Beberapa hari yang lalu, saya sempat iseng memberikan pertanyaan melalui #SurveyPagi di Twitter. Pertanyaannya simple aja,

“Lagu apa yang membuat kalian galau akhir-akhir ini?”

Banyak sekali yang memberikan respon atas pertanyaan itu, dan jawabannya pun beragam. Mulai dari Someone Like You milik Adele yang sedang populer sebagai lagu galau, Lonely dari 2NE1, Berhenti Di Kamu milik Anji dan masih banyak lainnya. Menarik.

Kenapa saya iseng bertanya sepeti itu, lebih kepada ‘fenomena’ kata galau itu sendiri. Sekarang ini, kita menulis sajak atau puisi di twitter, status facebook atau BBM bisa langsung dianggap galau. “Lo lagi galau ya?” Galau sering dihubungkan dengan keadaan sedih, mellow, mendayu-dayu dan ‘lemah’. Lalu, apa sih sebenarnya definisi galau itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Galau adalah: ga·lau a, ber·ga·lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran); ke·ga·lau·an n sifat (keadaan hal) galau.

Menyangkut survey yang saya lakukan beberapa hari yang lalu, saya berfikir apakah anak muda generasi sekarang adalah generasi galau? Ada lagu dengan lirik ‘jleb‘ macam Someone Like You atau Jar of hearts bisa langsung terbawa suasana, atau teringat hal-hal yang membuat sedih (putus cinta, ditinggal kekasih, LDR, ditikung –haiyah!). Kalau kita bandingkan dengan generasi dua dekade lalu, sebenarnya lagu-lagu di zaman ini tak ada apa-apanya. Bayangkan, di dekade 80-an dan awal 90-an, industri musik di Indonesia dipenuhi oleh lagu-lagu pop cengeng. Tahu kan lagu Gelas-gelas Kaca milik Betharia Sonata, atau lagu Maria dari Julius Sitanggang yang penuh air mata mulai dari lirik lagu dan video klipnya (kalau belum tahu lagu-lagu itu, googling aja. Penulis pun musti melakukannya :p). Nah, setahu saya, generasi saat itu tak mudah galau meskipun dijejali oleh lagu-lagu cengeng. Lalu, apa yang terjadi pada generasi kita itu salah gue, salah temen-temen gue?? –PLAKK!!

Perbedaan generasi dekade dulu dan sekarang adalah soal kebebasan berekspresi. Anak muda zaman sekarang sangat ekspresif. Dikit-dikit ‘curhat’ lewat status BBM, dikit-dikit curcol lewat Twitter. Tak ada yang salah, toh media untuk berekspresi sekarang ini sangat banyak dan mudah. Berita bagusnya adalah, banyak dari mereka yang ekspresif dalam menunjukkan perasaan (terutama sedih) bisa menjadi generasi muda yang kreatif. Saya membuktikan dari teman-teman saya. Mereka membuat blog yang berisi sajak-sajak keren, tulisan-tulisan yang berasal dari hati dan menciptakan lagu. Ya! Ketika saya tanyakan pada mereka, beberapa menjawab sumber cerita, ide dan produktivitas itu paling besar dipengaruhi saat sedang galau. See?

Jadi, tak perlu lah merasa kecil hati kalau kita ada dalam sebutan generasi galau. Selama kita bisa menyalurkan kegalauan itu untuk hal-hal yang positif, tak pernah ada yang salah dari keadaan itu.  Jadi, galau? kenapa tidak??! :p

 

 

ps : tulisan ini ditulis saat penulis tidak sedang galau, tapi sedang ingin galau. Hehe..

 

 

 

 

 

Advertisements