“Pak, hari ini aku ulang tahun lho. Bapak ingat, ndak?” Pagi-pagi sekali aku menghampiri Bapak yang sedang membaca koran di teras.

“Tentu, Le. Bapak ingat, kok”

“Kalau sama janjinya, Bapak juga ingat?”

“Hahaha, Bapak ndak pernah lupa sama janji, Le. Apalagi sama anake Bapak sing bagus dhewe iki..” Diusapnya rambutku. “Kamu tengok kamar Bapak, ada apa di sana.”

Aku bergegas menuju kamar yang dimaksud. Di balik pintu, kulihat sepeda baru dengan pita biru masih mengikat. Senyumku mengembang lebar.

“Pak, matur nuwun nggih..” teriakku dari dalam kamar.

*****

“Fajar, bisa tolongin Ibu angkat pisang goreng ini, ndak? Ibu masih nanggung bungkusin nasi pesanan Bu Lingga” Ibu setengah berteriak dari arah dapur.

Nggih, Bu.” Kuletakkan pensil dan kututup buku harianku. Lalu bergegas keluar kamar.

Hari ini ulang tahunku yang kesepuluh. Perayaan, hadiah ulang tahun dan Bapak, hanya ada di buku harianku. Sama seperti hari sebelumnya.

Advertisements