“Kapan aku boleh keluar, Bu?” Bocah kecil itu merengek untuk kesekian kalinya. Kali ini mukanya sudah berlipat enam –tanda bahwa ia sudah sangat kesal. Ibunya hanya menoleh sebentar, lalu kembali ke kegiatannya semula; menyisir rambut panjangnya.

“Bosan di sini terus, Bu. Pengen main di luar sama temen-temen”

“Tunggulah bentar lagi, nanti Ibu beri tahu kapan kamu boleh main di luar. Bentar lagi, Le..” Ibu mencoba menenangkan.

“Kapan, Bu?”

“Tunggulah sampai bulan sembunyi, lalu Mariam memberi kita tanda”

“Mariam? Siapa dia?” Tanya anak kecil itu beruntun. Rasa ingin tahunya sangat besar hingga ia merapat ke badan ibunya.

“Mariam itu nenek yang tinggal di pondok bambu itu. Lima puluh meter dari sini” Tangannya sejenak berhenti menyisir. Diacungkannya telunjuk kurus itu ke arah pondok bambu yang samar tertutup kabut.

“Lalu, kenapa ia memberi tanda?”

Ibunya tersenyum, lalu mengusap kepala gundul anak kecilnya. “Mariam akan membakar sesuatu yang menimbulkan asap kecil nan harum. Itulah pertanda kita bisa keluar. Pesta. Ya, kau boleh bermain dengan teman-temanmu dan Ibu akan bertukar cerita dengan kerabat.”

“Pesta, Bu?” Mata anak kecil itu membesar. Di bayangannya pesta adalah tempat dimana makanan enak disajikan gratis.

Ibunya mengangguk. “Nanti coba kau rasakan yang berwarna merah. Rasanya manis dan harum. Atau yang kecil putih. Lezat dan harum.”

Mata anak itu kian membesar, sementara ia terus memperhatikan bulan. Berharap awan segera menyembunyikannya agar pesta lekas dimulai.

****

Tiga jam kemudian.

“Nah, sudah ada tanda-tanda kebaikan. Asap dari Mariam sudah tercium. Kau boleh bersiap keluar sekarang. Tunggu Ibu, jangan sendirian.”

Ibu menggandeng tangan anaknya,  lalu mengajaknya melayang rendah ke arah asap. Tampak di bawah, Nenek Mariam membakar sesuatu yang menimbulkan bau harum. Mulutnya komat-kamit seperti sedang mengunyah sesuatu. Tapi sepertinya ia sedang bersenandung. Meski terdengar lirih dari tempatku, tapi samar-samar bisa kudengar.

Lingsir wengi sepi durung bisa nendra
Kagoda miring wewayah ang rerindu ati
…….

Ibu terkikik. Kami pun melayang lebih cepat. Pesta dimulai!

Advertisements