menebak. Kembali kugelengkan kepala, membuat Piko cemberut penasaran.

“Dongeng baru. Mau dengar, kan?”

“Mau, Pah…”

“Gosok gigi dulu ya..”

Piko meloncat dari tempat tidur, berlari menuju toilet. Aku tersenyum lebar. Berhasil!

****

“Ayo, Pah. Mulai dongengnya. Piko udah siap” raut mukanya terlihat menggemaskan saat mata bulatnya berbinar.

Kugeser posisi duduk lebih mendekat padanya.

“Pernahkah Piko sadar, kalau di rumah kita ada peri?”

Kuawali dongeng dengan pertanyaan yang membuatnya penasaran.

“Masa sih, Pah? Peli baik kan, Pah?
“Tentu saja. Peri ini ada di semua rumah, sebenarnya. Ia kecil, bercahaya dan berwarna transparan.”

“Waaahh…” Mata Piko melebar.

“Namanya Peri Pasta Gigi, karena tinggalnya di setiap pasta gigi”

“Pasta gigi yang buat gosok gigi, Pah?”

Aku mengangguk.

“Peri Pasta Gigi diutus oleh Baginda Putih Berseri untuk menjaga kesehatan gigi manusia dari Kuman Nakal dan Bakteri Bandel. Mereka yang membuat gigi kita berlubang, lalu sakit”

“Senjatanya Peli Pasta Gigi apa, Pah? Pedang Panjang?”

“Bukan, Sayang. Peri Pasta Gigi punya serbuk peri yang muncul saat kita menggosok gigi. Semakin kita rajin menggosok gigi setelah makan dan mau tidur, serbuk peri itulah yang melindungi gigi kita da….”

“….dali selangan Kuman Nakal dan Bakteli Bandel!” Piko langsung menyahut kalimatku. Aku tergelak. Kuusap rambut ikalnya.

“Benar, Sayang. Jadi, mulai sekarang Ksatria Piko mau bantu Peri Pasta Gigi mengalahkan Kuman Nakal dan Bakteri Bandel?”

“Mau..mau..mauuuu…” Piko berteriak kegirangan.

“Nggak malas lagi buat gosok gigi?”

“Nggak, Papah. Piko mau jadi Ksatlia Piko yang lajin gosok gigi bial bantuin Peli Pasta Gigi matiin yang nakal-nakal,”

Aku tersenyum puas. Seraya membenahi letak selimut, kukecup keningnya.

“Selamat tidur, Piko..” bisikku.

Sementara itu; dari langit-langit kamar Piko, dua buah cahaya melesat menuju toilet. Kilaunya menghilang seketika ke dalam pasta gigi.

Advertisements