Aku tak tahu pasti sejak kapan kebiasaanku ini rutin kulakukan. Mungkin sejak Maria terpaksa pindah ke San Vicente di dekat Barcelona, untuk mengembangkan usaha bakery papanya. Sementara aku masih tinggal di Barcelonetta, daerah tepi pantai.

Hampir tiap kali aku merindunya, aku melakukan hal ini. Duduk di pinggir jendela loteng, menatap bulan, mengudap ensaimada–semacam sponge cake dengan keju–kesukaan kami dan mengutarakan rindu yang menyiksa. Namun aku tak sendirian. Ada seseorang yang menemaniku. Mungkin kurang tepat jika aku menyebut ‘seseorang’, tapi untuk menyebutnya ‘sesuatu’ juga tidaklah tepat. Dia, sepertinya bernyawa. Entahlah, aku hanya menganggapnya sama sepertiku. Hanya dalam bentuk yang lain.

Aku menyebutnya Naranja. Dalam bahasa Spanyol, artinya jingga. Ya, sosok yang selalu menemaniku saat aku merindukan Maria itu berwarna jingga. Tubuhnya serupa boneka balon tanpa corak. Polos, pekat dan ringan. Pertama kali muncul, aku hampir saja berteriak.

No tengas miedo. Jangan takut. Aku datang untuk menemanimu. Mendengarkan rindumu, dan menyampaikan untuknya..” Tiba-tiba ada suara muncul entah dari mana. Setahuku, Naranja tak mempunyai mulut.

Bergetar, aku kembali duduk di pinggir jendela. Sementara Naranja duduk setengah meter dariku, di pinggir atap dekat jendela. Pelan, aku mulai bercerita. Mengurai rindu yang menyesakkan dada. Sambil terus mengunyah ensaimada, aku tak berhenti menyampaikan rindu. Sepertinya, menunggu tukang pos datang mengantarkan balasan surat terasa sangat lama sekarang. Sejak ada Naranja, rinduku cepat sampai. Dan balasannya pun, datang dengan cara yang manis. Malam setelah aku menyampaikan rindu pada Naranja, Maria pasti menemuiku lewat mimpi. Ia tersenyum, memelukku malu-malu, lalu mengucapkan terima kasih. Manis sekali.

***

Malam ini aku agak kesal dengan Maria. Siang tadi, seorang teman memberitakan kalau Maria terlihat makan siang bersama lelaki di daerah pertokoan di Paseo de Gracia. Tentu saja aku terpancing. Ingin rasanya saat itu aku meninggalkan rumah dan langsung menuju kota. Sayangnya, aku tak bisa meninggalkan restoran seafood milik kelurgaku ini begitu saja.

Pukul sembilan malam, setelah menyelesaikan pekerjaan rumah; aku langsung ke loteng. Duduk di pinggir jendela dan menunggu Naranja datang. Akan kuceritakan keluh-kesahku ini padanya.

Semilir angin pantai terasa lebih dingin malam ini. Kurapatkan baju hangat seraya memeluk cangkir berisi cokelat panas. Belum selesai sekali tegukan saat sosok mirip Naranja muncul di depanku. Bentuknya mirip, tapi berwarna ungu pekat.

“Siapa kamu? Di mana Naranja?” tanyaku beruntun.

“Dia datang hanya saat kau merindukan kekasihmu. Malam ini, kau tak merasakan itu..”

Aku tertegun, kaget. “Lalu, siapakah kamu? Kenapa berwarna ungu?”

“Aku refleksi perasaan cemburumu. Malam ini giliranku yang akan menemanimu..”

Aku terdiam. Aku memang sedang cemburu karena berita siang tadi, namun aku sedang tak ingin mengumbar perasaan ini padanya, sosok berwarna ungu itu. Tak mudah menceritakan masalah pada seseorang yang baru muncul, memang. Tiba-tiba aku rindu Naranja. Tapi untuk bertemu dengannya, aku harus bisa mengalahkan perasaan cemburu ini. Baiklah, besok pagi aku akan ke kota untuk menemui Maria. Bicara baik-baik dan tanya keadaan yang sesungguhnya. Lagipula, menyelesaikan masalah dengan bertatap muka jauh lebih baik daripada harus lewat sosok polos berwarna ungu. Aku tersenyum. Bye, Purpura!

Advertisements