Diliriknya jam tangan di pergelangan tangannya. Sudah pukul delapan lebih empat puluh menit. Terlambat 40 menit, terlampau jauh dari waktu yang dijanjikan. Diseruputnya orange juice yang tinggal setengah. Wajahnya antara gelisah dan kesal. Entah apa yang lebih dominan. Sesekali tangannya melihat layarsmartphone, beberapa kali mencoba menghubungi sebuah nomor.

Namanya Winda. Empat hari lalu, ia sepakat untuk bertemu dengan seorang pemuda bernama Jikko, yang dikenalnya lewat jejaring sosial. Bisa dikatakan, pertemuan ini adalah kopdar. Tapi Winda mungkin mengelak tegas. Mereka merencanakan membuka usaha online bersama. Bermula dari obrolan basa-basi di dunia maya, ternyata mereka punya satu kesamaan minat. Berbisnis asesoris. Dan hari ini, mereka berjanji untuk membicarakan lebih detil.

***

Seorang lelaki tergopoh memasuki kafe. Langkahnya terburu menuju Winda.

“Sori telat. Traffic, biasa. Oya, gue Jikko.” Dia mencoba tersenyum, tapi tak berhasil mengubah air muka Winda menjadi lebih cerah.

“Sori..” katanya sekali lagi. Tangan kanannya masih disodorkan ke arah Winda, berharap ada sambutan.

“Winda..” Gadis itu mejawab pendek. Tangannya terpaksa menyambut, dengan alasan kesopanan. Saat berjabat tangan, ekor mata Winda melihat jam tangan yang dikenakan Jimmo. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Bukan karena warnanya yang hijau lumut, atau merknya yang terlihat mahal. Tapi bahan pembuat jam tangan itu dari bahan croslite –bahan seperti karet.

“Jam kamu bagus. Keren. Tapi mending jangan dipakai lagi deh. Bikin janjiannya jadi ngaret..” sindirnya.  Jikko tersenyum kecut. Wajahnya merah.

Advertisements