image

Aku tak pernah membayangkan punya seorang tetangga baru orang Gipsy. Penelope Mariposa, namanya. Tapi dia meminta untuk dipanggil dengan Madam Rosa. Jika kalian pernah membaca majalah atau melihat penggambaran sosok Gipsy di televisi, aku sedang melihatnya dengan mataku sendiri. Pakaian yang dikenakannya unik. Baju dan rok panjangnya model tumpuk, banyak corak dan berwarna-warni. Belum lagi beberapa gelang di kedua tangan, dan anting besar selalu terpasang.

“Kamu harus melihat dandananku saat bekerja, Nona.” Madam Rosa tersenyum padaku saat aku berterus-terang terkesan mengenai penampilannya. Sore ini dia menyempatkan diri berkenalan dengan lingkungan barunya.

“Bekerja di mana, Madam?”

“Kau tahu pasar seni di tengah kota? Aku bekerja di sebuah cafe di sana. Datanglah kalau kau sempat.” Madam Rosa memberiku sebuah kartu nama berwarna marun. Tulisan emas yang terbaca di situ menjelaskan apa pekerjaannya.

“Madam peramal?”

Dia mengangguk pelan. Jika ada yang ingin kau tanyakan, bola kristal dan kartu tarotku bisa memberitahumu.” Diteguknya teh wangi buatanku. Gelang di tangan kanannya gemericik saat ia mengangkat cangkir.

Aku tersenyum gamang. Mungkin aku harus mencari tahu tentang Nigel.

****

Namanya Nigel. Umurnya lima tahun lebih tua dariku. Kulitnya coklat khas pria Latin. Aku mengenalnya saat aku sedang mengunjungi perpustakaan kota bersama teman.  Kebetulan di cafe samping perpustakaan itu sedang ada bedah buku, dan Nigel menjadi moderator di sana. Setelah mendapatkan berapa buku untuk dipinjam, kami memutuskan untuk melihat sebentar acara di cafe itu.

“Yuk, Di. Nengok bentar lah. Kayaknya buku yang sedang dibedah keren tuh.”

“Aduuhh, mending langsung pulang aja deh. Capek nih, Sin” rengekku. Sinta tetap menarik tanganku, membuat badanku terpaksa mengikuti ke mana arah langkahnya.

Dua bulan setelah itu, aku dan Nigel sudah akrab. Dia sering tiba-tiba datang ke kos dengan membawa arumanis berwarna kuning kesukaanku.

“Kenapa kau suka yang warna kuning dari pada warna merah muda yang lebih umum?” Pertanyaan itu pernah muncul dari mulut tipisnya ketika kami jalan sore ke pasar malam.

“Kuning itu ceria. Dan aku ngga suka sesuatu yang udah biasa.”

Semakin aku mengenalnya, benih-benih rasa sayang tumbuh layaknya lumut di tembok lembab. Aku belum terlalu mengenal latar belakangnya, tapi aku sudah membiarkan Nigel menggenggam tanganku saat kami nonton festival tari di suatu sore. Atau juga membiarkan ia mendaratkan ciumannya tepat di pipiku yang langsung berubah warnanya menjadi semerah tomat. Bodoh? Mungkin. Tapi bukankah manusia cenderung menjadi orang bodoh saat dijajah cinta?

Hari ini, lima hari sudah Nigel tak bisa ditemui. Jangankan melihat wujudnya. Mengetahui kabarnya pun sangat susah. Dia bagaikan lenyap ditelan makhluk besar berwarna hijau yang tinggal di dasar bumi. Aku coba datangi tempat di mana ia bekerja. Kata salah seorang di sana, Nigel pulang ke Granada, Spanyol. Aneh menurutku, karena ia tak ada rencana pulang sampai setidakya tengah tahun depan. Atau ada sesuatu hal mendadak yang mengharuskannya segera terbang ke negaranya? Tapi kenapa tak ada kabar buatku? Pikiranku kalut.

