“Aku ke kosmu setengah jam lagi. Hujan masih deras nih..”

Suara Lintang dari ujung telepon menjelaskan posisinya.

“Iya, nggak papa. Hati-hati ya..”

“Tapi kayaknya kita batal nonton malam ini. Ngobrol di kosmu aja, ya?”

“Boleh. Makan malam di sini sekalian. Aku masakin telur dadar kesukaanmu. Mau?”

“Waahh..mau, dong. Pake irisan cabe merah yang banyak ya..”

“Iya, Sayang. Kamu mampir beli cokelat panas di kedai kopi pojokan ya..”

****

Hujan masih deras. Aku menepi. Mencoba berteduh di teras sebuah waralaba. Di sela-sela suara hujan dan gemuruh guntur, aku mendengar seseorang memanggil namaku. Kepalaku mencari sumber suara.

“Hey, Li. Celingukan sendiri. Nyari taksi?” Sebuah tepukan di pundak mengagetkanku.

“……..Natta??” Aku ragu-ragu mengucapkan nama.

“Duuhhh, yang udah lupa sama gue..” Suaranya masih manja seperti dulu.

Ah, mana mungkin aku lupa sama kamu. Gebetan sejati, gitu.

“Iya, lagi nunggu taksi. Udah sepuluh menit nggak ada. Kamu?”
“Sama. Ummm, gimana kalau kita ngobrol dulu di dalam, sambil nunggu hujan reda..” ajaknya sambil menunjuk waralaba di belakang kami.

“Umm…” Aku ragu-ragu. Kutengok ponselku dan ternyata mati. Pantas saja anteng.

“Ayolah, bentar aja. Lagian sejak lulus SMA dulu, kita baru ketemu lagi sekarang lho..”

Aku mulai ragu antara buru-buru ke kos pacar atau berteduh sembari ngobrol bareng mantan gebetan. Beberapa detik diam sebelum kuanggukkan kepala menyetujui ajakan Natta. Hujan deras dan ponsel kehabisan batere, menjadi alasan yang kusiapkan untuk keterlambatanku.

****

Telur dadar buatannya telah dingin. Dilihatnya lagi layar ponsel, sekedar mengecek jam dan mungkin pesan dari Lintang yang terlewat. Nihil. Kosong seperti terakhir kali menghubunginya. Sudah pukul sepuluh malam dan hujan telah reda dari satu setengah jam lalu. Ajeng nampak gusar. Dipencetnya nomer Lintang, berusaha menghubunginya lagi.

The number you are calling is not active or out of service area. Please try again in few minutes.

“Sial!” Ajeng menggenggam udara. “Tau gini kan gue nggak perlu repot nungguin. Mana pake masakin telur dadar pula..” Ia mulai kesal. Tubuhnya dibanting ke sofa. Sambil menghela nafas, jari lentiknya bergegas mencari sebuah nama di daftar telepon ponselnya.

Beb, Lintang ngga jadi ke kos. Kamu jemput aku sekarang ya?”

Advertisements