Hari ini, status BBM, facebook, twitter dan jejaring sosial lainnya ramai merayakan Hari Ibu. Doa, pujian, testimoni dan lainnya membanjiri seolah-olah berlomba membuktikan bahwa si penulis benar-benar ingin mendedikasikan sayangnya kepada sosok ibu. Tapi, lama saya perhatikan, sepertinya ada yang kurang. Doanya kurang banyak? Puisinya kurang panjang? Bukan. Apa yang ditulis teman-teman di media digital itu masih tentang sosok ibu kandung, belum kepada sosok ibu umumnya. Sebenarnya wajar karena mereka merayakan dan berbicara tentang Hari Ibu secara pribadi.

Pagi ini, di kantor, seorang rekan kerja saya bercerita tentang sosok perempuan berusia 61 tahun bernama Mbak Sinem yang menjadi pengasuh di keluarganya. Awalnya, Mbak Sinem muda membantu pekerjaan di rumah ibu teman saya. Tapi setelah teman saya menikah dan memiliki anak, Mbak Sinem ‘dihibahkan’ kepadanya.

Mbak Sinem tinggal sendirian di Jogja. Dulu, saat dia muda dan masih bekerja sebagai pelayan di rumah makan di Kalimantan, dia sempat mengalami pemerkosaan hingga hamil. Keluarga –juga orangtuanya malu dan meminta Mbak Sinem pergi dari rumah. Ia menjadi orang tua tunggal hingga anaknya berusia 2 tahun, karena anaknya meninggal di usia itu. Hingga usia menjelang senja, Mbak Sinem memutuskan untuk tidak menikah dan mengabdikan kepada keluarga teman saya.

Mendengar cerita itu, saya jadi terharu. Di dalam hatinya, Mbak Sinem pasti butuh sekali perhatian dan kasih sayang orang-orang terdekatnya. Ia tentu sudah memaafkan semua yang telah menyakitinya –termasuk ibu kandungnya yang tak mau mengakuinya karena kehamilan di luar nikah. Tapi apa yang dilakukan Mbak Sinem saat Ibunya sakit adalah bentuk pengabdian seorang anak. Meskipun hanya airmata yang berbicara, Mbak Sinem tahu ibunya telah menyesal.

Dari sini kita belajar, bahwa kita yang masih diberikan keluarga utuh, kasih sayang penuh dari orang-orang terdekat, tak ada salahnya berbagi perhatian dan sayang kepada orang-orang yang tak seberuntung kita. Mungkin kepada tukang sapu jalan yang kita temui, sopir angkot yang kita tumpangi, dan lainnya. Tak perlu dalam bentuk verbal, dengan menghormati dan berempati saja itu sudah cukup.

Selamat Hari Ibu untuk semua wanita hebat!

Advertisements