***

Kuperlambat langkahku begitu sampai di depan jalan Akasia. Tak sulit untuk menemukan di mana letak cafe tempat Madam Rosa bekerja. Cafe dengan nuansa gipsy itu tampak menyolok diantara bangunan di sampingnya. Kulangkahkan kaki masuk cafe itu, lalu menanyakan di mana bisa kutemui Madam Rosa pada pelayan yang menyambutku.

“Maaf, Nona. Sudah ada janji dengan Madam?”

Aku menggeleng pelan. “Bilang saja ada Diandra di sini. Madam tau saya..” aku tersenyum, mencoba meyakinkan.

Pelayan itu mengangguk, mempersilahkanku duduk dan melesat masuk ke dalam ruangan bertirai ungu penuh manik. Sementara aku menunggu kabar, kulihat sekeliling cafe. Sangat menarik. Nuansa warna ungu, marun dan berbagai corak flora sangat kental menghias interior cafe ini. Ditambah warna emas di bagian kusen, tiang dan ornamen bebatuan yang menambah kesan mewah sekaligus misterius. Aku berdecak kagum. Serasa di bagian set film, nih.

“Nona Diandra, silakan masuk ke ruangan Madam.” Seorang pelayan lain mempersilahkanku masuk setelah sepasang kekasih selesai menemui Madam.

“Terima kasih, Mas……Da…nu..” kueja nama yang melekat di dada kanannya. Ia tersenyum seraya mengayunkan tangan kanannya ke arah tirai ungu.

“Hai, Madam. Akhirnya aku mampir juga.” seruku setelah bertemu dengannya. Ia tergelak. Gelang beraneka macam itu berbunyi saat ia membereskan kartu tarotnya.

“Duduklah, Sayang. Buat dirimu nyaman.”

Aku duduk di bantal hijau berumbai yang ada di depan meja bola kristal, sementara Madam Rosa ada di seberang meja.

“Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” tanyanya tiba-tiba. Aku kaget, tapi kucoba untuk tetap bersikap biasa. Sepertinya percuma aku bohong padanya, toh dia bisa tahu dari gelagatku. Atau dari bola kristalnya?

Aku mengeluarkan potongan kertas lusuh dari dompetku, lalu kuberikan padanya ragu-ragu.

“Apa itu? Tidakkah kau ingin kabar yang diberikan bola kristal atau kartuku?”

Aku menggeleng. “Bukannya aku tak percaya dengan bola kristal atau kartu tarot, Madam. Aku hanya ingin tau dari apa yang pernah ia berikan.”

“Ini potongan surat?” Madam Rosa meyakinkan keraguannya.

“Iya, Madam. Itu potongan surat. Aku robek bagian tanda tangannya. Madam pernah cerita, bisa membaca karakter dari situ.”

“Dia kekasihmu?” Madam Rosa bertanya dengan posisi kepala masih setengah menunduk. Matanya yang tegas oleh eyeliner tebal terlihat lebih tajam.

Aku menjawab tanpa suara. Entah kenapa, aku seperti merasa bodoh dengan pertanyaan itu.

“Dia pergi meninggalkanmu tanpa kabar?”

“Iya…” Suaraku tercekat.

“Percayalah padaku, Sayang. He’s not a good man.

“Madam yakin itu? Tapi….tapi dia sangat baik..” Aku masih berusaha membela Nigel.

“Sangat yakin, Sayang. Sangat.” Wajahnya mengangguk-angguk meyakinkanku. “Tunggu sebentar..” Madam beranjak dari tempat duduknya, mengambil tas tangan motif bunga tropis. Dibukanya pelan, lalu tangannya mengaduk isi tas. Bunyi gemerincing gelang terdengar lebih jelas.

“Ini.” katanya sambil memberiku sebuah foto pasangan. “Pria yang menandatangani surat itu adalah suamiku. Aku tahu sekali, ia bukan orang baik”

Aku limbung. Suara Madam Rosa menggema di dalam kepala. Lalu aku melihat ruangan ini berputar. Semakin cepat. Cepat. Lalu gelap seketika.

Dikembangkan dari:
@fiksiminiRT @sibangor: PEMBACA TANDA TANGAN – “Madam yakin, calon suamiku bukan pria baik?” | “Jelas. Ini paraf suamiku.”

Advertisements