Sebuah surat elektronik kuterima seminggu yang lalu. Isinya tentang keadaan Rako. Dia mantan kekasihku.

 

Kami sudah enam tahun tak bersua. Terpisah jarak 5782.45 km, dan hubungan kami yang kini berstatus ‘hanya teman biasa’ membuat komunikasi menjadi jarang sekali dilakukan. Tapi hari ini, aku kembali menginjakkan kaki ke Indonesia. Meninggalkan sejenak rutinitasku di negeri Sakura karena sebuah email.

 

Kubuka pintu kamar sebuah ruang VIP di rumah sakit yang disebutkan. Perlahan kakiku melangkah. Kulihat Rako terkulai lemah di ranjang. Matanya masih bulat seperti dulu, hanya terlihat lebih sayu. Selang infus dan selang-selang lainnya tampak seperti tambang yang menjerat tubuh kurusnya. Kuhela nafas panjang. Ada perasaan sedih melihat pria yang pernah kucintai seperti ini. Berita yang kudengar, ia terkena kanker laring sejak tiga tahun lalu. Dan keadaannya semakin memburuk.

 

“Tante Alin?” seseorang terdengar menegurku. Setelah kuanggukkan kepala, ia melanjutkan kalimatnya. “Bang Rako selalu mengingatkan saya untuk memberikan ini pada Tante.” Anak muda itu menyerahkan sebuah surat beramplop hitam-bertali perak yang sudah lusuh padaku.

 

“Terima kasih. Tapi, apa ini?” tanyaku heran.

“Tak ada yang pernah tahu apa isinya. Sepertinya, Bang Rako hanya mempercayakan Tante untuk membukanya.”

Kuurai tali perak yang mengikat, lalu perlahan kubuka lipatan kertas di dalamnya. Dahiku mengernyit.

 

Kalimat-kalimat asing berhamburan memeluk mataku. Aku tak tahu apa arti semua kalimat yang tertulis, hanya menyadari bahwa satu paragraf ini terdiri dari berbagai bahasa.

 

i vos ictus,
Jeg savner deg,
ya skuchayu po tebe,
ya sumuyu za toboyu,
nhớ bạn,
Wǒ xiǎngniàn nǐ,
mawalan i,
chailleann tú i

Kulihat lagi Rako, matanya masih lekat menatapku. Kali ini lebih dalam. Ada bulir bening menggantung di pelupuknya.

Mataku tiba-tiba basah saat kusadari arti dari kalimat-kalimat tadi, hanya dengan menatap wajahnya. Perasaannya yang masih besar kepadaku jelas sekali terlihat di sana.

Tanganku bergetar saat kulangkahkan kaki mendekati ranjang. Surat itu terjatuh. Di lipatan bagian belakang tertulis “…aku rindu kamu. Sangat.”

 

 

Note:
Cerita kilat ini pengembangan dari cerita I MISS YOU #2 yang pernah ditulis.

Advertisements