Hujan sudah tiga jam turun dengan derasnya, dan belum ada tanda-tanda bakal reda dalam waktu dekat. Aku melirik jam di dekat jendela. Sudah pukul delapan malam lebih empat puluh menit. Sepertinya Ibu akan terlambat pulang lagi. Pekerjaannya sebagai penjaga toko di pasar memang menuntutnya untuk pulang malam. Biasanya selepas toko tutup jam sembilan, Ibu masih harus beberes sebentar, baru kemudian pamit pulang dengan sepeda kumbangnya. Sebenarnya jarak toko dengan rumah kami tak terlampau jauh, hanya sepuluh kilometer saja. Tapi jika hujan deras begini aku jadi tak tega jika Ibu harus pulang. Apalagi mantel hujan Ibu hanya terbuat dari plastik yang diberi lubang tengahnya, alih-alih untuk bagian kepala. Lalu Ibu biasa memakai tas kresek hitam untuk melindungi kepalanya. Pernah aku tanya kenapa tak membeli mantel hujan yang dijual di toko. Ibu hanya menjawab pendek, “Harganya 40 ribu. Terlalu mahal.” Aku hanya bisa diam. Kami memang miskin. Aku hanya tinggal berdua dengan Ibu di rumah petak berlantai semen ini. Bapak sudah meninggal karena sakit empat tahun lalu. Satu-satunya kakak perempuanku memilih meninggalkan kami untuk menikah dengan juragan babi, berpindah agama dan pergi tanpa pernah datang lagi. Kejadian itu enam bulan setelah Bapak meninggal. Awalnya Ibu sedih. Tapi tak berlangsung lama. Ibu bilang, kakakku sudah dewasa jadi bisa jaga diri.

“Ndak apa-apa Mbakmu ndak pulang. Dia sudah bahagia. Sekarang, kita ciptakan kebahagiaan buat kita sendiri ya.” Ibu tersenyum. Aku memeluknya. Erat sekali.

Kudekap bantal pemberian Ibu. Saat aku mencemaskan keadaan Ibu seperti saat ini, mendekap bantal yang kuyakini sebagai Bantal Kebahagiaan membuatku sedikit lebih tenang. Bantal ini punya banyak cerita di dalamnya. Ibu yang mengenalkannya padaku.

***

Suatu sore saat Ibu libur bekerja dan kami sedang mendengarkan sandiwara radio kesukaan kami dari radio butut peninggalan kakek, tiba-tiba Ibu memanggilku.

“Nak, sini. Ibu punya sesuatu buatmu. Ibu buat saat senggang sambil jaga toko kemarin. Nih..” Ibu menyerahkan bantal bersarung beludru berwarna magenta kepadaku. Ada aplikasi jahitan serupa ibu dan anak lelaki di tengahnya. Manis. “Bantal, Bu? Kenapa bantal?” Aku tersenyum seraya memeluk bantal itu. Isinya yang tak begitu penuh membuat bantal itu terkesan lembek. Lalu Ibu mulai bercerita mengenai bantal itu. Kata Ibu, Itu bantal kebahagiaan. Saat ini memang isinya hanya kapas, tapi nantinya aku diminta untuk mengisinya dengan kain polos warna-warni yang telah ditulisi dengan kebahagiaan yang aku rasakan.

“Kumpulkan kebahagiaanmu di sini, Nak. Nanti saat kau merasa sedih, kau bisa peluk bantal ini. Kebahagiaan yang telah kau kumpulkan akan menyerap kesedihanmu.”

“Kalau aku kangen Bapak, Bu? Atau pas pingin ketemu Mbak Erna?”

Ibu terdiam sejenak, lalu menjawab sambil mengusap rambutku. “Kamu harus kumpulkan cerita bahagiamu bareng Bapak dan Mbak Erna, lalu simpanlah di situ. Saat rindu mereka, ambil kain itu lalu bacalah lagi.”

Aku tersenyum lebar, tak sabar untuk segera menuliskan kebahagiaanku.

***

Aku mengusap-usap mata, ternyata aku tertidur saat menunggu Ibu. Bantal beludru magenta masih ada di pangkuanku. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam kurang lima menit. Kulihat sekeliling, tak kutemukan Ibu di setiap bagian kecil rumah ini. Aku mulai cemas. Ingin rasanya menghubungi Cik Meimei untuk tahu kabar Ibu, tapi apa daya kami tak punya alat komunikasi. Menyusul ke toko sekarang juga tak berani. Selain sudah terlalu larut, satu-satunya kendaraan di rumah ini dipakai Ibu bekerja. Kubenamkan kepala ke bantal di pangkuanku sambil kupanjatkan doa. Tuhan, lindungi Ibuku. Tak henti-hentinya aku memohon hingga akhirnya aku kelelahan dan tertidur.

Tok..tok..tok..

Pintu depan terdengar diketuk seseorang. Aku bergegas membuka pintu. Kulihat Cik Meimei ada di halaman bersama Koh Ahong dan dan seorang pemuda yang sedang memapah Ibu.

“Ibuuuu… Ibu kenapa, Cik?” aku menghambur keluar dan memeluk Ibu. “Mari masuk, semua. Saya bantu memapah Ibu..”

Koh Ahong menceritakan perihal sakit Ibu yang mendadak. Katanya, Ibu memang sudah terlihat pucat tapi tak mau beristirahat saat Cik Meimei memintanya. Akhirnya Ibu jatuh pingsan sesaat setelah keluar toko, saat hendak pulang. Aku sedih sekali mendengarnya. Mungkin Ibu memang sudah lama sakit, tapi selalu mengabaikan kesehatannya. Aku beranjak ke lemari satu-satunya di rumah ini, lalu membukanya. Kuambil celengan berbentuk ayam jago yang sudah dua tahun ini rajin kuisi. Niat awalnya adalah untuk menambah biaya mendaftar SMA tahun depan. Tapi buatku, kesehatan Ibu saat ini lebih penting.

“Koh, ini ada sedikit uang. Bisakah Koh Ahong dan Cik Meimei membantu saya mencarikan dokter untuk ibu?” mulutku bergetar saat menyerahkan celengan itu pada mereka. tekadku sudah bulat.  Ibu harus sembuh. Harus!

***

Dua hari Ibu harus beristirahat di rumah. Selama itu pula aku meminta izin untuk tidak masuk sekolah. Aku tak perlu takut ketinggalan pelajaran karena Laras dan Brata selalu membawakan catatan sekolahnya saat pulang sekolah ke rumahku. Aku bisa menyalin dan membacanya sambil menjaga Ibu. Kemarin dokter mengatakan kalau vertigo yang diderita Ibu kambuh. Ditambah pula tensi darah Ibu terlalu rendah. Aku hanya mengangguk-angguk, walaupun tak begitu mengerti apa yang dikatakan dokter itu.

Sambil menunggu air yang kumasak mendidih, aku berjaga di samping ranjang Ibu. Ia sedang tertidur. Kuletakkan bantal beludru magenta itu di sisi kirinya, dekat dengan punggung tangannya.

“Ibu, aku sudah mengumpulkan banyak kebahagiaan di bantal itu. Selama ini, aku selalu bisa tersenyum saat memeluknya. Peluklah bantal itu Bu, kebahagiaan di dalamnya akan membantu menyembuhkan.” Aku berbisik.

Entah mengapa, aku seperti melihat Ibu tersenyum saat itu.

Advertisements