Bip!

Nanti sore ke galeri ya, jangan lupa bawa sandwich tuna king size seperti biasa. Love you..

Sebuah pesan masuk di ponselku. Ternyata dari Kadek, kekasihku. Kulihat jam di monitor seraya mengeryit heran. Baru pukul tujuh pagi dan dia sudah SMS untuk sore nanti? Tidak seperti biasanya, yang selalu mendadak memberi kabar.

Sandwich tuna –makanan favoritnya sejak dua tahun lalu selalu menjadi top request, apalagi saat pulang dari bepergian mencari inspirasi untuk melukis.

“Bukannya inspirasi itu datang sendiri ya, Bli?” Tanyaku suatu saat.

“Memang, bisa datang sendiri kapan saja. Tapi itu tidak orisinil.” Tangannya sibuk mencampur cat minyak. “Dengan mengunjungi tempat-tempat sunyi dan orang-orang asing, inspirasi yang lahir lebih liar. Lebih ganas.” Terangnya panjang lebar sambil menyapukan warna magenta ke kanvas kosong. Aku cuma mengangguk-angguk, tetap tak mengerti mengapa menggali inspirasi musti bersusah payah pergi jauh. Tapi biarlah. Setahuku memang setelah bepergian, Kadek bisa menghasilkan 2-3 lukisan sekaligus. Dan lukisan-lukisan itu selalu dihargai mahal.

“Berkah menyendiri..”  katanya suatu kali setelah mendapat cek bernilai tinggi untuk sebuah lukisan kuda. Guratan lelah di wajahnya seketika sirna, berganti senyum mengembang.

Aku tersenyum. “Sandwich tunanya dimakan dulu, tuh. Sengaja aku pilih tuna –bukan daging, karena gizinya lebih tinggi. Bagus untukmu..”

Itu awalku mengenalkan sandwich tuna padanya. Sejak itu, ia ketagihan.

***

Aku sampai di galeri jam lima sore. Ada yang mau dibawakan lagi?

Kupencet tombol send di layar ponselku. Message failed. Kuulangi sekali lagi, tetap gagal. Kuputuskan untuk menelpon saja, ternyata sama saja. Hanya bunyi tut-tut yang terdengar. Pasti lagi-lagi masalah sinyal. Tapi harusnya kalau dia sudah tiba di Ubud, sinyal sudah baik-baik saja. Tidak seperti saat menyepi di Goa Gajah. Kuputuskan untuk langsung ke galeri saja. Toh aku sudah berusaha mengabarinya.

Sesampainya di galeri milik Kadek di daerah Ubud, suasana masih tampak sepi. Lampion di luar galeri yang biasanya sudah dinyalakan sejak pukul lima, terlihat masih gelap. Mungkin sepulang dari Goa Gajah, ia kelelahan lalu tertidur. Aku langsung masuk lewat pintu samping galeri.

“Bli, aku datang..”  Tak ada sahutan. Kuletakkan kotak makan berisi sandwich tuna di meja bundar di sudut galeri, lalu langkahku kuputar ke arah bale-bale di halaman belakang. Biasanya, Kadek beristirahat di sana. Tapi ternyata kosong. Kuputuskan kembali ke dalam galeri untuk menunggunya sembari membersihkan debu yang menempel di lukisannya.

Langkahku terhenti sejenak di depan meja bundar tempat kuletakkan kotak makan tadi. Kenapa terbuka? Kulihat di dalamnya tinggal sisa-sisa daun selada dan saos yang berceceran. Ah, Kadek sudah pulang ternyata.

“Bli…. jangan becanda ah.” Aku merajuk manja. Kekasihku punya kebiasaan jahil saat lama tak bertemu. Aku menengok halaman depan, lalu mengelilingi galeri, tapi belum juga menemukan sosoknya.

“Bli…capek ah, becanda terus..”

Bip!  Ponselku berbunyi.

Udah sampai? Sori agak telat, mungkin jam 8 baru sampai. Tadi ketemu Bli Sutha , jadi mampir ke galerinya dulu. Tolong lampion dinyalakan ya, Sayang.. Matur suksma.

Raut mukaku bingung. Sungguh becandaan yang tidak lucu, protesku. Segera kuhubungi ponselnya, memastikan ia ada di galeri atau ruangan lain di rumah ini.

“Bli, di mana? Aku udah di galeri dari tadi..”

“Lho, pesanku masuk, kan? Ini sudah dekat kok, tunggu sebentar lagi. Maaf telat ya..”

“Tapi….”

Lima meter dari gadis yang sedang sibuk dengan ponselnya, sebuah lukisan penari Bali tampak tersenyum lebih lebar dari biasanya. Sayup-sayup terdengar suara sendawa pelan.

Advertisements