14:21 wib

“Kita aman di sini, Mas?”  Rahma bertanya padaku sembari menggenggam kuat lengan kananku.

“Aman. Tenang saja..” Kucoba menenangkannya. Peluhku mengalir perlahan dari dahi.

“Tapi, Mas, di sini gelap. Aku takut kalau-kalau nanti ada cacing. Atau lipan. Atau kalajengking..”

“Aku menjagamu, Sayang. Lihat, aku tak pernah meninggalkanmu, bukan?”

Rahma mengangguk pelan. Dia tampak lebih tenang.

“Istrimu tak tahu tempat ini, kan, Mas?”

“Semoga tidak. Dia tak pernah tahu di mana kita berada.”

“Tapi…istrimu pernah melabrakku, Mas. Sehari setelah kau mengajakku ke Tawangmangu. Ingat?”

“Itu pasti kerjaan orang yang tak suka kita bersama.”

“Tapi bukannya hubungan kita ini rentan masalah? Banyak yang tak suka…”

“Ah, sudahlah. Yang penting orang-orang itu sekarang tak bisa lagi memisahkan kita.” Kukecup pelan keningnya. “Aku memilihmu. Itulah mengapa aku ada di sini, bersamamu”

Sebuah pelukan kutahbiskan untuk Rahma. Ia menyambutnya. Kami berpelukan, lama sekali.

17:48 wib

Seorang wanita terisak di sudut ruangan. Wajahnya seperti Laksmi, istriku. Atau memang dia? Di sebelahnya nampak Bu RT dan Bik Sum yang mencoba menenangkannya. Sementara, orang-orang berbaju coklat tampak hilir mudik. Entah apa yang dilakukannya. Seseorang yang tadi membawa tulisan police line tiba-tiba setengah berteriak pada temannya

“Segera angkat tubuh mereka dari dasar sumur. Cepat!”

Advertisements